
Perawat Perinatologi tersebut berhenti tepat dihadapan semua anggota keluarga dan tanpa basa-basi lagi beliau menyampaikan hal yang biasa digunakan tenaga kesehatan untuk menjawab pertanyaan kerabat pasien.
"Kami sedang berusaha semaksimal mungkin." Melangkahkan kaki dengan cepat meninggalkan keluarga Erli.
Rafan meremas rambutnya sambil mengomeli dirinya sendiri.
"Dasar bodoh! Kenapa kubiarkan dia keluar sendiri, argh ...." Mengerang dengan rahang yang ketat.
"Sabar, jangan menyalahkan diri sendiri. Lebih baik kita doakan keselamatan bayi dan istrimu!" tutur Dewi lembut, tangan kanannya mengelus punggung Rafan.
Raut kekhawatiran tercetak jelas di wajah Dewi, Rania dan Handoko. Terutama Rafan, dia sangat menyesal dengan keputusannya yang membiarkan Erli keluar dari kamar mandi. Nasi telah menjadi bubur, apa yang telah terjadi tidak bisa terulang lagi; pepatah yang pas untuk keadaan Rafan saat ini.
Tiga puluh menit ....
Empat puluh menit ....
Lima puluh menit kini bayi Erli telah lahir ke dunia fana, perlahan matanya terbuka. Namun, bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu tidak menangis bahkan Perawat Perinatologi sampai melakukan pukulan pelan di kakinya.
Namun, usahanya masih nihil. Melihat kondisi seperti itu dr. Jenny mengambil bayi Erli dan beliau melakukan intubasi dengan mengisap cairan dari mulut dan hidung bayi menggunakan pipa hisap kecil. Intubasi dilakukan untuk membuka kedua lubang hidung, memastikan bayi bisa bernapas.
Setelah dilakukan intubasi, bayi mungil itu akhirnya mengeluarkan suara tangisannya dengan sangat lantang, semua dokter dan perawat yang ada di dalam ruang operasi berucap syukur. Dr. Jenny menggendong bayi mungil itu ke luar hendak menuju ruang NICU, tetapi langkahnya terhenti karena melihat suami Erli tengah berdiri tegang.
Bukan Rafan saja yang tegang dan khawatir. Rania, Handoko dan juga Dewi, ketiga orang itu tiada henti merapatkan doa agar sang maha Pencipta memberi kemudahan operasi yang Erli lakukan saat ini.
Senyuman tersirat di bibir Rania, Dewi, Handoko dan juga Rafan—selaku ayah dari bayi itu. Walau dia bukan ayah kandungnya, Rafan sangat bahagia melihat wajah putranya yang begitu mirip dengannya.
"Tante, anakku sudah lahir," ucap Rafan penuh semangat.
Dewi mengangguk kecil melihat kebahagiaan yang tersirat di wajah keponakannya.
"Selamat ya, Sayang. Sekarang kamu jadi ayah," kata Dewi merangkul bahu lebar Rafan.
"Bapak Rafan Winasis!" panggil dr. Jenny.
__ADS_1
"Ya, saya, Dok." Rafan maju mendekatkan dirinya.
Dr. Jenny tersenyum dan menyerahkan bayi mungil itu pada Rafan, supaya dia bisa melakukan kewajiban pertamanya sebagai seorang ayah. Lantunan azan dikumandangkan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri sang bayi, selepas itu Rafan membacakan doa agar anaknya sukses dunia dan akhirat.
Rabii auzi'nii an asykuro ni'matakal-latii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shaalihan thardhaahu, wa ashlih lii fii dzurriyatii, inni tubtu ilaika wa innii minal muslimiin.
Rafan meniup 3 kali ubun-ubun bayi mungil tersebut. Setelah selesai Rafan memberikan bayinya kepada dr. Jenny, perlahan dokter cantik itu menggendongnya kembali dan dibawanya bayi itu ke ruang NICU. Sedangkan Erli dibawa keruang rawat inap yang tidak begitu jauh dari ruangan anaknya berada.
Semuanya mengikuti langkah perawat dan dokter spesialis yang mendorong brankar Erli, sesampainya di ruangan Rafan duduk di samping istrinya sambil mengelus punggung tangan Erli.
"Anak kita sudah lahir, Sayang." Tanpa tersadar air mata pria berkumis tipis tersebut menetes dan menitik punggung sang istri.
