Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Pikiran Liar Rafan


__ADS_3

"Tunggu kamu bersih dulu ya, Sayang!" Rafan mencium leher jenjang istrinya seraya menurunkan Erli dari pangkuannya dan menatap lekat-lekat wajah sang istri.


Erli mengulum bibirnya sendiri sebagai reaksinya yang tidak percaya dengan bisikan Rafan.


Dasar setan, eh bukan. Ya Allah ... berdosa, aku telah berdosa telah memaki suamiku sendiri, gerutu Erli sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang mungil.


"Mas, maaf!" ucap Erli pelan.


"Untuk?" tanya Rafan yang masih sibuk memainkan jemari anaknya.


"Tadi aku ...." Erli tidak meneruskan perkataannya karena dia ragu suaminya itu akan memaafkan ucapan terpendam.


"Kenapa diam? Ayo, katakan!" desak Rafan lembut.


Kepalanya menggeleng menolak perintah sang suami, Rafan mendongakkan kepala melihat Erli yang sedang memainkan jari-jarinya. Rafan paham betul dengan sikap Erli saat ini, jika dia gelisah dan takut dia akan melakukan hal itu sampai hatinya tenang kembali.


"Katakan saja, jangan takut!" titah Rafan meyakinkan Erli.


"Kamu yakin, Mas?" tanya Erli dengan tangan yang masih menaut.


"Hmm," gumam Rafan yang terus menghujani pipi Alkhaiz dengan jutaan ciuman manja.


"Tadi ...." Lagi-lagi Erli menggantung ucapannya.


Rafan menghela napas panjang dan tangannya melepaskan tautan tangan Erli yang terus-terusan memainkan kukunya sendiri.


"Tadi apa? Kenapa kamu terus memberi stan dalam ucapanmu? Apa kamu masih anak TK, yang harus belajar berbicara?" berondong Rafan tanpa memberi cela tangan Erli untuk menyatu lagi.


"Aku tidak suka melihat kamu terus-terusan memainkan jari-jari ini!" tunjuk Rafan dengan jari telunjuknya.


Istrinya itu masih bergerak gelisah, kegugupan yang menjalar di tubuh mungil itu membuat desakan di jiwa Rafan.


"Cukup Erli! Jangan menggeliat seperti cacing kepanasan seperti itu," tunjuk Rafan jengah.


"Memang kenapa?" tanya Erli yang sedikit mencondongkan dadanya ke depan.


Urat di pipi Rafan terlihat mengeras dan rahangnya semakin mengetat, bukan ekspresi marah lebih tepatnya pria itu menahan sesuatu dalam dirinya. Entah apa dan kenapa yang jelas dia sangat tersiksa sampai di mana dia bersusah payah menelan salivanya.


Kini giliran Erli yang menanyakan alasan Rafan gelisah, "Kamu kenapa Mas?"


"Enggak kenapa-kenapa!" tukas Rafan sambil membuang wajahnya.


"Kalau enggak kenapa-kenapa. Kenapa kamu kok buang wajah seperti itu?" Menyipitkan mata saat melihat wajah Rafan yang tersembunyi.


"Ini semua salahmu!" bentaknya lirih.


"Nah, kok jadi aku? Perasaan aku diam saja," katanya dengan raut yang tertekuk.


Rafan berdiri dan keluar meninggalkan Erli yang duduk di bibir ranjang kecil itu. Netranya menatap punggung sang suami yang menghilang dan dia melirik Alkhaiz yang masih terlelap dalam buaian mimpi indah.

__ADS_1


"Kurasa kamu akan baik-baik saja jika bunda keluar sebentar, Nak." Tangan kirinya menepuk lembut tubuh Alkhaiz.


Pelan, tapi pasti Erli membuntuti sang suami keluar rumah. Terlihat pria itu duduk di teras ditemani sebatang rokok yang telah menyala, embusan asap rokok menyebul di udara. Erli duduk di samping Rafan dengan kepala yang dia sandarkan di bahu lebar sang suami.


