
Masa pemulihan Erli pun berakhir kini dia sudah bangun dari tidur panjangnya dan dia juga sudah melewati fase buruk yang melanda dirinya, dengan tertatih dia berjalan ditemani sang suami untuk melihat buah hati yang telah dilahirkan malam Jumat kemarin.
Senyuman mereka di bibir ibu muda itu, pandangan matanya tidak pernah terlepas dari bayi yang memiliki panjang 49 sentimeter dan memiliki berat badan 2,5 kilogram. Dia memang lahir lebih cepat dari perkiraan; karena sebuah kecelakaan. Beruntungnya dia terlahir dalam keadaan normal, walau pasca dia dilahirkan sempat tidak menangis.
"Kamu mau kasih nama apa ke anak kita, Bunda?" Pertanyaan yang dilontarkan Rafan membuat Erli membeku sejenak, seper-detik kemudian dia menolehkan kepalanya ke arah sang suami.
Denyut darahnya seakan tersendat, jantungnya berhenti sejenak dan bahkan dia merasa nyawanya menghilang dari raganya yang kini berdiri di jendela kaca besar.
"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Rafan membungkukkan tubuhnya demi melihat wajah sang istri yang tertunduk, "kamu tunggu di sini! Aku ambil kursi roda dulu." Rafan menepuk bahu Erli yang mengakibatkan istrinya sadar dari lamunan yang melandanya.
Buru-buru Erli mencekal pergelangan suaminya, "Tunggu Mas!"
"Hmm, ada apa?"
"Tadi kamu bilang apa?" ucap Erli sangat lirih.
Rafan membalikkan tubuh Erli dan berucap. "Aku mau ambil kursi roda."
"Bukan itu. Coba ulang perkataanmu sebelum itu," ujar Erli dengan kepala yang masih tertunduk.
"Oh ... Anak kita mau diberi nama apa, Bunda." Ini yang membuat dunia Erli bergetar tadi, panggilan sayang yang berdampak sangat dahsyat.
"Kamu tidak suka, ya?"
Erli menggeleng pelan sambil menjawab, "Aku suka banget, Mas!" akunya dengan wajah yang blushing.
"Hi, are you shy honey?" Lagi-lagi Rafan membuat istrinya semakin malu, "i like your shy face, baby!" ungkap Rafan sembari mengecup ujung kepala istrinya.
Erli semakin mematung mendapat kecupan mesra suaminya, Bagaimana tidak? selama ini dia dan Rafan menjaga jarak aman, walau pernah melakukan hal yang mesra. Rafan selalu meng-cut terlebih dahulu,dia melakukan hal itu bukan tanpa alasan. Sudah tahukan kalau Erli mengandung anak orang lain dan mengakibatkan Rafan memberi spasi terhadap hubungannya, dia juga takut akan terbuai racun asmara yang merusak pikiran dan menyebabkannya melakukan suatu hal yang dilarang.
"What did you call me?" Erli memiringkan kepalanya.
"Ayo, duduk sini!" Rafan menghadapkan kursi roda ke jendela kaca.
Kini kepala Erli mendongak menatap wajah suaminya dan tampak garis halus di kantong matanya. Ya, ibu muda itu tersenyum tipis kala mengingat Rafan memanggilnya 'Bunda' terdengar biasa, tapi itu membuat Erli bahagia plus bangga dengan dirinya yang memiliki suami yang tampan dan berhati lembut.
Kupikir manusia *kak**u ini tidak bisa romantis*, katanya dalam hati.
__ADS_1
Melihat istrinya tersenyum sendiri membuat hatinya bertanya-tanya.
"Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?" Rafan berjongkok di depan Erli.
Erli mengangkat kedua alisnya dan kembali tersenyum. "Hari ini aku sangat bahagia, bisa memiliki seorang putra mungil seperti dia." tunjuk Erli semangat.
"Oh ...." Jawaban yang keluar dari mulut Rafan membuat Erli menahan tawanya.
"Aku juga bahagia memiliki suami Kayak kamu. Mas," tutur Erli lembut.
Hal itu sontak membuat Rafan menampilkan wajah terkejutnya sejenak, lalu berubah normal kembali.
"Akulah pria yang paling bahagia mendapatkan istri dan anak tampan seperti dia," ucap Rafan dengan senyuman yang terlihat di bibir pointy natural-nya.
Erli berdehem lalu memalingkan wajahnya ke samping dan mengusap wajahnya dengan lembut.
