Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Murka


__ADS_3

Bima mengusap kasar wajahnya dan pria itu menelan kasar salivanya, pria itu khawatir kalau mantan pacarnya itu akan mengamuk.


Aduhai, kenapa gue bisa terlibat di situasi seperti ini? Ucap Bima dalam hati.


“Sini Sayang, duduk di sama ibu!” kata Zulaika sambil menepuk sofa yang dia duduki.


Erli berjalan menghampiri ibu mertuanya dengan sorot mata yang terus tertuju ke Xavier—pria yang membuat darah Erli mendidih.


“Kamu kenal Xavier di mana, Sayang?” Pertanyaan Zulaika membuat Erli memalingkan pandangannya ke arah Jafar.


“Sayang ....”


Terkesiap Erli menolehkan pandangannya.


“I-iya Bu?” sahut Erli cepat.


“Kamu kenal dia di mana?” tunjuk Zulaika dengan tangan jempolnya.


Xavier yang semula tenang mendadak gugup dan buru-buru dia menjawab pertanyaan Zulaika yang dilontarkan untuk Erli.


“Dulu kami satu fakultas, Tan. Menantu Tante ini, sangat pintar. Prestasinya itu membuat dia terkenal di seluruh fakultas," ungkap Xavier dengan sorot mata yang terfokus kepada mantan pacar yang kini telah menjadi seorang ibu dari anaknya.


Bima yang menundukkan kepalanya sejak kehadiran Erli langsung menatap sang bos dengan rasa lega.


Syukur cowok pengecut ini bisa menjawab sebelum Erli, gumam Bima dalam hati.


“Yang benar?” Zulaika mencondongkan tubuhnya, "artinya Rafan enggak salah pilih istri." mencubit dagu Erli penuh kasih sayang.


"Tante benar, Rafan beruntung memiliki seorang istri seperti Erli. Sudah cantik pintar, baik hati dan pintar," puji Xavier sambil tersenyum.

__ADS_1


Wajah Zulaika sumringah, tapi beda dengan Jafar—pria itu terlihat menahan amarahnya semenjak Xavier masuk ke rumah ini. Jafar sangat ingat kata-kata yang terlontar dari mulut Xavier dulu, dia—seorang pria yang merendahkan keponakannya. Rahang yang mengetat dan kedua tangan Jafar mengepal keras sampai kukunya memutih menandakan kemurkaan pria tua tersebut.


Amarah yang berkobar yang dia tahan seakan sudah sampai dipuncaknya, Berulang kali Erli menggelengkan kepala agar sang paman tidak melakukan suatu hal yang bisa menghancurkan ketenangan di kediaman Zulaika. Dia sangat yakin, Zulaika tidak tahu-menahu hubungannya dengan Xavier.


“Ada urusan apa kau kemari?” ketus Erli.


“Menjenguk anak kalian. Tadi siang Tante bilang tidak bisa menghadiri meeting karena menyambut kepulanganmu dari Singapura,” kata Xavier tenang yang penuh percaya diri.


Erli menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Xavier yang kalem dan lembut.


“Padahal ibu udah bilang tidak perlu repot-repot datang ke sini, tapi Pak Xavier bersikeras.” Zulaika menepuk-nepuk punggung tangan menantunya.


“Xavier, Tan!” saran Xavier, “bolehkah aku melihat anakmu, teman?” timpal Xavier lirih.


“Boleh dong,” sahut Zulaika cepat.


“Erli ....” Zulaika menautkan alisnya kala menatap mantunya, “anak muda ini relasi kerja ibu, dan ... beliau juga sudah membantu ibu saat butik ibu mengalami kebangkrutan kemarin,” beber Zulaika panjang lebar.


"Tante jangan mengungkapkan hal itu," cegah Xavier.


“Enggak apa-apa, Erli sudah biasa dengar curhatan tante." Zulaika menatap sekilas mantunya.


"Erli menantu kebanggaanku Vier." Wanita paru baya tersebut mengelus rambut Erli.


Erli yang terharu langsung memeluk sang mertua.


"Ayo, kita lihat Khaiz!” ajak Zulaika


Xavier tersenyum melihat Erli. Namun, kebahagiaan Xavier menimbulkan amarah di hati ibu Alkhaiz, tanpa sadar Xavier meneteskan air mata ketika menatap wajah bayinya. Pria itu terharu melihat wajah Alkhaiz yang sangat mirip dengannya.

__ADS_1


“Tampan sekali, wajahnya sangat mirip dengan ayah kandungnya.” Xavier menoleh ke arah Erli berdiri, “hidung, mata dan bibirnya mirip banget seperti ibunya,” imbuh Xavier.


Zulaika mengelus pipi cucunya dengan sentuhan lembut.


“Kamu benar, Vier. Wajah Khaiz perpaduan dari wajah Rafan dan Erli,” balas Zulaika sumringah.


“Lo kagak dikasih tahu Rafan kalau dia mau ke sini?” bisik Bima.


“Enggak, kenapa kamu tidak memberitahuku tentang ini?” jawab Erli tanpa melihat wajah Bima.


“Gimane carenye? Rafan kagak kasih nomor telepon lo sama gue,” kata Bima ketus.


“Heran aku, kenapa dia kasi izin pria brengsek itu masuk ke rumah ini?” ujar Erli bersungut-sungut.


Bima hanya mengedikkan kedua bahunya. Erli melirik Bima sekilas dan melihat jam dinding yang ada di sebelah lemari pojok.


“Sudah malam, sebaiknya Anda pulang!" usir Erli tanpa basa-basi.


Zulaika mengernyitkan keningnya selepas Erli melontarkan kalimat yang mengusir Xavier secara halus.


"Oke Tante, aku pulang. Sudah cukup mengunjungi anak tampan ini.” Xavier menganggukkan kepala mengajak Bima keluar dari rumah ini.


Zulaika berjalan beriringan dengan Xavier keluar dari rumahnya, “Kapan-kapan main ke sini lagi, Ya.”


“Pasti tante.” Xavier mengacungkan jempolnya ke atas.


Melihat mobil mewah Xavier menjauh, Zulaika masuk ke rumah dan ketika dia melewati teras samping samar-samar dia mendengar seseorang yang sedang mengobrol. Karena penasaran dia mendekat untuk memastikan siapa yang ada di luar, semula Zulaika tidak ingin menguping pembicaraan mereka, tapi dia menahan langkahnya setelah mendengar suatu pembicaraan yang membuatnya terkejut bukan main dengan emosi yang meledak-ledak Zulaika menggebrak pintu teras.


“Sungguh kurang ajar kalian berdua.” Netra wanita paru baya tersebut melotot menatap dua orang itu, “kamu ... sungguh tega kamu melakukan hal ini, di mana urat malumu, huh?” sergah Zulaika sambil menuding wajah mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2