Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Rasa Yang Bercampur Aduk


__ADS_3

"Menjauh dariku!" kata Erli pelan tapi tajam.


Rafan semakin mengeratkan dekapan tangannya dan pria itu mengelus rambut Erli dengan lembut.


"Anda sudah tidak waras, ya? Coba lihat sekeliling Anda. Mereka semua memperhatikan kita," ujar Erli sembari memalingkan pandangannya.


"Aku tidak perduli. Walau ada Jendral sekalipun, aku akan tetap seperti ini sampai kamu tersenyum ikhlas," ucap Rafan dengan mata yang menyipit.


"Oke, saya akan menuruti semua keinginan Anda." Erli melirik tajam suaminya.


"Anda? Sejak kapan sebutan itu kembali?" Kening Rafan mengerut dan tatapannya menajam.


"Astagfirullah ...." Menghela napas yang berat.


"Mas Rafan, bisa menjauh sedikit?" tutur Erli seraya tersenyum lebar.


Rafan tertawa dan dekapan tangan pria bertubuh kekar tersebut melonggar. Senyuman ajaib Erli menghipnotis Rafan, perseteruan diantara Rafan dan Erli berakhir.


Namun, rasa kecewa wanita yang hamil lima bulan tersebut masih menumpuk di dalam sana.


Semua makanan yang ada di meja telah habis. Erli tertawa kegirangan saat dia merasakan gerakan bayinya.


"Mas, dia bergerak!" kata Erli dengan tangan yang melambai.


Sontak Rafan berdiri dan menyentuh perut sang istri, tendangan pertama yang dia rasakan membuatnya menangis terharu.


Melihat Erli terisak Rafan gelisah, matanya melirik ke sana kemari. Kepala pria itu mengangguk kepada semua orang yang memperhatikan mereka.


"Kamu kenapa menangis, Sayang?" Rafan menyekat air mata istrinya yang berlinang.


Erli segera menggelengkan kepalanya, "A-aku baik-baik saja."


"Lantas, kenapa menangis?" tanyanya terkekeh.


"Ini kali pertama dia bergerak di dalam sana." Erli mengelus perut buncitnya.


"Itu tandanya dia suka kalau ayah dan bunda-nya akur. Jadi jangan marah-marah lagi, ya!" pungkas Rafan kalem.


"Mana ada yang seperti itu?" Bibir Erli mengerut.


Rafan mencubit pipi tembam Erli sembari membantu istrinya berdiri.


"Ayo, kita pulang!"


Erli menatap sayu sang suami dan melangkah beriringan keluar dari restoran tersebut, tidak lupa dia menelisik setiap sudut restoran. Berharap bisa menemukan wanita seksi yang dijumpai suaminya.

__ADS_1


"Kamu cari siapa?"


"Tidak, saya tidak mencari siapa-siapa." Tersenyum sambil memalingkan pandangannya.


Jarum jam terus bergerak, detik demi detik telah mereka lalui bersama. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 22.30 mereka sampai di depan rumah, mobil sudah Rafan pikirkan di garasi.


Rafan menuntun sang istri masuk ke dalam rumah, tampak lengang tidak ada aktivitas apa pun. Namun, saat mereka hendak masuk ke dalam kamar, mereka di kejutkan dengan kedatangan Rania.


"Kenapa baru pulang? Dari mana saja Mbak, Mas?" Gadis muda itu memberondong kakak serta kakak iparnya.


"Habis makan di luar. Kamu, kenapa bangun?" Erli balik bertanya.


"Haus." Tangan Rania mengelus lehernya.


Gadis yang masih berusia dua puluh tahun tersebut meneruskan langkahnya menuju dapur.


Melihat sang adik pergi, Rafan menggendong Erli. Dibawanya sang istri ke dalam kamar dan di baringkan tubuh Erli di atas ranjang yang empuk.


"Tidur yang nyenyak, Sayang!" bisik Rafan di telinga Erli.


Bisikkan manja Rafan membuat bulu kuduk wanita itu berdiri, kumis tipis suaminya menambah rasa geli yang menggelitik.


"Mas ...." pekik Erli pelan.


Pria berkumis tipis tersebut berpaling menatap sang istri.