"Mas ngerasa gerah enggak, sih?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
"Gerah? I actually feel cool since seeing that shy face of yours," Rafan kembali membuat Erli mati kutu, pria itu selalu jago membuatnya skakmat.
Erli mencubit pelan punggung tangan Rafan, "Apaan sih!" cicitnya, wajah Erli semakin memanas oleh perkataan Rafan. Tiba-tiba saja dia mengingat kejadian kemarin malam yang membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit.
"Kenapa berhenti? Ayo, lanjutkan ucapanmu!" desak Rafan.
"Janji tidak marah!" Erli mengulurkan tangannya dan menunjukkan jari kelingking.
"Hmm," gumamnya pelan dan jari keling mereka bertaut.
"Kenapa Mas berbuat seperti itu padaku? Apa aku telah membuat kesalahan yang menyinggung hatimu?" Erli memainkan ujung baju yang dikenakan.
"Karena si brengsek itu menemuiku!" kata Rafan pelan, tapi tajam dan wajah pria itu terlihat datar dengan sorot matanya menajam.
Erli yang tidak mengerti mengernyitkan kening sambil mendongakkan kepalanya mencoba menatap wajah sang suami.
"Siapa dia, Mas?" tanya Erli polos.
"The father of our baby."
__ADS_1
Jawaban Rafan membuat Erli syok hingga dia beranjak dari kursi rodanya.
"Kamu serius dengan ucapanmu?" Matanya melebar, "untuk apa dia menemui kamu? Dan ... kalian membicarakan apa saja?" Menatap penuh harap.
"Bukan urusanmu!" cetus Rafan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Itu harus menjadi urusanku!" ujar Erli dengan suara beratnya.
"Hmm, jadi dia masih berarti dalam hidupmu?" Rafan menarik sudut bibirnya yang membuat Erli sedikit kesal karena senyuman Rafan terlihat meremehkannya.
"Aku tidak suka sama sikapmu ini Mas! Aku sudah memutus semua hubungan dengannya , aku sangat benci dengan manusia itu. Camkan ini!" tegas Erli, wanita itu berjalan tertatih meninggalkan Rafan yang masih terpaku.
Apa ucapanmu itu benar, Erli? Aku tidak sanggup jika harus melihatmu pergi bersama pria manapun. Aku sangat mencintaimu dan dia malaikat kecil kita. Hati pria itu terus berkata-kata.
Sesekali dia melihat istrinya yang masih berjalan susah payah menuju kamarnya.
Dasar pria brengsek! Kenapa dia memperkeruh kehidupanku? makinya dalam hati, tiba-tiba langkah kakinya berhenti dan tubuhnya yang semula membungkuk kini sedikit menegak.
"Jangan-jangan paket yang aku terima itu ... brengsek! Aku pastikan membakar semua barang yang dia berikan!" ucapnya penuh amarah.
"Pantas saja dia marah dan memperlakukanku seperti itu. Dasar bodoh! Kenapa tidak berterus terang?" gerutu Erli sampai rahangnya mengetat.
Erli kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya dan berusaha Membaringkan tubuhnya yang terasa lemas di bad. Sore ini Erli hanya di temani Rafan karena yang lain sedang pulang menyiapkan kamar yang akan ditempati baby E.
Saat Erli sedang menikmati waktu sendirinya, pintu kamar terbuka dan nampak seorang dokter masuk ke ruangan itu.
"Sore Nyonya," sapa dokter pria yang membawa nampan stainless.
"Sore Dok," sahut Erli ramah.
"Mungkin suntikan ini sedikit sakit. Jadi, tolong ditahan sedikit, Ya." Dokter pun mulai memasukkan jarum ke dalam selang infus.
Erli hanya mengangguk sebagai respon, setelah beberapa saat berlalu Erli merasa kepalanya berat dan kedua kelopak matanya tidak dapat terbuka seperti biasanya. Pandangan Erli sedikit kabur, berulang kali wanita itu menggelengkan kepalanya untuk menetralkan rasa pusing yang dia rasa.
Namun, usahanya percuma, pandanganya semakin memudar dokter yang berdiri disampingnya terlihat mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Erli dan dokter tersebut memanggil Erli beberapa kali.
"Nyonya, Nyonya ...!" panggil dokter itu seraya mengguncang tubuh Erli.
__ADS_1
Merasa sudah aman, dokter pria itu keluar dan melambaikan tangan kirinya. tiga orang perawat menghampirinya dan membawa Erli keluar, ditempat lain seorang suster juga membopong bayi Erli dan menghampiri segerombol pria yang mengenakan pakaian tenaga kesehatan.