Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Tekad


__ADS_3

“Apa yang membuatmu datang mencariku?” tanya Erli lirih.


“Jangan banyak bicara! Beristirahatlah dengan tenang. sebentar lagi kita sampai di rumah sakit,” ucapnya kalem.


“Ehmm, sejak kapan kau memperhatikan kesehatanku? Oh ... kamu mau mencoba membunuh kami lagi?” cibir Erli dengan ketusnya.


Pria itu melirik tajam Erli dan dia kembali fokus mengendarai mobilnya. Tiba-tiba Erli mual dan memuntahkan semua makannya ke pangkuan pria yang tengah terfokus memperhatikan jalan.


Sontak Xavier memberhentikan laju mobilnya dan hal tersebut mengakibatkan kemacetan sementara. Pengguna jalan yang berada di belakang mobil Xavier seketika membunyikan klakson dengan kompak. Segera mantan pacar Erli melajukan mobilnya kembali, tangan kiri Xavier mengelap kedua pahanya dengan tisu.


“Maaf sengaja!” ucap Erli menyeringai.


“Jika kau mau pukul saja aku! Aku tidak akan melakukan apa pun terhadap ibu dari anakku,” ujar Xavier dengan bibir yang tersenyum tipis.


“Cih, najis! Anakku tidak menginginkan seorang ayah macam dirimu itu, Dan ingat ini! Aku sudah menikah, jadi kamu tidak berhak atas anak ini." Mata Erli melotot menatap Xavier.


“Ada angin apa kamu berperilaku baik seperti ini? Aku yakin ada sesuatu yang ingin kau lakukan.” Bibir Erli mengerut sesaat melontarkan pertanyaan, lebih tepatnya.


“Kamu benar. Aku ingin kamu menceraikan pria itu dan menikah denganku, jangan mengkhawatirkan masalah biaya perceraian!” ungkap Xavier seraya menyuguhkan senyuman.


“Apa katamu? Coba ulangi lagi!” pinta Erli dengan tangan yang menyibakkan rambutnya.


“Aku mau bertanggung jawab atas anak kita.” Xavier meraih tangan Erli dan dia mencoba menggenggam tangan wanita yang duduk berdampingan dengannya.


Erli tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan Xavier, netranya meneteskan air mata, tapi air mata itu bukan bentuk terharu atau sedih melainkan air yang keluar akibat terlalu bnyak tertawa.


Setelah puas tertawa Erli menarik tangannya dan dia meraih sandal yang dia kenakan. Erli melayangkan pukulan keras ke pipi Xavier menggunakan sandal tersebut, di tengah amarah Erli, Xavier menepikan mobilnya.


“Pukul 'lah aku sepuas hatimu! Setelah itu, kembalilah ke pelukanku tanpa ragu-ragu!” ucap Xavier penuh percaya diri.


“Mimpi jangan tinggi-tinggi! Aku buka Erli yang dulu, yang mudah kau bodohi.” Erli berkata dengan kedua alis yang terangkat, “aku sudah bersuami dan suamiku itu sangat baik tidak seperti dirimu. Kenapa juga kau repot-repot datang kemari?” timpal Erli.

__ADS_1


Xavier terdiam seribu bahasa, harga diri Xavier seakan tertampar oleh ucapan Erli. Pria berparas tampan itu menghela napas dan bersiap untuk meyakinkan mantan kekasihnya itu.


“Aku dalam masalah besar. Hanya engkau satu-satunya harapanku saat ini," ujarnya lembut.


"Aku datang ke sini untuk mengajakmu merajut kisah baru dan membesarkan anak kita bersama." Xavier tertunduk genggaman tangannya mengerat.


“Kamu pikir aku mau? Hmm ... alasan itu tidak akan mampu mengubah takdir dan keputusanku. Wal naudzubillah!" Erli mengetuk pelan kepalanya.


Xavier menatap sendu mantan kekasihnya itu dan dia memohon penuh dengan wajah yang memelas, Xavier melontarkan rayuan-rayuan untuk memikat hati Erli. Namun, rayuan itu tidak berguna sama sekali dan ucapan Xavier dianggap angin lalu oleh Erli.


“Simpan saja gombalan mu itu! Aku sudah terlalu muak melihat wajah dan tingkah mu ini, terlalu basi ditelinga ku.” Erli membuka pintu mobil dan keluar begitu saja dari mobil mewah Xavier.