"Kenapa kamu memilih duduk di sini? Apa kamu bosan bertatap muka denganku, Mas?" Wanita itu mengulum senyumannya dan terlihat raut kesedihan di wajah imut tersebut.


Rafan tidak merespon ucapan istrinya bahkan dia terlihat sangat menikmati rokok yang terselip di jemari kanannya, Erli mengangkat kepalanya menatap wajah Rafan dari samping. Ketampanan itu membuat Erli terhanyut, tapi segera dia tersadar dari lamunan dan berdiri. Saat hendak menjauh, dengan sigap Rafan mencekal pergelangan tangan istrinya.


"Mau ke mana?" Suara lembut Rafan membuai gendang telinga Erli.


"Mau tidur sama Al!" ketusnya tanpa memalingkan pandangan.


"Temani aku!" Melirik Erli sebentar, "aku sudah sangat kesepian saat kau menghilang. Apa kau akan meninggalkan aku lagi?" tanya Rafan seraya menginjak putung rokok yang dia isap tadi.


Erli kembali mundur dan duduk di samping Rafan.


"Kau itu memabukkan Erli. Jangankan menyentuhmu, menghirup aroma tubuhmu sudah membuat hasratku bangkit. Ketika kau menghilang dari pandanga mata ini, duniaku seakan tidak berputar semua beku dan hati ini juga mati rasa. Namun, saat kau hadir kembali hati dingin ini terasa hangat layaknya teh yang sering kau suguhkan untuk-ku," ungkapnya lirih dan jelaga hitam itu menatap nanar wajah Erli yang imut.


"Aku selalu menahan diri saat dekat denganmu. Lihat jemari ini! Dia selalu liar saat menyentuh kulitmu dan aroma tubuhmu yang wangi membuat jiwa lelaki-ku memuncak tinggi. Namun, diri ini selalu terborgol tidak bisa menyentuhmu sembarangan," ucap Rafan kalem.


Wanita itu hanya diam mendengar suaminya berbicara, karena ucapan Rafan tubuh Erli berubah menjadi manekin yang tidak bernyawa dan entah sejak kapan dia mencium setiap helai rambut panjang wanitanya. Tanpa dia sadari tangannya telah berkeliaran di setiap lekuk tubuh indah itu, sekali lagi Rafan tersentak dan refleks menarik diri menjauhkan tubuhnya dari Erli.


"Masuklah!" usir Rafan sembari mendorong pelan tubuh Erli dan dengan berat hati dia meninggalkan suaminya yang masih duduk terpaku di teras rumah.


Selang beberapa menit Erli kembali keluar menyodorkan selimut untuk Rafan gunakan sebagai pelindung tubuhnya dari udara dingin yang menusuk.


...****************...


Melihat keponakannya celingukan seperti maling, Rasmi menegurnya.


"Kamu cari Rafan?"


Erli hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan sang bibi.


"Dia pergi sama paman."


ke mana dia pergi? Kenapa tidak berpamitan denganku, apa aku tidak penting baginya? gumamnya dalam hati.


"Sudah jangan berprasangka buruk! Dia itu suami yang baik," ucap Rasmi menasihati keponakan kesayangannya.


"Iya Bik, dia memang imam yang baik. Mau menerima Erli dengan keadaan hamil," jawab Erli kalem.


"Sudah jangan menyinggung hal itu lagi!" cegah Rasmi seraya memotong tomat.


Ketika Erli hendak pergi dia kembali berbalik menatap Rasmi.


"Bik, bisa tidak pulangnya diundur satu hari lagi? Erli sama Rafan ada rencana yang mendadak." Penuturan Erli memberhentikan gerak tangan Rasmi yang mengulek sambel.


"Masalah besarkah, Nak?" Menatap Erli penasaran.

__ADS_1


"Tidak juga, tapi ini sangat penting Bik. Erli mau titip Al sama Bibi, jika dibawa keluar Erli takut dia kenapa-kenapa."


