
Selepas salat subuh berlalu, Erli menyiapkan sarapan untuk semua orang. Terlihat Rania, Galang dan juga Rafan berjalan menuju ruang makan. Dari kejauhan Erli mendengar mertuanya sedang berbincang dengan seseorang, entah siapa? yang jelas Zulaika—tampak sangat senang menerima telepon itu.
Merasa tidak enak hati, Erli duduk terdiam memandangi Zulaika yang tengah asyik mengobrol, wanita yang tengah hamil lima bulan tersebut berniat sarapan bersama sang mertua. Namun, Zulaika masih sibuk dengan ponselnya, sesekali Erli melihat tawa lepas Zulaika.
Apa yang membuat ibu mertuaku sangat bahagia seperti itu? Baru kali ini beliau tertawa sampai mengeluarkan suara, gumam Erli dalam hatinya.
“Kenapa Mbak tidak makan?” Rania menatap Erli seraya menuang air ke gelas.
“Hmm, apa Nia?” Erli mengangkat kedua alisnya.
“Kenapa Mbak tidak makan?” tanya Rania lagi.
“Nungguin ibu. Kasihan kalau beliau sarapan sendirian,” jawab Erli sambil tersenyum tipis.
Rania mengangkat kedua alisnya sambil mengangguk pelan. Setelah semua orang selesai makan Rania membereskan piring yang mereka kenakan dan Erli mengantar Rafan ke luar rumah.
Begitu Rafan dan Galang pergi, Erli kembali masuk melihat Zulaika yang telah mengakhiri percakapannya dan bergegas mertuanya itu masuk ke kamar.
Rania menatap sekilas wajah kakak iparnya, merasa iba dengan Erli segera gadis itu mengikuti langkah sang ibu. Di dalam sana, Zulaika telah berpakaian rapi dan saat ini wanita paru baya tersebut tengah berdandan di depan cermin.
Rania sedikit tersentak melihat penampilan ibunya. Selama Zulaika menjanda; belum pernah Rania melihat ibunya pergi dengan riasan wajah, dia juga sangat ingat akan kata-kata yang pernah Zulaika ucapkan kala dia masih berusia sepuluh tahu.
“Setelah ayah meninggal, ibu janji tidak akan mengenakan lipstik ataupun bedak.” Ucapan ini terlontar kala Rania meminta Zulaika merias wajahnya saat hendak mengikuti lomba tari antar sekolah pada saat itu.
Kata-kata yang sudah terbukti selama sepuluh tahun, tetapi kejadian hari ini membuat Rania syok dan dalam hati kecilnya ingin menanyakan alasan Zulaika memakai berbagai riasan wajah.
Namun, dia takut menanyakan alasan ibunya, gadis kecil yang saat ini berusia dua puluh tahun itu hanya terpaku diambang pintu dengan sorot mata yang kosong memandangi Zulaika.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Zulaika sembari melirik ke arah anak gadisnya.
“Wajah Ibu.” Rania menutup pintu dan mendekati Zulaika.
“Sejak kapan Ibu memiliki niat berias diri lagi?” celetuk Rania sambil membuang wajahnya.
“Pagi ini!” Zulaika meletakan benda yang sedari tadi dia pegang.
“Jadi wanita itu kudu tampil cantik dan menarik,” sambung Zulaika sambil mengelus pipi anak gadisnya.
__ADS_1
Rania makin bingung dengan sikap ibunya yang aneh, tapi gadis itu masih berusaha berpikir positif tentang ibunya. Dia berpikir saat ini Zulaika tengah stres memikirkan butik baju yang telah berdiri puluhan tahun dilanda kerugian besar; akibat investor bodong yang telah menipu Zulaika.
Ketika masih bingung memikirkan usaha sang ibu, Rania mengingat kakak iparnya yang masih duduk menanti Zulaika.
“Sebelum pergi, sarapan dulu Bu! kasihan Mbak Erli sudah nungguin Ibu sejak tadi. Bahkan dia rela tidak sarapan demi makan bersama dengan Ibu,” ucap Rania lirih.
“Siapa yang menyuruhnya menungguku?” kata Zulaika sambil meraih tas jinjing yang terletak di atas meja rias.
Langkah Zulaika terhenti dan wanita paru baya tersebut merapikan jilbabnya sambil berkata.
