
Selama ini Galang tidak pernah melihat Rafan marah, bahkan dia tidak pernah melihat adiknya emosi. Namun, kali ini dia mendapat ucapan ketus Rafan dan tatapan adiknya menajam setajam silet, kala membahas hubungan intimnya dengan sang istri.
"Sabar we! Istighfar lo, Fan." Galang menggaruk rambut belakangnya yang tidak gatal karena rasa canggung.
"Gue peringatkan! Jangan pernah memiliki niat buruk terhadapnya," tutur Rafan lirih, rupanya sejak beberapa menit yang lalu dia menetralkan emosinya yang sedikit memuncak.
"Gue kagak punya niat jahat. Gue memang mendambakan istri seperti Erli, tapi ... gue tahu batasan gue sebagai saudara, Lo." Galang meraih topinya yang dia lepas sejak masuk dalam mobil.
"Jaga dia baik-baik, jangan biarkan dia pergi sejengkal saja dari kehidupan lo! Dia istri yang baik," ucap Galang menasihati Rafan.
"Gue tahu!" ketus Rafan, "lagi pula, siapa yang akan membiarkannya pergi." Rafan mengucapkan kalimat itu pelan mungkin.
Namun, ucapannya terdengar jelas di gendang telinga Galang.
"Oh ... rupanya lo sudah mulai jatuh cinta dengannya!" celetuk Galang dengan kedua alis yang terangkat.
"Kalau iya kenapa?" tanya Rafan terus terang.
Galang tersenyum miring mendengar pernyataan adik laki-lakinya.
"Bagus, aku suka dengan sikapmu yang gentleman!" Galang keluar dari mobil sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
***
Rafan masuk ke dalam ruang kerjanya dan bergegas mengganti seragam mengajarnya dengan kemeja biru langit yang telah disiapkan oleh Erli tadi subuh di tas kerja Rafan.
Sejak kandungan Erli menginjak usia empat bulan Rafan memutuskan tidak akan mencukur kumis atau rambutnya. Walau di atas bibirnya ditumbuhi rambut kecil tidak mengurangi kadar ketampanan Rafan, bahkan wajahnya terlihat semakin manis. Para karyawan wanita yang bekerja di restoran itu mengagumi kumis tipisnya.
Menurut desas desus karyawan wanita, Rafan lebih terlihat lebih maco dan wajahnya semakin imut menggemaskan sejak rambut kecil itu tumbuh di atas bibirnya.
"Kado apa yang harus gue beli untuknya?" Rafan berdiri disebelah jendela sambil mengelus dagunya, "haruskah gue membelikan tas branded? Tapi ... gue rasa itu sangat berlebihan." Masih berpikir keras tentang barang yang akan diberikan pada Erli.
"Memutuskan hal sepele saja membuat gue pusing, apa lagi gue harus memutuskan hal yang besar? Beberapa bulan lagi gue akan menjadi ayah, tetapi gue masih ti—" Ucapan Rafan tergantung kala gendang telinganya mendengar suar ketukan.
"Iya, masuk!" Segera dia duduk di kursi berwarna hitam.
"Maaf, Pak! Di luar sana ada seorang pria yang ingin bertemu dengan Bapak," ujar karyawan senior yang bekerja dengannya.
"Suruh dia masuk ke sini!" pinta Rafan dengan tegas.
"Pria itu sudah memesan private room dan menunggu Bapak di sana," tuturnya cukup jelas.
"Kamu boleh pergi!" Rafan mengangguk ke atas mengisyaratkan karyawan untuk meninggalkan ruang kerjanya.
__ADS_1
Pelayan wanita itupun pergi meninggalkan Rafan yang masih duduk santai di kursi kedaulatannya. Mata Rafan nyalang mencari keberadaan pria yang ingin bertemu dengannya.
Suami Erli itu masih berdiri diambang pintu mencari keberadaan Pria berbaju abu-abu. Kala masih mencari di setiap sudut, tiba-iba dia merasakan ada seseorang yang menepuk bahunya. Saat dia membalikan kepala pria itu memanggil namanya.
"Rafan?" Alis pria itu menaut kala menatap Rafan.
"Ya, ini saya. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Rafan cepat sambil berbalik sempurna menatap pria yang mencarinya.
"Gue mau berbicara empat mata dengan lo," tutur pria yang berhadapan dengannya.
Usia mereka terpaut 6 tahun, Rafan memperhatikan cara berpakaian pria itu yang sangat berbeda bisa diprediksi bahwa pria itu—orang kaya.
Dari ujung kaki sampai ujung kepala, pria itu mengenakan barang mahal yang bermerk. Dari sepatu dan jas yang dia kenakan terlihat sangat berkelas, Rafan terasa canggung saat pria itu menemukannya sedang memperhatikan segala gerak tubuhnya.
"Apa ada yang aneh yang mengganggu?" tanya pria itu kalem Dengan bibir tersenyum miring.
Rafan yang canggung segera melempar senyuman kecut dan mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan pria tersebut.
"T-tidak! Saya hanya mengingat-ingat di mana bertemu dengan Anda," ucap Rafan kalem.
Pria itu tertawa kecil selepas mendengar pernyataan Rafan.
__ADS_1