Rania dan Dewi terharu melihat Rafan sedang melow. Ya, selama ini mereka mengenal Rafan sebagai pria yang irit bicara. Namun, dia selalu bisa membuat suasana menjadi nyaman dalam ketenangan.
"Enggak nyangka bisa melihat Rafan meleyot kaya gitu," ujar Dewi memeluk keponakan perempuannya.
Rania mengangguk kecil, "Iya, biasanya Mas selalu menyuguhkan wajah datar. Namun, malam ini sisi lembut Mas tampak begitu menyentuh," ungkap Rania memalingkan pandangannya.
Handoko menggeleng, "Ibu-mu sedang ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal," jawab Handoko menutupi kebenaran.
Alis Rania menaut tatkala mendengar ucapan Handoko. "Bukannya butik ibu tutup seminggu ini! Kerjaan apa yang membuat ibu tidak memperdulikan Mbak Erli?"
Dewi mendorong pelan tubuh Rania sampai gadis itu terduduk di kursi tunggu depan kamar Erli dirawat.
"Tante mau cerita, tapi kamu jangan bilang sama Rafan. Janji!" Dewi menakupkan kedua tangannya disisi wajah keponakannya.
Rania pun mengangguk cepat dengan mata yang membulat sayu.
"Tadi, saat Tante mau ambil baju Erli. Ibu-mu tidak mau ikut dengan Tante dengan alasan kasihan sama Marlita yang jauh-jauh Dateng ke rumah dan ...." Ucapan Dewi menggantung melihat Rafan keluar dari kamar.
"Ada Fan," tanya Dewi buru-buru.
"Rafan mau beli susu buat baby A, tolong bantu Rafan jagain Erli!" pintanya sambil menutup pintu kamar.
__ADS_1
"Iya, sana pergi dan cepat kembali!" balas Dewi disertai kibasan tangan.
Tanpa berlama-lama lagi, Rafan pergi dengan senyuman yang terus merekah dari bibirnya yang pointy natural.
"Tunggu, Fan!" pekik Handoko yang berlari mengejar keponakan tersayangnya.
Segera Rafan menolehkan kepalanya kebelakang.
"Om ikut kamu. Suntuk Om lihat kecerewetan tantemu!" katanya terkekeh.
Selepas kepergian Rafan, Rania dan Dewi masuk ke dalam ruangan mereka membahas lagi perilaku Zulaika yang tampak aneh. Begitu Dewi selesai menceritakan kejadian tadi, kini giliran Rania yang bercerita soal pagi ini ketika ibunya mendorongnya sampai terjatuh dan dia juga dibentak cuma karena menanyakan tujuannya pergi.
"Mosok koyo kui ibumu? Masak kayak gitu ibumu?" decit Dewi keheranan.
"Tu 'kan Tante enggak percaya, tadi pagi Nia sangat kasihan sama Mbak Erli."
"Kenapa Erli?" sambar Dewi sebelum Rania menyelesaikan ceritanya.
Gadis berambut pirang itu menghela napas berat kala menjawab pertanyaan Dewi.
"Cepat katakan! Ada apa dengan Erli?" Matanya membulat menanyakan kejadian yang Erli alami pagi ini.
"Rania enggak habis pikir sama ibu, Tan. Tega-teganya ibu bilang kalau Mbak Erli sebagai benalu di rumah," sambung Rania dengan mata yang terarah ke Erli yang masih terbaring lemah.
"Ya Allah ... kesurupan apa ibumu itu?" desis Dewi dengan kepala yang menggeleng, "eh, saat Mbak Ika ngomong kayak gitu ... Erli dengar?" timpalnya penasaran.
Rania mengerucutkan bibirnya, "Sepertinya dengar Tante, orang wakt itu mbak ada di depan pintu."
Terus-terusan Dewi mengucap istighfar ketika membahas perubahan Zulaika selama dua hari ini, dan yang membuatnya semakin heran; kedekatan Marlita dengan kakak iparnya. Selama bertahun-tahun belum pernah Zulaika bersikap baik, jangan berbincang lembut sekedar menatap wajah Marlita saja dia enggan bahkan bisa dibilang Zulaika benci dengan Marlita.
"Apa mungkin dia diguna-guna, Nia?"
"Siapa yang diguna-guna?" Seketika mata Rania dan Dewi melotot melihat seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
__ADS_1