Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Murka


__ADS_3

Pak Joko membawa Erli ke rumah sakit karna kondisi tubuhnya yang begitu lemah. Pak Joko memeriksa panggilan terakhir di ponsel Erli, ketika hendak menelepon, ponsel Erli berdering terlebih dahulu.


Halo, seru Pak Joko.


Di mana adik saya? Bagaimana bisa ponsel adik saya ada di tangan Anda? tanya Khafi dari seberang telepon.


Begini, adik Anda berada di RS. Sudirga. Silakan Anda ke sini!


Belum selesai Pak Joko menjelaskan tiba-tiba sambungan telepon terputus dan hal itu membuat Pak Joko bingung, tetapi Pak Joko dan Bu Sasmita masih tetap menunggu Erli.


Setelah dr. Arya selesai memeriksa kondisi Erli dia meminta suster untuk memanggil perwakilan pasien. Pak Joko dan Bu Sasmita masuk ke dalam kantor dr. Arya, sepasang suami istri itu duduk santai menghadap dr. Arya.


Dokter muda itu meraih pulpen dan menjelaskan kondisi Erli saat ini.


“Bapak dan Ibu jangan khawatir! Kondisi pasien baik-baik saja walau saat ini masih belum siuman. Selamat ya, Pak! Anak Bapak telah hamil dan usia kandungannya sekitar lima Minggu.”


Dr. Arya tersenyum sembari memberi resep obat dan vitamin untuk Erli. Mendengar ucapan dr. Arya, Pak Joko terkejut dan sepasang suami istri itu saling menatap satu sama lain.


“Dia hamil Dok?” tanya Bu Sasmita terheran.


“Iya Bu, anak Ibu hamil. Jangan biarkan dia beraktivitas terlalu berat! Agar tidak mempengaruhi kondisi janinnya,” pungkas dr. Arya.


“Tapi, dia bukan anak kami, Dok!” jelas Bu Sasmita pelan.


Sontak dr. Arya menatap kedua orang yang duduk di hadapannya sejak tadi.


“Maaf, Pak! Saya pikir pasien itu anak Bapak dan Ibu,” tutur Dr. Arya lirih.


“Enggak apa-apa Dok!” sahut Bu Sasmita sembari melirik suaminya.


Di luar sana Khafi tengah berlari menuju resepsionis, dia menanyakan nama Erli, tapi tidak ada nama adik sepupunya di data rumah sakit. Pemuda itu menatap penuh teliti sudut ruangan berharap melihat orang yang dia kenal, ketika dia kebingungan dan nekat masuk ke dalam ruang UGD;


Erli keluar dengan langkah yang tertatih, gadis itu meninggalkan kopernya dan hanya membawa tas jinjing favoritnya selama ini. Taksi berwarna hijau berhenti di hadapannya dan segera Erli masuk.


Di dalam sana Khafi masih kebingungan mencari adiknya di setip ruangan, bahkan dia menanyai beberapa pasien. Namun, usahanya itu bak mencari jarum di tumpukkan jerami.


“Mau sampai kapan aku berkeliling? Mana nomornya tidak dapat ditelepon. Di mana kamu berada?” gerutu Khafi seraya memandangi foto Erli di ponselnya.


Kebetulan Pak Joko dan Bu Sasmita melintas di hadapannya.


“Maaf, Tuan! Anda lihat gadis ini?” Khafi menyodorkan foto Erli.


“Ini ‘kan gadis itu, Pak!” seru Bu Sasmita.

__ADS_1


Sontak pemuda itu tersenyum bahagia mendengar ucapan wanita tua yang berpenampilan nyentrik.


“Anda yang tadi menelepon saya?” ucap Pak Joko.


Khafi mengangguk seraya menjawab Pak Joko. “Saya, kakak gadis itu!”


“Syukurlah, mari kita lihat dia," ajak Pak Joko.


Saat mereka menyusuri lorong rumah sakit Bu Sasmita melontarkan beberapa pertanyaan.


“Adiknya sudah nikah, ya?” Menatap sekilas.


“Hah ... i-iya dia sudah menikah. Memang kenapa, Bu?” ujar Khafi tergagap.


“Tidak apa-apa. Hanya saja, saya tadi terkejut saat dokter bilang kalau dia hamil lima minggu," ungkap Bu Sasmita.


Khafi tersenyum kecut mendengar penjelasan wanita tua yang kini berada di sebelahnya.


Terlihat seorang perawat tengah berlari kecil menghampiri mereka, perawat itu berbicara dengan suara yang terbata-bata.


“A-anak Bapak kabur dari rumah sakit." Perawat tersebut menatap Pak Joko dan Bu Sasmita secara bergantian.


“Apa ...?” Mata Khafi melotot selepas mendengar kabar adiknya.


Ke mana lagi kamu kabur dek? Batin Khafi.