Rasmi tersenyum lembut dan senyum itu memberi jawaban atas permintaannya barusan.


Jarum jam terus bergulir waktu yang telah disepakati tiba. Rafan telah siap dengan stelan yang biasa dia pakai saat bekerja, sedangkan Erli masih sibuk menyibak bajunya di dalam tas.


"Kamu ngapain? Ini sudah jam 9." Rafan yang semula berdiri diambang pintu masuk dengan Al yang berada di dekapan tangannya.


"Lihat, Al! Bundamu ini memang suka memperlambat pekerjaan ayah," ujarnya menatap wajah Al yang masih polos.


"Udah deh, Mas!" pekik Erli dengan sorot mata yang menukik bak elang yang hendak memangsa.


Rafan keluar dari kamar dan beberapa detik kemudian pria itu kembali masuk.


"Sudah pakai baju itu saja! Nanti kita beli baju di jalan," ucap Rafan yang telah menenteng tas jinjing milik istrinya.


"Kamu yakin?"


Rafan mengangguk, setelah selesai berdebat masalah baju kini mobil Rafan melesat pelan menyusuri gang sempit. Selepas sampai di jalan raya, dia menginjak pedal gas menambah kecepatan dan berhenti di salah satu butik.


Tanpa babibu lagi Rafan masuk dan menuju diantara dress yang tergantung rapi. Tangan besarnya meraih lace dress berwarna mocca dan tak lupa dia meraih sepasang wedges yang menurutnya cocok dipakai istrinya.


kalian tahu bukan lace dress merupakan dress yang seluruh atau sebagian modelnya dilengkapi renda.


Erli tersenyum lebar menatap dress yang dibawa suaminya, dia sangat menyukai pilihan Rafan dan tanpa sulap tanpa sihir Erli sudah merubah pakaiannya. Alis Erli bergerak naik turun setelah keluar dari ruang ganti, seulas senyuman menyembul dari bibir Rafan.


Pria itu penuh semangat mengendarai mobilnya dan tanpa lama mereka telah masuk ke dalam restoran, semua mata tertuju pada Erli. Tidak sedikit dari mereka saling berbisik, Erli tidak menghiraukan hal itu yang terpenting saat ini dia dan suaminya berjalan beriringan. Hal ini sudah membuat Erli sangat amat bahagia.


"Jadi itu istri Pak Rafan?" tanya karyawan wanita.


"Sepertinya iya, lihat mereka sangat serasi!" sahut salah seorang karyawan lainnya.


Mendengar percakapan karyawannya Rafan mendekap pinggul Erli dan menarik tubuh mungil sang istri.


"Kau wanita tercantik ku!" Mendengar pernyataan Rafan, 3 wanita yang bergosip itu langsung berteriak gembira.


"Kalian dengar, dia bilang apa?" ucap Fenty antusias, kedua temannya mengangguk mengerti.


Lima belas menit berlalu Bima datang mengenakan seragam kerjanya, tubuh yang kekar dan tegap mengalihkan perhatian karyawan dan pengunjung wanita di restoran ini. Tanpa panduan Bima langsung menuju ruang kerja Rafan, dia langsung memberikan barang titipan Xavier.


"Apa ini, Bim?" tanya Erli membolak balikan benda yang baru saja dia terima.


"Lo liat saja sendiri! Gue kagak tahu isinya," jawab Bima seraya mendudukkan diri di sofa berwarna hitam.


Mata Erli terbelalak setelah melihat isi kotak itu, pelupuk matanya mengembun dan dengan kasar dia mengusap pipinya yang basah dia tidak peduli dengan riasan wajahnya bergeser.


"Mas ...," panggil Erli.


Rafan memaksakan senyumnya, dia tidak mau Erli kecewa dengan ekspresi ketidak sukaannya.

__ADS_1


🌿🌿🌿


Happy reading guys, bab ini setara dengan 2 bab loh. Entah aku yang bersemangat atau bagaimana aku juga tidak tahu🤭 intinya aku senang membaca komentar kalian semua🥰


__ADS_2