Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Pertemuan Mantan Dan Suamiku


__ADS_3

Sopir taksi yang tengah memandangi layar ponsel sambil memaki tiada henti suami dari wanita yang dia bawa ke rumah sakit.


“Dasar pria bangsat!” makinya tanpa henti.


Rafan yang mendengar ocehan sopir taksi tersebut hanya mengangkat sebelah alisnya sambil melirik sebentar ke arah pria itu.


Sorang perawat yang menangani Erli keluar dan menghampiri pria bertato yang masih memasang wajah kesal.


“Bagaimana Pak?” tanya perawat dengan raut wajah yang penuh penasaran.


“Suaminya masih belum menjawab telepon saya, Sus. Saya bingung harus bagaimana dan harus bayar perawatan wanita itu pakai apa?” katanya lesu.


Rafan yang masih berdiri tidak jauh dari mereka langsung mendekat dan melontarkan pertanyaan.


“Ada apa Pak?” Rafan memiringkan kepalanya melihat wajah pria yang tertunduk lesu.


“Penumpang saya—" Ucapan Sopir taksi itu menggantung membuat Rafan mengerutkan keningnya.


“Tangani pasien dengan tindakan medis yang bagus, Sus! Soal biaya biar saja yang membayarnya,” ucap Rafan pada perawat yang masih berdiri menanti kepastian.


“Terima kasih, Tuan.” Sopir taksi itu menggenggam tangan Rafan dengan kedua tangannya, “saya benar-benar bingung harus berbuat apa! Dan ... dia penumpang pertama saya pada malam ini,” bebernya tanpa malu-malu.


Rafan menepuk punggung tagan pria bertato tersebut dan meninggalkannya di kursi tunggu, kedatangan Rafan ke rumah sakit ini karena Galang mabuk dan membuat keonaran. Akibatnya dia dipukul hingga mendapat cedera di kepalanya.


“Saya mau melakukan pembayaran atas nama Galang Pramana dan pasien wanita yang baru saja ditangani di ruang IGD malam ini,” kata Rafan sambil merogoh dompet di saku celana belakang.


“Baik, saya cek dulu. Mohon ditunggu sebentar!" ucap kasir rumah sakit.


Bima yang panik berlari cepat menuju resepsionis yang di mana bersebelahan dengan meja kasir. Kebetulan Rafan masih berdiri di sana, Bima sedikit menyenggol Rafan sampai suami Erli terdorong.


“Maaf!” Bima menunjukkan tangan kanannya.


Saat Bima hendak bertanya Sopir taksi yang membawa Erli ke sana memanggilnya.


“Tuan, saya di sini!” Sopir taksi mengangkat tangannya.


Bima mengangguk dan bergegas dia menghampiri pria bertato tersebut. Setelah berbincang sebentar dan menunjukkan keberadaan Erli, sopir taksi tersebut meninggalkan rumah sakit dengan hati yang lega.


Selepas melihat keadaan Erli, Bima buru-buru menghampiri Rafan yang masih terduduk santai menunggu kuitansi pembayaran milik Galang dan pasien yang tidak diketahui identitas aslinya yang tidak lain istrinya sendiri.


Bima duduk di sebelah Rafan dan dengan canggungnya dia memulai percakapan.


“Ehm ....” Bima berdeham sebagai awal dari perbincangan.


Rafan yang menoleh hanya melempar senyuman tipis.


“Anda ‘kah orangnya yang membayar biaya perawatan teman saya?” Bima mengelus pahanya berulang kali, perilaku Bima ini selalu terjadi kala dia gugup.


“Iya.” Rafan menjawab sesingkat mungkin.


“Terima kasih banyak sudah mau membantu. Tolong berikan nomor rekening Anda, agar saya bisa mengganti uang yang Anda gunakan tadi!” kata Bima sambil mengeluarkan ponselnya.


“Tidak perlu saya ikhlas membantu!” tolak Rafan dengan nada suara yang tegas.

__ADS_1


“Tapi biayanya terlalu mahal. Biarkan saya mengganti uang Anda!” desaknya terkekeh.


“Tidak perlu, saya membantu teman Anda karena kondisinya mengingatkan saya dengan istri saya yang menghilang lima hari yang lalu,” pungkas Rafan dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


“Maafkan saya! Karena saya, Anda mengingat kejadian itu.”


Rafan menepuk bahu Bima dengan senyuman yang menghiasi bibir pointy naturalnya.


“Perkenalkan, saya Bima.” Mengulurkan tangan kanan.


Rafan menyambut uluran tangan Bima, “Rafan.”


Bima yang memang notabene gampang bergaul bisa langsung akrab dengan Rafan yang irit bicara, kedekatan mereka terbilang aneh karena suami Erli tidak mudah berbaur dengan orang yang baru dia kenal. Namun, Bima bisa membuat Rafan ceria setelah kepergian Erli beberapa hari belakangan ini.


“Ngomong-ngomong ... lo ngapain di sini?” tanya Bima serius.


“Abang gue lagi dirawat di sini. Mungkin sebentar lagi kami akan pulang, setelah dia siuman,” kata Rafan dengan santai.


“Memangnya abang lo kenapa?” Bima kembali melontarkan pertanyaan.


Lagi-pagi Rafan menunjukkan lirikan tajamnya.


“Kalau gue cewek, pasti sudah kelepek-kelepek di depan lo!” seru Bima dengan menarik sudut bibirnya.


Rafan yang tidak mengerti langsung mengernyitkan keningnya, “Maksud lo?”