Pemuda berambut cepak tersebut mengucapkan terima kasih terhadap Pak Joko dan Bu Sasmita yang telah bersedia membawa Erli ke rumah sakit, walau pun kini adik ya telah pergi. Langkah kaki Khafi terhenti saat perawat meneriakinya.


“Ada apa Sus?” Netra Khafi menatap penuh penasaran.


“Ini barang pasien!”


Khafi meraih koper adik sepupunya dan bergegas keluar mencari Erli di pinggir jalan.


“Ya Allah lindungilah dia, jangan biarkan terjadi sesuatu hal yang buruk Ya Allah, hamba mohon!” ucap Khafi sembari melajukan motornya.


***


Di keramaian Cafe Green Day. Erli masuk mencari sosok pria yang telah membuat hidupnya hancur menjadi seribu kepingan.


“Hai, bajingan tengik!” pekik Erli dari ambang pintu cafe.


Sontak semua pengunjung menatap tajam gadis berpakaian lusuh yang masih berdiri di tengah pintu.

__ADS_1


“Maaf, telah membuat kalian terganggu!” ucap Erli dengan wajah yang semringah.


Xavier sangat terganggu dengan kedatangan Erli di sana, mantan kekasih Erli itu menyuruh Brian menghentikan aksi Erli. Namun, kedatangan Brian di hadapan Erli membuat tekad gadis itu semakin kuat.


“Halo jongos, apa kabarmu?” sapa Erli dengan tatapan tajam yang membunuh.


“Stop Erli! Jangan membuat Xavier marah,” cegah Brian dan sahabat Xavier terebut mengajak Erli keluar, tetapi ajakan Brian ditolak mentah-mentah bahkan gadis itu menghempaskan kedua tangan Brian yang sedari tadi menggenggam pergelangan tangannya.


“Jangan buru-buru, Sobat!” imbuhnya, “lihat! Semua orang di cafe ini sedang menunggu kebenaran yang akan aku ungkap.” Erli berputar dengan tangan yang mengacung ke sembarang arah.


Gadis itu terus melangkah maju mendekati meja Xavier. Erli tersenyum lebar di hadapan wajah pemuda kaya raya tersebut.


“Makanlah sepuas hati kalian! Nanti dia yang akan traktir,” ujar Erli lantang.


Suara sorakan dari semua orang terdengar menggema, Xavier mengepalkan kedua tangannya.


Jari telunjuk Erli mengacung ke arah Xavier.


“Dia ini anak konglomerat dan di sini, orang tuanya juga memiliki usaha yang cukup terkenal. Kalian tahu Hotel Bramaya? Itu milik ayahnya dan butik Harluna itu juga milik ibunya, jadi hari ini semua makanan gratis!” beBer Erli dengan suara yang cukup lantang.


Lagi-lagi para pengunjung bersorak dan salah satu dari mereka berteriak menanyakan siapa Erli dan kenapa dia memberitahu mereka status Xavier.


“Teteh saja?”


Erli tersenyum hambar saat menatap gadis muda menanyakannya.


“Aku adalah budak bajingan ini. Jangan khawatir, berandal ini tidak akan kabur!” sahut Erli sembari menatap tajam Xavier.


Di pojok cafe ada seorang pria yang sejak tadi tidak berhenti menatap Erli dan pria itu terbengong-bengong melihat keberanian Erli yang meneriaki seseorang.


Erli menghampiri Xavier yang tampak murka dengan sikapnya. Gadis yang memiliki tahi lalat di samping mata kiri, mengangkat semangkok Es campur dan di tuangkan es tersebut di kepala Xavier sembari berkata.


“Ingat kejadian ini seumur hidupmu! Aku, Erliana Sameira tidak akan menundukkan kepala di hadapanmu dan aku aku bersumpah, hidupmu akan sengsara sampai kau mati.” Erli melempar mangkok yang dia pegang dan dia kembali berseru.


“Bos, ambil uang tagihannya ke pada bajingan ini!”


Xavier berdiri dan mata pemuda itu memerah, Xavier mengajar tangannya dan tamparan itu mendarat di kedua pipi Erli. Semua pengunjung terdiam selepas mendengar suara tamparan, suasana cafe yang semula ramai kini hening.


Semua mata tertuju kepada Xavier dan Erli. Gadis yang Xavier tampar, tersenyum sinis dan netranya membulat saat meneliti Xavier dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Ketika Xavier hendak melayangkan pukulan lagi, seorang pria beranjak dan menghalau pukulan itu, dengan tatapan mata yang membunuh pria tersebut berucap.


"Jika berani lawan gua! Jangan memukul wanita seenak jidat lu!"

__ADS_1


Xavier yang tertantang langsung melempar sebuah piring ke arah pria yang menuntun Erli.


__ADS_2