
Mata Rasmi dan Khafi membulat sesaat mendengar Jafar mengusir Erli. Lain lagi dengan Erli, buliran permata bening itu telah menetes dan beranak membasahi pipi. Dia tidak menyangka bahwa paman kesayangannya tega mengusirnya dari rumah.
“Paman ... t-tolong jangan usir Erli! Erli janji, akan membujuk Xavier untuk menikahi Erli secepatnya,” rayu Erli dengan suara yang terisak.
“Cukup! Pergi dari sini! Aku tidak memiliki keponakan sepertimu,” bentak Jafar dengan mata yang melotot.
“Erli mohon! Beri Erli beberapa waktu untuk mengajak Xavier ke sini.” Erli memohon dengan sangat iba pada pamannya yang selama ini memberi petuah kehidupan.
“Pergi! Aku tidak mau mendengar apa pun dari mulutmu.” Jafar berteriak sekuat tenaga sampai-sampai suaranya menggema dan karena teriakan itu, semua tetangganya keluar melihat ke arah kediamannya.
“Istigfar Kang, jangan mengambil keputusan saat emosi!” ucap Rasmi terkekeh dan tangan wanita itu mengelus dada suaminya.
“Kamu jangan membela anak kurang ajar ini! Dia sudah janji akan menjauhi bajingan itu, tapi apa? Dia sudah melanggar apa yang kita larang.” Pria paru baya itu melempar semua baju dan tas Erli.
“Kasianilah Erli, Yah! Dan mau pergi ke mana dia malam-malam begini?” keluh Khafi dengan wajah yang memelas.
“Diam! Aku tidak akan merubah keinginan aku,” Jafar menyeret paksa Erli keluar rumah.
“Kang pikirkan kembali keputusanmu?” Rasmi memegangi lengan suaminya.
“Iya, Ayah. Jangan usir adik!” imbuh Khafi.
“Aku tidak peduli!” decak Jafar.
“Ayah maafkan Erli! Biarkan dia tinggal di sini,” cetus Khafi.
Jafar menatap tajam Khafi. “Ke mana pun dia pergi dan sedang apa dia, semua itu bukan urusanku lagi.”
“Akang jangan berbuat seperti ini! Ingat janji Akang ke pada Teh Erna,” tutur Rasmi dengan rahang yang terkatup.
“Jangan membuat kesabaranku habis, dan hormati keputusan yang aku ambil.” Mengernyitkan keningnya.
Jafar mendorong Erli ke luar, tanpa menatap wajah keponakan satu-satunya.
__ADS_1
Rasmi dan Khafi masih mencegah Jafar agar tidak mengusir Erli, tapi pria itu tidak mendengarkan semua bujukan anak dan istrinya.
“Jangan pernah kembali ke rumahku!” sambung Jafar, “camkan itu.” Kedua mata pria paru baya itu melotot.
Semua tetangga menatap penuh heran, pasalnya Jafar di kenal sebagai pria yang sabar dan pendiam tidak pernah mereka melihat Jafar marah. Jafar selalu bersikap ramah-tamah dan selalu murah senyum, tapi malam ini semua orang melihat amarah Jafar, tidak sedikit yang menggunjing keluarga yang terkenal keharmonisannya.
“Kenapa dengan mereka?” tanya seorang wanita tua.
“Entah, aku juga kurang paham!” tandas wanita lainnya.
“Apa jangan-jangan gadis itu mencuri?!” sahut seorang wanita berjilbab.
Semua wanita menatap ke arah Desi, “Jangan ngawur kamu!” seru semua wanita dengan kompak.
Desi tersenyum hambar saat mendapat protes dari teman gibahnya.
“Eh, coba lihat itu! Pak Jafar menghalangi anak dan istrinya,” ucap Reny sembari menepuk punggung salah satu temannya.
Dari kecil gadis itu tidak pernah melihat pamannya marah, baru kali ini dan dialah pemicu kemurkaan Jafar.