Erli melihat bibir suaminya yang sangat menggoda. Rafan yang bingung mendekat dan kembali bertanya.


"Kenapa memanggilku?" Mendekatkan wajahnya.


"Boleh tidak kita ...." Ucapan Erli terhenti dan kedua tangan wanita hamil tersebut memperagakan sebuah gerakan yang ambigu bagi Rafan.


"Kamu, mulai nakal, ya ...," kata Rafan seraya mengecup ujung kepala Erli.


Erli mengernyitkan dahinya dan dia kembali memanggil sang suami.


"Mas!" Kali ini dia sedikit menekan suaranya.


"Apa lagi?" Rafan Mengatupkan bibir.


Tanpa ada alasan yang kuat, Erli tersenyum simpul.


"Lah, malah tersenyum. Kamu mau apa?" sambung Rafan.


"Ayo, katakan."

__ADS_1


Erli menggigit bibir bawahnya dan jari telunjuk istri Rafan itu menyentuh bibir ranumnya yang berwarna merah jambu.


"Tu 'kan, kamu mulai nakal." keluh Rafan, tetapi pria itu menuruti permintaan istrinya dengan senang hati.


Silahturahmi bibir pun terjadi, tapi hal itu tidak berlangsung lama. Bukan karna Rafan tidak memiliki hasrat, tapi dia lebih membatasi kemesraannya agar tidak berlanjut ke sesuatu hal yang diharamkan oleh agamanya.


"Cukup, ya? Masih ingat sama ucapan ku waktu itu bukan?" Netranya berbinar-binar saat melontarkan pertanyaan.


Erli menjawab dengan wajah yang memerah karna malu, "Iya, saya masih ingat!"


"Alhamdulillah, cepat tidur!" Rafan menarik selimut dan diselimuti tubuh seksi sang istri.


***


Suara azan yang lamat-lamat membangunkan Erli dari tidurnya yang lelap, perlahan dia mengguncang tubuh sang suami.


"Mas, bangun sudah subuh."


"Hmm ...," gumam Rafan.


Kedua kelopak mata indah Rafan terbuka dan pria itu mengecup pipi istri tercintanya.


"Salat berjamaah, ya," ajak Rafan yang kini telah duduk di bibir ranjang.


Erli mengangguk dan tersenyum tipis. Sepasang suami istri tersebut melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, runtutan salat telah mereka lakukan sampai mereka melakukan dzikir bersama, kini sampailah di puncak doa.


Rafan menadahkan tangan dan dia membuka doa dengan bersholawat nabi. Semua hajatnya ia sebutkan dan tidak lupa dia mendoakan istrinya, yang kini duduk di belakangnya.


Setelah doa selesai, Erli meraih tangan sang suami dan di cium punggung dan telapak tangan Rafan. Tetesan air mata Erli membuat Rafan mengangkat dagunya.


"Masih pagi buta begini, kamu sudah menangis. Ada apa lagi?"


"Terima kasih ... terima kasih telah menerimaku apa adanya. Dan terima kasih sudah menjadi suami yang baik untukku, hanya kamu, Mas. Tidak ada pria yang memperlakukanku seper--," kata Erli terhenti.


wanita wamil itu tidak mampu melanjutkan ucapannya karna tangisannya yang semakin menjadi-jadi. Rafan mengusap kedua pipi Erli dan dipeluk erat tubuh istrinya tersebut, tangan pria itu mengelus lembut kepala Erli dan di kecupnya kening Erli.


"J-jangan terus-terusan berbuat baik padaku," tutur Erli.


Rafan terkejut dan dia menatap wajah Erli.


"Apa maksud ucapanmu?"


"Pernikahan kita hampir selesai, jika Mas memperlakukanku dengan baik seperti ini. Aku takut ... aku akan lebih serakah mengharapkan kehadiranmu!" ungkap Erli terisak.


Rafan membeku mendengar perkataan istrinya.

__ADS_1


"Jadi a-aku mohon, jangan hadir dengan sejuta senyuman! Aku takut tidak bisa menjauh darimu, Mas." Erli mengusap air matanya yang telah berlinang tiada henti.


Rafan memalingkan pandangannya dan pria itu menjauhkan diri dari Erli.


__ADS_2