Melihat Erli berlalu, segera dia mengikuti langkah mantan kekasihnya dan menggenggam erat pergelangan tangan Erli.


“Cukup Xavier jangan membuatku marah! Pergilah sejauh mungkin dan jangan ganggu hidupku lagi. Carilah kebahagiaanmu sendiri,” usir Erli dengan suara lantang.


"Aku doakan kau mendapat jodoh yang baik, bisa mengerti sifatmu." Netra Erli menelisik Xavier dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“Sudah aku bilang cukup! Aku tidak ingin berurusan denganmu. Lepaskan tanganku! Jika tidak, aku akan berteriak,” ancam Erli, netra wanita itu melotot saat menatap wajah Xavier.


“Berteriaklah! Tidak akan ada orang yang menolong mu.” Genggaman tangan Xavier semakin menguat membuat Erli meringis menahan sakit.


Erli menggigit bibir bawahnya seraya manggut-manggut, Erli menarik lengan bajunya sampai robek dan menampar kedua pipinya sendiri hingga memerah.


“Apa yang kau lakukan?” Xavier menatap Erli penuh penasaran.


Erli tersenyum jahat seraya menatap Xavier, Wanita itu pun bersiap berteriak. “Tolong ... ada yang mencoba melecehkan saya!”


“Jangan lakukan ini Erli! Nanti orang salah paham tentang kita,” protes Xavier, pria itu melirik ke sana kemari.


"Siapa yang peduli!"

__ADS_1


Terlihat beberapa warga berlari ke arah mereka, Xavier melepas genggaman tangannya. Segera Erli duduk di tanah dan merintih kesakitan seakan-akan Xavier telah melakukan tindak kekerasan terhadapnya.


“Mbak baik-baik saja?” tanya salah satu warga.


“P-pria ini mencoba ....” Erli meringkuk dan berpura-pura menangis.


Xavier yang panik langsung menyangkal ucapan Erli dengan santai, “Jangan percaya Pak! Dia ini istri saya. Dia suka sekali melakukan akting, maklumlah ... bawaan bayi!”


“Ah, kau ini alasan saja. Mana ada orang akting wajahnya merah kaya habis ditampar dan baju yang wanita ini pakai juga robek, jujur saja!” desak salah satu pria.


“Sudah Bang, jangan banyak bernego. Hajar saja dia!” seru pria di belakang sana.


“Erli bantu aku untuk menjelaskan masalah yang sesungguhnya!” Xavier menatap Erli seraya memohon.


“Sikat sampai habis saja, pria bajingan macam dia itu!” sahut pria lainnya.


Erli mendongakkan kepalanya, tatapan Erli yang menajam membuat Xavier menggeleng heran melihat perubahan Erli. Dulu dia dikenal sebagai bunga kampus yang lemah lembut, parasnya yang cantik berperilaku sopan dan selalu berbuat baik hampir tidak pernah dia berkata kasar.


Aku tidak menyangka kalau kamu berubah sedrastis ini. Apa yang membuatmu seperti ini Erli? Aku ingin menemui Erli yang dulu, yang selalu sopan dan tidak pernah mengecewakan siapapun.


Erli berdiri dibantu oleh salah satu warga dan dia meminta untuk melepaskan Xavier dengan alasan bahwa dia sudah memaafkannya, dia juga meminta untuk para masyarakat agar tidak melakukan kekerasan.


“Orang kayak dia harus diberi pelajaran!” ucap pemuda berambut cepak.


“Biarkan dia pergi Bang. Ampuni dan kasih kesempatan bagi orang jahat seperti dia, agar dia memiliki waktu untuk merenungi tindakannya.”


Erli mengedipkan sebelah matanya saat Xavier menatapnya sekilas, setelah kepergian mantan pacarnya, Erli meminjam ponsel dari salah satu orang yang menolongnya.


Nada tunggu terus terdengar. Namun, panggilannya tidak ada yang merespons sama sekali, Erli tersenyum sembari mengembalikan ponsel tersebut.


“Makasih Bang,” ucap Elli lembut.

__ADS_1


“Kenapa dia tidak mengangkat teleponku? Apa karen dia tidak mengenal nomor yang aku gunakan?" tanya Erli pada dirinya sendiri.


__ADS_2