
Erli beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar, dia lupa bahwa pintu itu telah dikunci dan kuncinya dibawa Rafan.
"Tolong buka pintu!" kata Erli dengan terisak.
"Aku tidak akan membukakan pintu itu sampai kau memberi jawaban atas pertanyaanku."
"Tolong ... b-biarkan aku keluar! Aku ingin pulang ke rumah pamanku," pinta Erli dengan wajah yang memelas.
Rafan tidak merespon permintaan Erli bahkan dia memalingkan wajahnya agar tidak melihat air mata yang jatuh bercucuran membasahi pipi mulus istrinya. Rafan tidak menyangka bahwa Erli akan berlutut dihadapannya dengan tangisan yang semakin kencang, dengan sangat jelas Rafan melihat istrinya kesulitan bernafas akibat berlutut.
"B-biarkan aku pulang Mas ... aku berjanji akan mengikuti semua ucapanmu." Merintih penuh dengan belas kasih.
"Aku tidak akan mengizinkanmu keluar sejengkal saja dari ruangan ini!" ucapnya tegas.
Ketika Erli hendak mencium kaki Rafan, bergegas Rafan meraih tangan Erli.
"Apa yang kau lakukan?" Mata Rafan melotot, "begitu susah 'kah menjawab pertanyaanku? Atau kau masih menginginkan dia sebagai sua—" Ucapan Rafan tergantung karena Erli membungkam mulut suaminya dengan tangan kirinya.
Seakan paham perkataan Rafan, Erli berusaha membloking mulut suaminya agar tidak menyebutkan nama Xavier—orang yang menoreh luka di hatinya.
"Aku sangat membencinya, tidak ada niatan dalam hatiku untuk melihat wajahnya. Mendengar namanya saja sudah membuat darahku mendidih," ucap Erli lirih.
"Tolong ... jangan membahas manusia tidak berguna itu!" Sepasang mata mereka saling menatap.
Sejenak dunia berhenti berputar kala mereka saling berdekatan. Tidak Rafan pungkiri bahwa dia sangat menyukai situasi ini, dia membiarkan tangan Erli masih membungkam mulutnya.
Aroma tubuh Erli masuk ke indra penciuman Rafan dan menyebar ke paru-paru Rafan, wangi tubuh Erli mampu menenangkan kegelisahan Rafan. Ketika mereka masih hanyut akan suasana tiba-tiba Erli merasakan nyeri di perutnya.
"Aah ...." Erli mengerang kesakitan.
Sontak Rafan memegang perut sang istri, "Kenapa? Apa yang sakit?" tanya Rafan panik.
Pria itu membopong istrinya dan direbahkan tubuh Erli di tempat tidur.
"Kita ke rumah sakit, ya?" katanya seraya melirik jam yang tergantung di tembok.
Erli mencekal pergelangan tangan Rafan, istrinya menggeleng.
"Aku tidak apa-apa. Mungkin ini efek terlalu banyak bergerak," ungkapnya lirih.
__ADS_1
"Apa saja yang kau lakukan seharian ini? Tidak bisakah kau menuruti ucapan suamimu?" kata Rafan bersungut-sungut.
Erli memainkan ujung kemeja Rafan dan dengan suara seraknya dia berkata.
"Maafkan aku!"
Pria itu memeluk istrinya sangat erat dan dibenamkan wajahnya dileher Erli.
"Jangan berbuat sesuatu yang membahayakan anak kita," bisik Rafan pelan.
Erli mengelus punggung Rafan dengan penuh kasih sayang, diciumnya pundak Rafan.
"Benarkah kamu tidak apa-apa?" Melepas pelukannya demi melihat wajah Erli.
"Hmm, aku baik-baik saja, Mas. Kamu tidak perlu khawatir!" balas Erli dengan senyuman tipis.
Rafan mencium perut sang istri, saat dia mengelus-elus perut buncit Erli tiba-tiba dia merasakan pergerakan disisi perut istrinya.
"Benarkah dia bergerak?" Menatap Erli penasaran, "anak ayah benar-benar bergerak menyapa ayah. Good job nya son," kata Rafan tersenyum lebar.
Erli sangat bahagia melihat suaminya sangat perhatian terhadap kesehatan bayi yang dia kandung.
Begitu puas berbincang—ria dengan sang bayi Rafan kembali melontarkan pertanyaan yang memicu perdebatan diantara mereka barusan.
"Apa jawabanmu atas pertanyaanku tadi?" Rafan kembali ke topik awal.
Erli menggigit bibir bawahnya dan menjauhkan tubuhnya untuk melihat wajah Rafan.
"Haruskah aku menjawab itu?"
"Hmm, harus!" sahut Rafan datar.
"Tidak bisakah besok aku jawabnya," cicit Erli.
Rafan menakupkan kedua tangannya disisi wajah Erli, sorot mata Rafan yang sayu membuat hati Erli luluh.
"Sejak pertemuan pertama kita, aku telah jatuh cinta padamu. Sayangnya, kamu tidak memiliki perasaan apapun terhadapku," akunya tanpa keragu-raguan.
Ini waktunya untuk aku mengakui perasaanku juga, ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Erli telah bersiap mengungkap perasaanya, tetapi terhenti kala pintu kamar mereka diketuk Zulaika.
"Fan, cepat keluar!"
"Ada apa Bu?" tanya Rafan dari dalam kamar.
"Di luar ada Marlita ingin menemui kamu," sahut Zulaika dari balik pintu.
Kening Erli mengerut kala mendengar ibu mertuanya dengan lembut menyebut nama wanita yang mencoba merusak hubungannya dengan Rafan.
"Suruh dia tunggu sebentar, Bu!" tutur Rafan kalem.
Merasa tidak ada sahutan lagi, Rafan berjalan menuju kamar mandi.
Ada masalah apa beruang hutan itu ke sini? gumam Erli dalam hati.
Rasa penasarannya membuat hati Erli gelisah dan karena rasa gelisah itu timbul perut Erli serasa mual ingin muntah.
"Mas, cepat mandinya! Aku mau muntah," kata Erli di depan pintu kamar mandi.
"Ya, sudah masuk aja!" sahut Rafan dari dalam kamar mandi.
"Jangan aneh-aneh deh, Mas! Cepat udah tidak bisa ditahan! Uhmm ...." Erli membloking mulutnya sendiri.
"Kamu baik-baik saja?" Rafan membuka pintu dan menuntun Erli masuk.
Benar saja, Erli memuntahkan seluruh isi makanan yang dia makan tadi. Rafan memijat leher belakang Erli dengan lembut.
"S-sudah Mas," Erli menepuk pelan punggung tangan Rafan.
Ketika Rafan hendak menuntunnya keluar, Erli mencegahnya.
"Aku bisa sendiri."
"Kamu yakin?"
"Hmm ...." Rafan melepaskan rangkulan tangannya dan membiarkan Erli berjalan keluar.
Baru saja Rafan membalikkan tubuhnya, gendang telinganya mendengar pekikan sang istri, segera dia menolehkan kepalanya melihat Erli yang telah tidak sadarkan diri tergeletak di lantai.
__ADS_1