
Netra sopir taksi terfokus terus ke jalan, tapi kali ini pria bertato itu melirik penumpangnya yang tengah merintih kesakitan. Melihat Erli terus meringis menahan sakit lantas dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Nona tidak apa-apa?" Melihat Erli sekilas lalu dia kembali menatap keramaian jalanan.
"T-tolong bawa saya ke rumah sakit terdekat, Pak!" pinta Erli terbata-bata.
"Baik Non," jawab sopir tersebut seraya menganggukkan kepalanya.
Ibu muda itu merasakan nyeri yang sangat amat luar biasa di bekas luka jahitannya, rintihan Erli yang semakin kencang membuat sopir taksi itu merasakan sakit yang dirasa Erli saat ini.
"Nona masih bisa bertahan?" tanyanya sambil melirik Erli dari spion tengah.
"Ya, Pak." Begitu tegas Erli menjawab.
Disela sakitnya Erli meraih ponsel Bima yang terjatuh saat dia menggeser tubuhnya.
"Ya Allah ...." Dari suara Erli bisa dipastikan dia sangat tersiksa dengan rasa sakit itu.
__ADS_1
"Kenapa Nona?" Sopir taksi tersebut menepikan mobilnya di bahu jalan.
"Pak tolong bantu saya menelepon suaminya!" Wajah Erli membuat sopir taksi itu semakin khawatir.
"Baik Non." Meraih ponsel yang tidak jauh dari kaki Erli.
Pria yang berprofesi sopir taksi tersebut mulai menelepon nomor yang disebutkan oleh Erli, seper-detik dia menunggu sabungan telepon bukannya jawaban dari Rafan. Namun, operator yang menjawab panggilan tersebut membuat sopir taksi sedikit emosi karena panggilan teleponnya selalu teralihkan.
"Suami Nona masih sibuk bekerja mungkin. Ini saya sudah menelepon puluhan kali tetap tidak ada jawaban," sungut sopir taksi, tampak kekesalan di wajah pria yang memiliki tato di kedua tangannya.
"Cepat kemudian mobilnya Pak, bawa saya ke rumah sakit!" perintah Erli dengan wajah yang semakin pucat.
Suara klakson motor terdengar sangat nyaring membuat sopir itu menepikan mobilnya dengan sangat terpaksa. Salah seorang polisi yang bertugas mengetuk kaca mobil.
Sapaan polisi pada umumnya kala bertugas, " Selamat malam, apa Anda tidak menyadari bahwa Anda telah menerobos lampu merah?" Tangan polisi itu mengarah ke jalan yang telah dilalui oleh mereka.
"Malam Pak, saya sangat mengetahui itu dan saya menyadari kesalahan saya. Tapi, saya melakukan ini karena penumpang saya lagi sakit. Dia juga sudah tidak bisa menahan sakit yang dia rasa," ungkap pria bertato itu sambil mengarahkan tangannya ke arah Erli yang tengah meringkuk kesakitan.
__ADS_1
"Kami kawal agar lebih cepat sampai ke rumah sakit," kata salah seorang polisi.
Dengan wajah sumringahnya sopir taksi menjawab ucapan polisi.
"Terima kasih Pak!"
mobil yang membawa Erli melaju kencang dan mereka(Polisi lalulintas) benar-benar mengawal taksi itu sampai masuk ke kawasan rumah sakit Jaya Kusumawati. Kedua polisi itu turun dari motor gedenya dan menghampiri perawat yang bertugas di IGD, selang beberapa detik saja seorang perawat pria datang dengan brankar. Erli yang sudah tidak sadarkan diri dibopong dan dibaringkan di brankar yang dibawa perawat tersebut.
Tak lama seorang dokter masuk ke dalam ruangan dan memeriksa denyut nadi dan jantung, dokter pria itu juga membuka baju Erli. Tampak jahitan Caesar Erli terbuka lumayan lebar. Dokter muda itupun melakukan evaluasi atas jahitan tersebut, selain hal itu salah satu staf kesehatan menanyakan identitas pasien. Sontak Sopir taksi terkejut kala mendengar identitasnya dipertanyakan, buru-buru dia menjawab
"Sus, saya bukan suaminya! Saya hanya sopir taksi yang mengantarnya kemari," sahut tegas sopir taksi.
"Jika demikian silakan Anda menghubungi keluarga atau suami pasien!" perintah perawat wanita itu.
"Iya, Sun." Sopir taksi itu mengangguk cepat selepas perawat meninggalkannya sendirian.
Lagi-lagi telepon yang dia buat tidak mendapatkan respon, bahkan Rafan sedang berada di luar panggilan lain.
__ADS_1
"Ya Tuhan ... kenapa ini begitu menyayat hati!" kata Sopir taksi tersebut, "Apa dia tidak peduli dengan istrinya.
Saat pria bertato itu sibuk menatap layar ponsel Bima, Rafan yang baru sampai di rumah sakit Jaya Kusumawati melewatinya dan berdiri tepat di belakang sopir taksi tersebut.