Selepas melempar baju Erli, Jafar menutup pintu dan melarang anak dan istrinya untuk menolong sang keponakan.
Erli mematung menatap pintu yang telah tertutup rapat, begitu lama Erli berdiri di sana. Setelah puas memandangi rumah itu, bergegas dia meraih tas dan memasukkan semua bajunya. Erli berjalan melewati markas geng teteh-teteh per gibahan.
Desi memberanikan diri untuk bertanya, “Kamu mau ke mana, Neng?”
Erli menjawab dengan suara yang tercekat, “Mau ke rumah teman, Bik.”
Semua geng per gibahan tersebut mengangguk pelan, Erli menyusuri gang yang gelap.
Tiba-tiba suara gemuruh petir mengejutkannya dan angin berembus cukup kencang, saat Erli sampai di ujung gang, langkahnya terhenti sejenak ketika dia melihat segerombol pemuda yang sedang asyik menikmati minuman keras. Tidak lama kemudian Erli kembali berjalan, dengan PD-nya dia melewati pemuda yang tengah asoi berbincang.
“Hai cantik,” sapa salah satu pemuda.
__ADS_1
Gadis itu terus berjalan tanpa menghiraukan tiga pemuda yang dipengaruhi minuman keras.
“Kau mau ke mana malam-malam begini?” tanya pemuda berambut gondrong.
Erli mempercepat langkahnya dan tiga pemuda itu membuntut di belakang Erli. Merasa terancam, gadis itu berlari kencang dan ketiga pemuda itu juga, ikut berlari seraya meneriaki Erli. Bersamaan dengan pelarian Erli hujan turun disertai angin kencang yang mengguncang dan memorak-porandakan beberapa pondok.
“Ya Allah ... Selamatkan Erli dari mereka.” Doa Erli di sela rasa takutnya.
“Dapatkan dia!” titah pemuda berambut gondrong.
Mendengar ucapan itu, Erli bersembunyi di balik pohon besar. Ketika gerombolan pemuda itu mendekat, Erli bergeser ke sisi pohon. Jantung gadis itu berdetak kencang seakan ingin meledak dan terdengar suara napas Erli yang memburu.
Ketika segerombolan pemuda tersebut lengah Erli berlari dan masuk ke dalam kandang sapi. Erli jatuh terduduk dan dia menangis meratapi nasibnya yang telah hancur berkeping-keping, napas gadis itu tercekat dan paru-parunya seakan tidak mampu memompa Oksigen yang dia hirup.
Keesokan hari seorang pria tua keluar dari rumah, netranya terbelalak melihat semua tanamannya hancur dan papan plakat miliknya tergeletak di tanah.
“Sasmita, cepat keluar! Coba kau lihat taman kecil kita Semua hancur,” timpal Joko, “Aduh ... bagaimana dengan Peternakan ku? Semoga sapi dan kambingku baik-baik saja,” kata Joko sembari menuruni anak tangga depan rumahnya.
“Sasmita cepat keluar!” teriak Joko. Kali ini teriakan itu sangat kencang sehingga sang istri cukup kesal.
“Kenapa kamu berteriak terus?” tanya wanita yang mengenakan daster berwarna coklat.
“Astaga, siapa itu? Apa itu mayat?” Wanita itu mendekati suaminya yang berdiri tidak jauh dari Erli.
“Itu dia. Siapa dia dan dari mana asalnya aku kurang tahu,” pungkas Joko.
Sasmita melirik sebuah koper yang tergeletak begitu saja di sebelah sapinya.
“Kang coba periksa keadaan gadis itu!” perintah Sasmita.
Joko maju menghampiri Erli dan pria tua tersebut memeriksa denyut nadi Erli. Joko menempelkan tangan kirinya di kening gadis itu dan dia menoleh ke belakang.
“Kenapa Kang?” tanya Sasmi dengan mata yang menyipit.
__ADS_1