
Rafan, Rania dan Dewi masih berkeliling mencari keberadaan Erli dan beberapa staf rumah sakit juga ikut mencari istrinya, tetapi tidak ada satu orang pun yang melihat Erli di manapun. Kamera pengawas juga tidak menunjukkan Erli keluar dari rumah sakit tersebut.
Rasa was-was dan cemas pun langsung merayap ke hati Rafan, sumi Erli terebut segera mengambil langkah cepat menuju kantor direktur utama rumah sakit Pelita Bunda. Sesampainya di sana Rafan langsung melontarkan pertanyaan kepada wakil direktur, dokter dan perawat yang tengah melaksanakan rapat tentang hilangnya pasien mereka.
"Mana tanggung jawab kalian semua?" tanya Rafan dengan mata yang melotot.
Pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dan itu membuat Rafan semakin putus asa. Amarah yang berkobar membuat pria itu tidak bisa berpikir jernih. Alhasil dia mengamuk, melempar berbagian bingkai foto dan vas bunga yang tertata rapi di meja kerja pemimpin rumah sakit Pelita Bunda.
"Kalian harus bertanggung jawab atas semua ini!" tunjuk Rafan penuh amarah, "jika istri dan anakku tidak ditemukan malam ini juga ... aku pastikan hidup kalian tidak akan tenang!" ancam Rafan sembari membanting pintu saat keluar dari ruangan tersebut.
Dewi yang menunggu keponakannya di luar ruangan begitu kaget dengan suara pintu yang terbanting.
Selepas kepergian Rafan wakil direktur menekankan titahnya kepada semua staf yang berkumpul di ruangan itu.
"Jangan sampai kasus ini didengar oleh media!"
Semua dokter dan perawat yang bertugas pada saat itu hanya mengangguk mengerti.
Di luar sana Dewi menenangkan sang kepokan agar tidak terbawa emosi, "Kamu yang sabar! Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan," kata Dewi menasihati keponakan laki-lakinya.
"Bagaimana bisa sabar? Aku tidak mengetahui keberadaan istri dan juga anakku," kata Rafan, kedua tangannya menjambak rambutnya dengan kasar.
Rania terbengong dengan satu tangan menyanggah dagunya, gadis berambut sebahu tersebut memikirkan sesuatu hal dan seakan mengerti sesuatu dia berbisik pelan di telinga Rafan.
"Mas tidak mencurigai seseorang?" Pertanyaan Rania membuat Rafan mengerutkan keningnya.
Rafan dan Rania saling menatap satu sama lain, tatapan tajam mereka mengandung arti yan Dewi tidak mengeti.
__ADS_1
"Kalian berdua kenapa? Jangan nakut-nakutin, tante!" ujar Dewi sambil mengelus tengkuk belakangnya.
"Tante, tadi udah telepon Mas Galang 'kan?" Rania bertanya seraya memasukkan ponselnya di saku celana.
"Hmm, sudah. Dia bilang akan sampai dalam waktu 15 menitan," jelas Dewi.
"Tante ke toilet sebentar, ya!" pamit Dewi sembari mengarahkan jarinya ke suatu arah.
Begitu Dewi pergi dari sana, Rafan menanyakan hal yang Rania pendam sejak tadi.
"Apa yang hendak kamu bicarakan tadi?"
"Apa mungkin ini ulah orang itu? Waktu lalu Rania sering lihat mobil orang itu di depan rumah," tuturnya memberitahu sang kakak.
Rafan hanya diam tidak merespon dengan baik ucapan adik perempuannya dan bahkan dia meninggalkan Rania yang berdiri di depan kamar Erli.
Kepalan tangan yang mengeras, serta api kemarahan yang membara tercetak jelas di matanya.
"Mas, mau ke mana?" pekik Rania dengan langkah kaki membuntuti Rafan dari belakang.
"Jika Galang datang, suruh menemui-ku di tempat biasa!" kata Rafan tanpa menolehkan kepalanya kearah Rania.
***
Di suatu tempat yang berjarak ratusan kilometer dari rumah sakit Pelita Bunda. Kesadaran Erli berangsur-angsur mulai kembali, dia mengeluh pelan saat merasakan pusing menghantam kepalanya.,
"Apa yang terjadi kepadaku?"
__ADS_1
Kelopak mata istri Rafan tersebut bergerak lambat dan kini dia mengerjapkan matanya. Netra ibu muda tersebut mengedar mengenali ruangan.
"Di man aku? tanyanya pada dirinya sendiri.
Di sudut ruangan yang gelap ada seorang laki-laki berkaca mata kotak dnegan prem tipis yang menambah ke-sangaran wajah pria tersebut.
"Kau berada di rumahku," katanya kalem sambil mengusap rambut cepaknya.
Erli menatap wajah pria itu dengan tatapan takut, tetapi dia mencoba menutupi ketakutannya dengan menegakkan tubuh serta membulatkan matanya.
Pria itu menarik kursi dan mendudukkan dirinya dekat dengan ranjang tempat tidur Erli, dia menghela napas kasarnya seraya menundukkan kepalanya.
"Anda siapa? Dan ... kenapa Anda membawaku kemari?" Menatap intens pria yang berdiri tidak jauh darinya.
Pria itu menenggak minumannya dengan cepat dan menjawab pertanyaan Erli.
"Kau berada di sini karena anak ini!" Wajah datar serta sorot mata yang tajam membuat ruangan serasa dingin dan mencekam.
"Apa maksud ucapan Anda? Saya tidak mengerti!" sergah Erli seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang yang cukup lebar.
Belum sempat pria tua itu menjawab pertanyaannya, Erli menyambar secepat kilat, "Apa ini ada kaitannya dengan Xavier?"
Pria itu masih terdiam dengan gelas yang terus dia gerakan memutar.
"Tolong jawab!" desak Erli lirih.
Erli tidak menyukai keadaan hening di ruangan yang menurutnya menyeramkan, apalagi keberadaannya yang dia tidak tahu di mana. Istri Rafan tersebut kembali bersuara, kali ini dia berbicara lebih santai dari sebelumnya.
__ADS_1
"Saya mohon biarkan saya pergi dari sini, saya berjanji tidak akan melaporkan hal ini kepada pihak berwajib!" mohon Erli dengan kedua tangan yang menakup.