“Ya elah, ni orang kagak sadar!” keluh Bima dengan mata yang bergolak, “lirikan mata lo barusan ... bikin betina jatuh hati,” kata Bima seraya melirik jam tangan yang dia kenakan.


“Apaan?” Ketika Bima ingin melanjutkan ucapannya, perawat yang bertugas menangani Galang keluar dan memanggil Rafan sebagai perwakilan keluarga.


Rafan beranjak dari tempat duduknya menghampiri perawat yang telah membawa secarik kertas yang tertuliskan resep dokter. Bima yang masih menatap fokus teman barunya disadarkan oleh seorang perawat yang telah mendorong kursi roda ke arahnya.


“Tolong jaga baik-baik istrinya, jangan biarkan dia bergerak terlalu cepat dan melakukan hal berat lainnya!" pesan perawat.


“Baik Sus! Tapi dia bukan istri saya, dia hanya seorang teman dekat. Jika ... Suster bersedia saya akan melamar Suster sekarang juga,” seloroh Bima sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sontak wajah perawat itu memerah dan dia menelan kasar salivanya mendengar pernyataan lancang dari pria tampan yang bertubuh kekar. Mengetahui korbannya meleyot Bima membawa kursi roda diam-diam saat perawat itu tengah terbengong-bengong.


“Sial, aku salah memilih korban!” umpatnya seraya menggigit ujung bibirnya.


“Lah, kenapa gue bawa ni kursi roda? Dasar begok!” gerutu Bima menuju kamar Erli tempat temannya dirawat.


Sesampainya dia di sana, telihat mantan pacarnya itu tengah terbaring sambil menatap gelang yang dia kenakan.


“Apa yang lo pikirin?” Pertanyaan Bima membuat Erli tersentak dari lamunannya.


Erli melempar senyuman kecut ke arah Bima.


“Gu tebak, lo lagi mikirin suami lo ‘kan?”


Benar, saat ini Erli tengah memikirkan Rafan suami sekaligus pahlawannya, pikiran Erli dipenuhi banyak pertanyaan tentang hubungannya bersama Rafan. Perjanjian yang mereka buat selepas Rafan melamarnya di taman kota Bandung, di mana pernikahan mereka akan usai ketika bayi yang dikandung Erli telah lahir.


Sekarang di bulan Februari tanggal 5 lalu, seorang bayi telah lahir ke dunia ini dengan selamat dan sehat. Saat itu juga pikiran Erli terbagi, di mana dia bahagia anak yang dia kandung telah hadir di kehidupannya dan di sisi lain dia harus merelakan pria yang selama ini mendampinginya.

__ADS_1


Mungkin kemarin Erli bisa mungkir dari cinta yang telah memenuhi hatinya. Namun, detik ini dia mengaku telah jatuh cinta dan sayang dengan pria yang telah menjadi suaminya selama 5 bulan.


“Hei, kenapa lo bengong?” Bima menepuk bahu Erli.


“T-tidak. Aku tidak bengong!” kelit Erli sambil mengangkat kepalanya.


"Hilih, jelas-jelas Lo bengong!" sindir Bima.


“Soal yang tadi ... gue minta maaf. Tindakan gue telah membahayakan nyawa lo,” ucap Bima kalem.


Erli menghela napas berat sambil tersenyum tipis.


“Kamu ‘kan bisa lihat, aku baik-baik saja tanpa ada kekurangan apapun!” ujar Erli dengan wajah cerianya.


Bima menarik kursi dan duduk di samping bad.


“Kagum gue sama lo, sikap dan perilaku lo kagak ada yang berubah. Lo lihat gue! Semua berubah, dari logat, perilaku dan ... penampilan gue yang makin urakan,” bebernya tanpa keragu-raguan.


“Perubahan itu tergantung lingkungan dan manusianya. Jika kamu tinggal di tempat yang memang pergaulannya seperti ini,” tuturnya sambil menatap Bima dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Seperti ini gimana?”


“Ya, kayak kamu sekarang penampilannya. Aku pun akan berubah seperti kamu,” katanya dengan sebelah alis yang terangkat.


“Hmm, Bim.”


“Apa?” Bima menatap wajah Erli.


“Bayi aku di mana?”


“Astaga, gue lupa. Anak lo ada di ruang Budak.” Bima bergerak gelisah, “lo jangan ke mana-mana, tetap di sini!” perintah Bima sebelum keluar dari ruangan.


Pria itu berjalan cepat menuju ruangan khusus bayi, kebetulan dia berpapasan dengan Rafan yang tengah jalan-jalan.


“Ngapain lo di sini?” Menepuk bahu Rafan.


“Main sepak bola!” jawab Rafan ngegas.


“Bisa aja lo candanya. Dari pada lo jalan sendirian seperti orang kagak waras mending ikut gue,” ajak Bima dan tangan pria itu merangkul bahu Rafan.


“Ke mana?” Melirik Bima dengan tatapan yang membuat Bima emosi.


“Sudah gue bilang, jangan ngelirik gue dengan sorot mata yang kayak gitu!” tunjuk Bima.


“Memangnya lo bilang sama gue?” Rafan kembali bertanya.


“Emang belum, ya?”


Rafan mengangguk kecil.


“Sudah lupakan! Kita sudah sampai di tempat bos kecil,” katanya semringah dan jari telunjuk Bima mengacung ke arah baby E.


Sontak mata Rafan membulat ketika melihat wajah baby E, tanpa berucap apapun Rafan langsung mencengkeram kerah baju Bima dan netra suami Erli tersebut melotot.

__ADS_1


__ADS_2