Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Sikap Yang Berbeda


__ADS_3

Bibirnya bisa tersenyum lebar. Namun, dalam hati kecilnya; Handoko mencaci dan memaki Erli—wanita yang telah membuatnya terluka.


“Jangan panggil aku Handoko Dwijaya jika tidak dapat membuatmu berlutut di kakiku!” gerutunya lirih.


Laki-laki mesum seperti Handoko tidak akan pernah menyerah dalam melakukan hal seperti itu, bahkan dia menghalalkan segala cara agar target yang dia inginkan bisa dia dapatkan. Tidak heran 'kan? Di luar sana banyak lelaki hidung belang yang mengatas namakan kebaikan untuk menjerat gadis-gadis muda dan bodohnya mereka terlena akan rayuan lelaki hidung belang.


***


Suasana hati Zulaika tadi memang kurang baik. Namun, setelah dia sampai di sebuah restoran mahal, di kawasan SCBD, Sudirman Central Business District, Jl. Jend. Sudirman.


Wanita paru baya itu turun dari taksi dan berdiri tepat di depan pintu masuk, Marlita yang telah menunggu sejak tadi kini menghampiri tamu istimewanya. Terlihat senyumannya yang menawan menyambut kedatangan Zulaika, dipeluknya ibu dari temannya itu.


Inilah yang didambakan Marlita, sikap hangat Zulaika. Namun, selama ini wanita paru baya tersebut selalu menyambut Marlita dengan senyuman masam.


Bahkan Zulaika selalu bersikap dingin dan tanpa basa-basi membuat Marlita muak, terlebih lagi ibu Rafan itu selalu menghalang-halangi langkah Marlita mendekati Rafan.


Kali ini sikap dingin Zulaika lenyap bak ditelan bumi. Langit biru tanpa debu merubah sikap Zulaika menjadi lemah lembut dan banyak menyuguhkan senyuman.


“Maafkan Lita, ya, Tan! Seharusnya Lita menjemput Tante. Namun, karena keadaan Lita terpaksa mengirim taksi ke rumah Tante,” ucap Marlita basa-basi.


“Enggak apa-apa, kamu jangan merasa tidak enak begitu!” jawab Zulaika seraya menatap wajah gadis yang kini duduk di hadapannya.


Marlita tersenyum seraya menggenggam tangan kiri Zulaika, obrolan dua orang tersebut terhenti kala waiters datang menghidangkan berbagai manakan best seller di restoran tersebut. Piring pertama yang waiters hidangkan adalah Prawn Tempura, Wonton Noodle Soup dan makanan lainnya.


Sarapan mewah itu berlalu tanpa ada obrolan apa pun, sesekali Marlita melihat wajah Zulaika dan terlihat lengkungan di bibirnya. Ketika menikmati suasana kedekatan mereka, tiba-tiba ponsel Marlita berdering.


“Maaf, Tante.”


Zulaika mengangguk dan mempersilahkan Marlita untuk membuka ponselnya.


Ingat pesanku! Jangan biarkan wanita itu beribadah, pesan singkat dari seseorang.


Siap, lo jangan khawatir! Semua terkendali. Marlita membalas pesan itu seraya tersenyum menatap Zulaika.


“Tante mau nambah?” tanya gadis itu sambil mencondongkan tubuhnya.


"Tidak, Tante sudah kenyang.” Zulaika menyesap minumannya.

__ADS_1


Selepas sarapan itu usai, Marlita mengantar Zulaika ke depan restoran.


“Terima kasih, sudah mau meluangkan waktu untuk Lita," ucap Marlita sambil menyodorkan paper bag berwarna cokelat.


“Ini apa?” Zulaika meneliti paper bag yang diberikan Marlita.


“Buat Rania dan istri Rafan, Tan.” Gadis itu tersenyum sambil menjawab pertanyaan Zulaika.


“Tida perlu Kaya gini, Sayang!”


“Enggak apa-apa. Ini tanda terima kasih Lita karena Tante sudah mau menemani Lita sarapan,” katanya lembut.


“Tante yang seharusnya berterima kasih. Sudah diajak makan di restoran sebagus ini,” tutur Zulaika dengan mata yang mengerling.


Teman sekaligus bos Rafan tersebut tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah mobil Zulaika yang kini telah melaju pelan.


“Kenapa tidak sejak dulu saja aku melakukan ini?” gumamnya lirih, “thank you Vin. Berkat lo, gue bisa merasakan kehangatan dari ibu Rafan,” sambung Marlita.


