
Erli masih berkutat dengan baju suaminya, walau ada seorang pembantu dia tidak mau melempar semua kewajibannya. Dia akan mengerjakan tugas yang sekiranya tidak membuatnya sangat lelah, misalnya sekarang dia sedang menyetrika baju kerja Rafan dan mempersiapkan dua setel baju untuk di pakai Rafan besok.
"Mbak ... di depan ada kurir nyariin Mbak," pekik Rania dari ruang tamu.
"Suruh tunggu sebentar, dek!" sahut Erli seraya menarik kabel setrikaan.
Erli menggantung dua kemeja dan berjalan menuju pintu utama terlihat ada dua kurir yang berdiri menunggunya.
"Nyonya Erli?" tanya salah satu kurir yang sedang membawa sebuket bunga Anyelir.
Erli mengangguk sambil tersenyum tipis. Kurir tersebut langsung menyodorkan surat terima yang harus ditanda tangani oleh istri Rafan. Selepas tanda tangan,sang kurir menyerahkan buket bunga Anyelir kepada Erli.
"Ya Allah cantiknya," ucap Erli sambil tersenyum lebar melihat bunga Anyelir yang ada di tangan.
"Mas-nya nyari saya juga?" tanya Erli seraya melempar senyuman tipis
"Iya, Nyonya. Kami dari Baby shop love mengantarkan berbagai orderan untuk Nyonya," ujar kurir tersebut sambil memperlihatkan rekannya membawa beberapa karton yang berisikan perlengkapan bayi.
"Loh, kok banyak sekali, Mas?" Netranya menatap satu persatu kartun dari yang berukuran sedang sampai yang paling besar.
"Tugas kami hanya mengantarkan," jawab kurir yang membawa sebuah buku besar di tangannya.
Erly sangat terkejut melihat begitu banyak barang yang datang hari ini, alisnya menaut kala melihat nama pengirim yang ada di paket besar yang terletak di depannya 'Ayah anak-anak'.
Kenapa Mas Rafan tidak memberitahuku tentang ini? Si dedek 'kan lahirnya masih dua bulan lagi, apa tidak masalah membeli perlengkapan terlebih dahulu? gumam Erli dalam hatinya.
"Kami permisi Nyonya," pamitnya seraya mengangguk pelan.
"Terima kasih!" ucap Erli dengan seulas senyuman.
Masih syok dengan paket yang datang Erli dikejutkan oleh sang tante rempong.
"Woah ... banyak sekali belanjaan kamu, Er?" ucapnya lantang.
"Bukan Erli yang beli, Tan," sahut Erli terkesiap.
Dewi mengernyitkan keningnya, dia tidak percaya dengan ucapan mantu keponakannya.
__ADS_1
"bener, sampeyan ora tuku? Banjur sapa? benar bukan kamu yang beli? Terus siapa?" Dewi menatap penuh penasaran mantu keponakannya.
Belum sempat Erli menjawab, Zulaika datang menyambar ucapan Dewi yang terdengar menyindir.
"Jangan suka bohong! Kasihan sekali anakku, uangnya dihambur-hamburkan begini!" cibir Zulaika dengan tatapan tajam yang membunuh.
Tatapan Zulaika sangat mengintimidasi Erli. Mantunya itu sama sekali tidak tahu menahu soal paket itu dan jika dihitung-hitung belanjaan ini mencapai puluhan juta karena baby shop love adalah toko perlengkapan bayi yang sangat terkenal kualitasnya.
"Mana mungkin dia tahu Mbak, lihat tu nama pengirimnya! Ayah anak-anak," tutur Dewi sambil menggigit apel.
"Itu bisa diatur, Wi!" ketus Zulaika tidak mau kalah, "besok kalau anak angkatmu menikah, suruh hati-hati kalau kasih uang ke istrinya!" timpal Zulaika.
Perkataan Zulaika sore ini menambah sayatan yang dibuat tadi pagi. Dewi mendengar perkataan kakak iparnya hanya erdiam sejenak lalu menatap Erli dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Kamu pesan sendiri, ya? Enggak apa-apa 'kan itu hak kamu membelanjakan uang suami," tutur Dewi meninggalkan Erli di depan rumah.
