Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Curhat Yang Tertunda


__ADS_3

Taksi yang ditumpangi Erli telah menjauh dari kawasan sekolah—tempat Rafan mengajar. Galang mengerutkan keningnya saat melihat Rafan yang menghela panas panjang.


"Lo kenapa, Fan?" Menatap dengan mata yang menyipit.


"Kagak kenapa-kenapa," ucapnya sambil menepuk bahu Galang.


"Ngomong-ngomong, dari mana lo mendapatkan uang sebanyak ini?" tanya Rafan sembari mengelus spion mobil barunya.


"Lo mau jawaban jujur atau bohong?" Seketika Galang melirik tajam sang adik.


"Apa?" runtuk Rafan.


"Enggak kenapa-kenapa." Galang menata rambutnya yang sedikit berantakan.


"Lo tunggu gue di sini, jangan ke mana-mana! sepuluh menit lagi kelas gue selesai." Rafan berjalan mundur sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah Galang.


"Mau ngapain sih, lo? gue ada janji sama Vania ...," pekik Galang mencoba memberhentikan langkah Rafan.


"Dasar kampret tu anak!" desis Galang, "sudah bosan gue jadi bolang," keluhnya seraya menatap spion tengah.


Dua menit ....


Lima menit ....


Sepuluh menit telah berlalu. Namun, Rafan belum kunjung terlihat batang hidungnya dan itu membuat anak tertua Zulaika emosi.


"Kampret ... kampret ... di mana lo berada? Gue sudah capek banget nungguin lo di sini," gerutu Galang bersungut-sungut.


Lamat-lamat daun telinga Galang mendengar suara bel sekolah yang berdering sangat melengking.


"Nah ... akhirnya si kampret kelar juga ngajar para ABG centil." Pria berjambang tipis tersebut bangkit dari tempat duduknya.


Segera dia keluar dan duduk di kap depan, dengan semangat Galang bergaya ala-ala Jamet dan sesekali dia melirik ke halaman sekolah.


"Eh, sudah datang aja tu ABG bohai," ujar Galang lirih.


Terlihat tiga siswi populer di sekolah ini, Galang tersenyum puas melihat penampakan gadis manis Nn imut. Kakak tertua Rania tersebut bersiap melancarkan aksi rayuan maut buaya penangkaran Jakarta.


"Hai, kau gadis manis nan cantik bak bidadari kayangan." Galang mengangkat kedua alisnya merayu para gadis.

__ADS_1


Tiga siswi cantik berhenti dan menatap serius wajah kakak Rafan.


"Ada apa Om?" Sontak Galang melotot mendapati gadis SMP memanggilnya om.


"Om ... aku masih muda!" seru Galang dengan senyuman genit yang menghiasi bibirnya.


"Kalau dibandingkan dengan saya ... jelas masih muda saya sama Om," kata gadis lainnya sambil berkacak pinggang.


Galang mengibaskan tangan kirinya seraya membuang muka.


"Anjrit, sejak kapan gue jadi Om?" gumamnya lirih, "sialan, dasar ABG labil." Mengelus jambang kebanggaannya.


"Nikah aja belum, sudah dipanggil Om. Emang kapan gue nikah sama tante mereka? Huh ... dasar ABG kampret!" Geramnya Galang mendapat panggilan om.


Ketika Galang masih menggerutu dalam kekesalannya tiba-tiba seorang siswi lain menghampirinya.


"Menurut saya ... Abang masih sangat muda dan masih cocok menggunakan seragam seperti kami." Carla menyambar ucapan Galang.


"Akhirnya ada juga yang menyadari ketampanan ini," ujar Galang membanggakan dirinya seraya merapikan bajunya.


"Kau benar gadis manis, gue memang masih muda. Mana tampan pulak," tuturnya tanpa keragu-raguan.


"Kenapa Bang?" tanya Carla tersenyum.


Galang menggelengkan kepalanya pelan dan dia mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


Bukannya menjawab Galang malah balik bertanya, "Sudah berapa lama lo jadi penghuni kelas sembilan?"


"Sekitar tiga tahunan, Bang. Memang kenapa?" sahut Carla dengan alis yang tertaut.


"Pantas saja body lo sama kaya lemari perpustakaan," tuturnya lirih.


Karena tidak mendengar ucapan Galang, Carla mencondongkan tubuhnya sambil bertanya lagi.


"Tadi, Abang bilang apa?"


"Kagak, itu lo dipanggil kepala sekolah!" kata Galang sambil mengacungkan jarinya.


"Iya 'kah?" Carla hanya menoleh sebentar. "Tidak ada tuh, Bang? Abang salah—" Ucapan Carla terhenti saat melihat Galang telah menghilang dari hadapannya.

__ADS_1


Gadis bertubuh bongsor itu menghentakkan kakinya berulang kali sambil menggerutu tidak jelas. Ya, setiap kali dia bertemu dengan Galang, kejadian ini selalu terulang, dia selalu ditipu Galang. Namun, dia tetap saja mendambakan kakak dari wali kelasnya.


Selang beberapa saat Rafan keluar dari kantor langsung berjalan cepat menuju pintu gerbang, hatinya sangat bahagia siang ini. Siapa sih yang tidak bahagia mendapat barang yang sangat didambakan dan lagi barang itu didapatkan dari orang yang kita sayang.


"Ngapain tu orang, celingukan di sana?" kata Rafan keheranan melihat sang kakak.


Bergegas Rafan menghampiri Galang yang masih meringkuk di bawah pohon Cemara kipas, Rafan menepuk bahu Galang.


"Matilah gue di sini," gerutu Galang dengan mata yang terpejam, "ampun Car, jangan ganggu gue!" Galang mengatupkan kedua tangannya.


Rafan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah kakak yang konyol. Perlahan Galang mendongakkan kepalanya dan ketika dia melihat wajah adik lelakinya, Galang mendorong Rafan sampai jatuh.


"Jangan merajuk! Kagak pantas lelaki maco ngambekan," pungkas Rafan disela tawanya.


"Lo mau pulang atau nginap di sini." Galang bertanya tanpa menghentikan langkah kakinya.


Ketika sampai di depan mobil, Galang melempar kunci mobil itu di hadapan adik lelakinya.


"Lah, kenapa gue yang bawa?" Menatap penuh penasaran.


"Ini 'kan mobil lo, Fan. jadi, ko 'lah yang mengendarai mobil ini!" seru Galang tanpa basa-basi lagi.


Sebenarnya Rafan tidak suka dengan ucapan kakaknya, tetapi dia mencoba memahami maksud Galang.


"Tadi lo belum jawab pertanyaan gue, Mas!" melirik Galang sekilas.


"Pertanyaan yang mana?" Kening Galang mengerut saat mempertegas ucapannya.


"Lu benar-benar pikun atau gimana?" Rafan menyebar netranya melihat sekitar jalan yang dia lewati.


Galang mengangkat kedua bahunya cuek, "Entahlah, gue aja bingung," kata Galang sambil mengambil kue kering yang terletak di kursi belakang.


"Sudah cukup pura-puranya! Cepat katakan!" desak Rafan dengan wajah serius.


"Janji, jawab pertanyaan gue dengan jujur!" pinta Galang dengan sorot mata yang sendu.


"Hmm ...." Rafan hanya mengucapkan kalimat itu.


"Sebenarnya mobil ini—" Ucapan Galang terhenti saat ponsel Rafan berdering.

__ADS_1


__ADS_2