“Bilang padanya! Aku tidak selera makan bersama dengannya,” pungkas Zulaika sambil meraih gagang pintu.
Ketika pintu itu terbuka lebar, Erli sudah berdiri di depan pintu dengan mata yang berkaca-kaca.
Rania cukup terkejut dengan keberadaan sang kakak ipar.
“S-sejak kapan Mbak berada di sana?” tanya Rania gugup.
“Baru kok, Nia.” Erli memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
Erli pikir Zulaika akan merangkulnya. Namun, kenyataannya Zulaika tidak menghiraukan Erli bahkan dia berlalu tanpa melontarkan pertanyaan ataupun sekedar basa-basi.
“Ibu mau pergi ke mana, pagi-pagi begini?” tanya Rania yang saat ini berlari membututi Zulaika.
“Anak kecil jangan ikut campur!” bentak Zulaika seraya masuk ke dalam mobil.
“Bukan ikut campur, Bu. Tapi Rania perlu tahu, Ibu mau ke mana?” desak Rania sambil memegang pergelangan tangan Zulaika.
“Kamu diam saja di rumah. Jaga tu wanita hamil! Jangan sampai dia menyentuh barang-barangku!” titah Zulaika dengan penuh penekanan.
“Ibu kenapa sih? Sejak tadi Rania perhatikan, sikap Ibu aneh banget.” Menatap sepasang bola mata ibunya dengan serius.
Zulaika mendorong Rania sampai jatuh terduduk di ubin.
“Sudah aku bilang, jangan banyak tanya! Tugasmu hanya belajar, diam dan jaga benalu itu di rumah ini!” bentak Zulaika dengan mata yang melotot.
“Ibu ...,” teriak Rania yang saat ini meronta bagai anak kecil.
__ADS_1
Akibat teriakan Rania, Erli jalan setengah berlari menghampiri Rania yang masih duduk di ubin.
“Kamu kenapa, Dek?” Erli menarik tangan Rania.
“Ibu, Mbak!” tutur Rania, “ibu sudah tidak sama lagi, ibu tega dorong Rania sampai jatuh.” Rania mengusap air matanya yang berlinang.
“Sabar ya, Dek. Mungkin ibu sedang banyak pikiran, sehingga beliau tidak begitu sadar dengan tindakannya.” Bujuk Erli lembut.
“Mbak, bawa ponsel tidak?”
Erli mengangguk dan memberikan ponselnya kepada Rania.
“Kamu mau apa Dek?” Erli kembali bertanya dengan kontak mata yang terus terfokus.
“Mas Galang dan Mas Rafan perlu tahu peristiwa ini, Mbak.” Jari Rania masih menari dilayar ponsel Erli.
Sudah ke lima belas kalinya Rania menghubungi kakaknya, tetapi tidak ada satu panggilan darinya yang dijawab oleh Galang maupun Rafan.
“Ada di mana sih, mereka ini?” ujarnya seraya menendang pot bunga.
“Sudah, jangan marah-marah! Kita ngobrol di dalam, tidak enak dilihat orang lewat.” Erli memperhatikan beberapa wanita paru baya yang memperhatikan mereka sejak tadi.
Tiba-tiba Rania membentak wanita yang sejak tadi menatapnya.
“Kalian lagi ngapain di depan rumah kami?” tanyanya ketus, “apa kalian pikir, kami lagi shooting!” pungkas Rania dengan berkacak pinggang.
Tiga wanita tua tersebut balik kanan sambil menggerutu, “Aku yakin sekali, jeng Laika tidak mendidiknya dengan benar.”
“Sepertinya begitu. Enggak habis pikir aku melihat sikapnya,” timpal wanita lainnya.
Rania yang mendengar ucapan tetangganya yang julid tersebut, langsung membuka kedua sendal yang dia kenakan sambil berjalan cepat mengejar tiga tetangganya yang dia usir tadi.
“Kalau berani jangan ngomong di belakang!” pekik Rania dengan tangan terangkat ke atas.
Tiga wanita paru baya tersebut berbalik menatap Rania dengan mata yang melotot.
“Berani kamu, ya!” kata wanita berpenampilan menor.
__ADS_1
“Fix, Zulaika tidak benar-benar mendidik anak ini,” cibir wanita lainnya.
Rania yang meradang langsung melempar sendal yang dia pegang sejak tadi.