Tanpa sadar air mata Erli berlinang begitu saja dari pelupuk matanya, sejak pagi ibu mertuanya sudah menyinggung perasaannya.
Ada apa dengan ibu? Sikap dan perilaku beliau sangat berbeda setelah menghilang meninggalkanku di klinik, tanya Erli dalam hati.
Secepat kilat Erli mengusap kedua pipinya yang basah.
"Woah ... bungnya cantik sekali Mbak." Rania menghirup harum bunga Anyelir, "uuh, romantisnya Mas Rafan. Semoga Rania memiliki suami kaya Mas," katanya penuh semangat.
"Aamiin ...." Erli mengelus kepala adik iparnya penuh kasih sayang.
Mbok Sami dan Rania membawa semua paket ke dalam kamar dan diletakan dekat dengan meja rias. Sebagian ditaruh dalam ruang ganti, begitu selesai Mbok Sami dan Rania meninggalkan Erli yang terduduk di pinggir kasur.
Tatapan wanita hamil tersebut masih terfokus ke arah karton besar, entah barang apa saja yang ada di dalam sana yang jelas kedatangan semua barang-barang ini menambah ketidak sukaan Zulaika terhadapnya. Lamunan Erli buyar kala ponselnya berdering, Erli bergeser meraih ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.
Kening Erli mengerut melihat nomer yang tidak dia kenal menelpon. Sekali, dua kali dan ketiga kalinya nomor itu terus menelepon dan akhirnya Erli mengangkat panggilan telepon, yang entah dari siapa.
"Halo, selamat sore. Bisa bicara dengan Nyonya Erliana." Suara di seberang telepon.
..."Iya, saya sendiri." Alis Erli tertaut mendapat telepon dari seorang wanita....
"Kami dari Hermes Senayan City memberitahukan bahwa orderan Nyonya sudah siap antar," kata wanita diujung telepon.
__ADS_1
..."Saya tidak pernah order tas branded. Mungkin Kakak salah menghubungi orang," ucapnya terkekeh....
"Tapi di sini tertera nama serta alamat Nyonya," tuturnya kekeh.
^^^"Saya benar-benar tidak order apa-apa, Kak. Coba Kakak cek ulang nama dan alamat tersebut!" pungkas Erli dengan tegas.^^^
"Baik, kami akan mengkonfirmasikan ulang nama serta alamat yang kami terima," ucapnya lembut.
Erli mengakhiri sambungan telepon. "Setelah ini ada kejutan apa lagi? Sebaiknya aku telepon Mas Rafan, agar dia menghentikan segala hal yang tidak perlu dia lakukan."
Jari Erli menggeser semua nama kontak sampai menemukan nama suaminya dan ketika dia menelpon, Rafan masuk ke dalam dengan wajah lelahnya. Netra suaminya tertuju ke tumpukan karton yang begitu banyak.
"Tumben, Mas pulang jam segini?" tanya Erli heran seraya mematikan ponselnya.
"Aku capek," jawab Rafan datar.
"Tabungan Mas, banyak ya?" Erli kembali melontarkan pertanyaan lagi.
Sontak Rafan menoleh dan menatap wajah istrinya, dengan bingungnya Rafan melontarkan pertanyaan.
"Apa maksudmu?"
Erli mengangkat kedua alisnya menunjukan tumpukan barang dan sebuket bunga Anyelir yang ada di meja rias.
"Apa?" kata Rafan bingung.
"Aku tidak suka, Mas menghamburkan uang kaya gini!" protes Erli sambil menepuk salah satu Karton.
"Sebaiknya uang Mas buat modal usaha. Aku bisa kok beli sendiri tanpa mas belikan seperti ini! lagi pula si dedek masih lama lahirnya," ujar Erli panjang lebar.
"Apa maksudmu? Jangan berputar-putar!" desisnya seraya melempar tas kerja ke sembarang arah.
Erli mengerutkan keningnya mendengar ucapan sang suami dan dia mengambil buket bunga memperlihatkan kartu ucapan yang tertata di buket bunga tersebut.
"Ini nah," katanya seraya mendorong karton kecil yang terletak di tumpukan paling atas .
Rafan menatap tajam kartu ucapan itu dan alisnya menaut, dia menatap wajah Erli dan bunga itu secara bergantian.
__ADS_1