
Erli berdiri dan menghampiri adik iparnya yang sedang berpura-pura merajuk.
“Adik kesayangannya Mbak, bisa enggak jangan bikin Mbak mati penasaran!” pintanya berbisik.
Rania berbalik menatap kakak iparnya.
“Mbak sih ... enggak mau menebak,” keluhnya manja.
“Oh, jadi tadi kamu ngajak main tebak-tebakan?” Mengangkat sebelah alisnya.
Rania mengangguk pelan sambil memainkan ujung baju yang dia kenakan.
“Sini kita cerita-cerita di kamar,” ajak Erli menggandeng tangan Rania.
Pintu kamar terbuka lebar aroma bunga Lily lembah menyebar ke seluruh ruangan dan indra penciuman Erli dimanjakan oleh kelembutan wangi dari bunga kecil yang berwarna putih. Sejenak dia hanyut akan aroma bunga Lily lembah tersebut dan seper-detik kemudian dia memimpin Rania masuk ke dalam kamar.
“Siapa yang meletakan bung ini di kamar mbak, Nia?” tanya Erli dengan mata yang berbinar.
“Mas. Dia bilang Mbak suka dengan wangi dari bunga ini,” jawabnya seraya duduk di bibir ranjang tempat tidur.
Erli menolehkan kepalanya dan mengangguk cepat, wanita yang memiliki bentuk bibir thin lips itu tersenyum lebar selepas menghirup aroma bunga Lily lembah.
“Itu bunga apa sih, Mbak?” tunjuk Rania dengan alis yang terangkat.
“Lily lembah.” Erli menarik kursi, “ayo, cepat ceritakan semua cerita saat aku tidak ada di rumah!” Permintaan Erli terdengar seperti perintah untuk Rania.
Gadis itu mengerutkan bibirnya dan mulai bercerita.
“Saat Mbak menghilang, Mas kaya orang gila. Dunianya seakan hancur mendengar Mbak menghilang tanpa jejak,” ungkap Rania sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
“Ah, yang benar saja!” ujar Erli sambil tersenyum masam.
“Ini beneran Mbak!” tegasnya, “Mas mengamuk di kantor direktur rumah sakit malam itu. Nia ingat betul sama gaya Mas ngomong saat itu,” jelasnya dan beranjak dari tidurnya.
Rania berdiri di samping meja rias dan berdeham berulang kali, untuk menetralkan suaranya dan perlahan dia mempersiapkan diri memeragakan gaya Rafan membentak staf rumah sakit seminggu yang lalu.
__ADS_1
“Kalau sampai istri dan anak-ku tidak ditemukan malam ini, ingat! Aku akan membuat hidup kalian tidak tenang!” Rania benar-benar memeragakan aksi kakaknya dengan sangat detail.
“Nah, gitu Mbak. Pokoknya malam itu mas kaya orang kesurupan, tiba-tiba banting barang dan teriak. Serem banget lihatnya,” beber Rania dengan kening yang mengerut.
“Masa iya, sampai kaya gitu? Mbak enggak percaya, orang kaku kayak dia bisa merasakan kehilangan. Tidak mungkin itu,” kelit Erli tidak percaya.
“Astagfirullah ... sayang Nia enggak ingat mau video-in mas waktu itu,” sesal Rania sambil menepuk kasur.
Tiba-tiba suasana berubah hening, dua wanita itu memiliki pikirannya masing-masing. Erli menatap adik iparnya berulang kali, begitu juga Rania. Di dalam kamar itu hanya terdengar suara detak jarum jam yang terus berputar bebas.
Semenit kemudian Erli membuka mulutnya dan berkata.
“Nia kita main games, yuk!” ujar Erli dengan alis yang bergerak naik.
Rania yang belum paham bertanya, “Games apa Mbak?”
“Kamu hanya perlu menjawab semua pertanyaan, jika kamu memang bisa minta apa pun yang kamu mau.”
“Kalau Nia kalah?” tanya Rania dengan tangan yang menyangga dagunya.
“Ya ... Kamu lakuin sebaliknya,” kata Erli kalem.
Tangan kanan kedua wanita kesayangan Rafan saling berjabatan, Rania duduk anteng dengan bantal di atas pangkuannya. Beda dengan Erli—istri Rafan itu masih duduk di kursi dan dia membawa sebuah amplop coklat.
“Apa isi amplop itu, Mbak?” tanya Rania dengan mata yang menyipit.
“Rahasia dong,” ucap Erli dengan kedua alis yang bergerak naik turun.
“Oke, Rania pastikan amplop itu akan jadi milik Nia!” katanya penuh percaya diri.
Erli meletakan amplop tersebut di atas nakas sebelah ranjang dan dia meminum air mineral.
“Are you ready?” Erli mengaitkan rambutnya ke belakang daun telinganya.
Adik iparnya mengangguk cepat dengan mata yang berbinar-binar.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan, jika orang yang kamu percaya berkhianat?” Pertanyaan pertama yang terlontar dari bibir thin lips milik Erli.
Rania mengelus dagunya berulang kali dan ekspresi wajah gadis berambut sebahu itu berubah menegang.
“Tentu saja marah. Tapi, Nia akan bertanya alasan dia mengkhianati Nia.”
Rania mengibaskan rambutnya berulang kali dan menggerakkan alisnya berulang kali.
Erli mengangguk, “Tindakan apa yang akan kamu ambil, jika pengkhianat itu menyakiti salah satu anggota keluargamu?”
“Rania cekik sampai mampus!” jawabnya cepat dengan tangan yang memeragakan cekikan mautnya.
Refleks Erli memundurkan tubuhnya dan netra istri Rafan itu melebar selepas melihat ekspresi wajah Rania yang seram.
“Ha-ha-ha ....” Suara tawa memenuhi ruangan.
“Jika pengkhianat itu aku, bagaimana?”
“Enggak mungkin! Mbak orang yang paling Nia percaya,” sahutnya cepat tanpa babibu lagi.
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Nia. Siapa saja bisa jadi pengkhianat,” jelas Erli dengan mata yang berkaca-kaca.
Anak bungsu Zulaika meletakkan bantal dan turun dari ranjang memeluk Erli.
“Nia sangat yakin Mbak tidak akan mengkhianati kami!” ucapnya penuh penekanan.
“Tapi ... aku seorang penipu Nia. Rafan juga tahu hal ini,” ujarnya tanpa keragu-raguan.
“Pernikahan ini juga akan segera usai Nia. Tidak ada hak untukku mempertahankan Rafan sebagai suamiku,” lanjutnya sesenggukan.
Rania melepas pelukannya dan menatap Erli dengan sorot mata yang tajam.
“Cukup bercandanya Mbak!” Rania duduk di hadapan Erli, “kalau mau bercanda kayak gini lusa saja, saat Nia free kagak ada yang dipikirin!” imbuh Rania seraya menyugar rambutnya ke belakang.
“Aku serius Nia, tidak ada sandiwara saat ini!” tegas Erli.
__ADS_1
"Lalu?"
"Pernikahan kami hanya sebuah kesepakatan, tidak ada cinta di hati kami. Namun, aku mulai jatuh cinta dengan Rafan dan hal ini di luar kendaliku," bebernya seraya mengeluarkan suara Yanga ada di amplop coklat yang dia letakan di nakas.