Baru saja melangkah masuk ke dalam restoran, entah dari mana munculnya ada seorang anak laki-laki yang memeluk pinggang Marlita tiba-tiba. Sontak gadis itu terkejut, tetapi keterkejutan Marlita berubah menjadi sebuah kebahagiaan.


“Cello ...,” pekik Marlita seraya memeluk keponakannya.


"No, I'm here alone. Where are papa and mama? Tidak, aku di sini sendirian. Di mana papa dan mama?” tanya Marlita pada keponakan satu-satunya.


Jari telunjuk anak lelaki tersebut mengacung kesudut ruangan. Segera Marlita melihat arah jari Cello, gadis bermata sipit tersebut tersenyum lebar melihat sang kakak ipar tengah hamil besar.


“Kenapa kalian tidak memberitahuku?” protes Marlita dengan tangan yang terlipat di depan dada.


“It's a surprise,” kata Margaret.


“Aku enggak suka!” jawab Marlita merajuk.


Cello—sang keponakan menarik dress tantenya.


“Why is Auntie angry? Mama didn't do anything wrong, kenapa Tante marah? Mama tidak melakukan kesalahan apa pun,” protes Cello dengan mata yang bergolak.


Marlita tertawa kecil melihat keponakannya marah, ekspresi wajah Cello yang lucu membuat tantenya gemas dan mencubit kedua pipinya yang tembam.

__ADS_1


“Koko mau menetap di Indonesia, lagi?” Marlita melirik sebentar lalu mengendong Cello.


“Enggak, aku hanya liburan sebentar. Memang kenapa Ta?”


“Nanyak aja, kalau kalian di sini ‘kan aku tidak kesepian lagi.” Marlita kembali mencium pipi Cello.


Sudah tiga tahun lamanya Arya pindah ke LA. Arya beserta istri dan anaknya menetap di sana, kepindahan mereka di karena kebodohan Arya yang menduakan cinta Margaret dan mengingkari janji suci yang telah dia ucapkan dulu.


Beruntungnya Margaret masih sabar dan mau menerima Arya kembali, oleh sebab itu dia menerima syarat yang diajukan sang istri untuk meninggalkan Indonesia.


“Bagaimana kabar Rafan, Ta?” tanya Arya santai.


“Ada angin apa Koko, tanya kabar Rafan?” Keningnya mengernyit kala menatap wajah Arya.


“Apa salahnya menanyakan kabar pria impianmu itu?” sahut Arya, “apa dia melakukan suatu hal yang menyakitkan?” sambung Arya seraya menatap tajam sang adik.


“Mana ada!” bantah Marlita, “Rafan tetaplah Rafan, dia selalu sopan dan baik hati. Kagak kaya Koko yang suka marah-marah!” lanjutnya dengan nada suara yang ketus.


“Stop ih! Baru saja bertemu sudah berantem aja. Apa tidak ada rasa rindu di hati kalian berdua?”


Belum selesai Margaret berkata, Marlita dan Arya sudah menyambar dengan ucapan yang sama persis.


“Rindulah!” Seketika kakak beradik tersebut saling menatap satu sama lain dan sedetik kemudian tiga orang dewa itu tertawa terbahak-bahak sampai-sampai seluru tamu memandangi mereka.


Sikap, sifat dan perilaku kakak beradik itu sama persis tidak sedikitpun yang berbeda, ibu dan ayah mereka sampai heran dengan kedua anaknya. Setiap hari selalu bertengkar dan merebutkan banyak hal yang tidak penting.


“Ta, bisa bantu Cici?”


“Apa Ci?” jawab Marlita cepat.


“Cici mau ke toilet, tapi perut Cici sedikit kram. Bisakah kamu membantu Cici?” pinta Margaret lembut.


Gadis bermata sipit itu beranjak dari tempat duduknya dan mendekati sang kakak ipar. Sesampainya mereka di toilet Margaret menatap Marlita dengan intens.


“Apa kamu bahagia menjalani ini semua?” Mantap sayu mata Marlita.


“Maksud Cici?” tanya Marlita bingung.

__ADS_1


Margaret menghela napas, “Coba kamu pikir baik-baik, tindakan yang kamu lakukan!” kata Margaret menasihati adik iparnya.


“Jangan berbelit-belit Ci, langsung saja pada intinya!” ucap Marlita dengan mata yang menyipit.


__ADS_2