Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Siapa Rafan


__ADS_3

Semula semua orang acuh dengan perdebatan Rafan dengan Zulaika, tapi kala Rafan menyinggung masalah itu semua mata tertuju padanya. Seolah bagai kaset rusak yang disetel, memori masa lalu Zulaika kembali terbayang jelas dan itu membuat ibu orang anak tersebut murka. Amarahnya semakin menjadi-jadi, matanya memerah dan pembuluh di lehernya berdenyut.


“Jangan sama ‘kan aku dengan wanita itu!” bentak Zulaika memarahi anak lelakinya yang telah berusia 32 tahun.


“Bedanya apa Bu?” tanya Rafan dengan mata yang berkaca-kaca.


“Sangat jauh berbeda aku dengannya. Statusmu tidak sama dengan anak itu!” tegas Zulaika dengan mata yang melotot.


“Benar Bu, statusku memang tidak sama dengan Alkhaiz.” Mengangguk pelan.


“Anak itu jelas-jelas tahu siapa bapak kandungnya, kalau Rafan—Ucapan Rafan terhenti kala tamparan keras mendarat di pipi kananya.


“Pukul lebih keras Bu! Agar Rafan bisa menebus semua kesalahan pria itu,” kata Rafan pelan, tapi tajam.


Mungkin tadi semuanya diam, tapi kali ini adik dari mendiang Suprianto membuka suara.


“Rafan jaga ucapanmu, Nak! Jangan kau sakiti lagi hati ibumu,” ucap Derlan mencegah keponakannya agar tidak melanjutkan tindakannya yang menentang Zulaika.


Rafan menatap adik ayahnya dan berjalan mengampiri pamannya itu.


“Om, mungkin dulu Rafan bisa menahan tangis Rafan saat dibully. Tapi, kali ini Rafan harus melakukan sesuatu yang menurut Rafan benar,” tuturnya tanpa keragu-raguan.


“Apa menurutmu menikahi wanita yang tengah mengandung anak orang lain, itu benar?” Mendengus kesal.


"Bisakah Ibu tidak menyinggung itu lagi!” bentak Rafan, baru kali ini dia berkata kasar pada sang ibu.


Semua orang terkesiap melihat raut wajah Rafan yang berubah drastis.


“Apa bedanya aku dengan Khaiz?” Rafan kembali melontarkan pertanyaan yang sama.


“Jelas beda Rafan!”


Pria itu menarik sudut bibirnya yang menciptakan senyuman miring, setelah Dewi menimpali ucapan Zulaika.


“Iya perbedaanku dengannya memang sangat jelas.” Mengangguk-angguk jengah.


“Dia bisa mengetahui siapa ayahnya sedangkan aku ... aku tidak tahu siapa ayah kandungku.”


Bak tersambar petir di siang hari, itulah yang saat ini Zulaika rasakan begitu juga anggota keluarga yang lain.


“Aku ... aku ‘lah yang cocok menyandang predikat anak haram itu, Ibuku!” papar Rafan tanpa tedeng aling-aling lagi.


“Beruntung Om Supri menikahi Ibu, yang di mana saat itu mengandung Rafan. Anak hasil pemerkosaan,” pungkasnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Rania yang tidak tahu menahu soal ini terkejut bukan main, gadis berambut sebahu itu menghela napasnya.


“Dari SD sampai SMA, Rafan dibully oleh mereka yang memiliki ayah kandung.” Rafan berdiri tegak lalu menghampiri Nimi—sepupu yang satu sekolah dengan Rafan dulu.


“Coba kau kasih tahu, Budemu itu! Bagaimana caraku melawan rasa takut yang selalu menghantuiku setiap berangkat sekolah. Cepat katakan, Nimi!” pekik Rafan dengan suara yang meninggi.


Wanita yang sebaya dengannya itu terdiam tanpa memperlihatkan wajahnya. Ya, Nimi menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menjawab ucapan Rafan karena murid yang suka meledeknya adalah anak paman Derlen.


Keponakan kandung Zulaika tersebutlah yang membocorkan rahasia yang tersimpan Rapat-rapatnya.


\*\*\*


Tiga puluh dua tahun yang lalu di mana Zulaika masih berusia 20 tahun. Parasnya yang kearab-araban membuat para remaja laki-laki sangat tergila-gila padanya, di suatu ketika saat Zulaika pulang dari kuliahnya ada satu remaja pria yang telah menantinya di depan gerbang.


“Aku mau bicara empat mata sama kamu,” kata pria itu memberanikan diri.


Zulaika yang terkenal ramah pun mengangguk tanpa berucap apa pun. Langkah kaki mereka berjalan beriringan menuju ke lapangan basket, di sana teman Wendy telah menunggu ke datangan mereka.

__ADS_1


Saat Wendy membuka pintu teman-temannya bersiap untuk melakukan kejutan ketika dia melontarkan pertanyaan cintanya kepada Zulaika.


“Untuk apa kita datang ke sini? Bicara di luarkan bisa Wen,” kata Zulaika lembut.


“A-ada sesuatu hal yang tidak bisa aku bicarakan di luar sana,” jawab Wendy gugup.


Zulaika berbalik badan menatap teman beda fakultas tersebut.


“Memangnya apa?” Menatap penuh penasaran.


Di sinilah teman-teman Wendi direpotkan, mereka menyiapkan sebuah pertunjukan yang akan dipandu langsung oleh Wendi.


Apa kau tahu sebuah rahasia yang tersembunyi di langit malam


Hamparan langit malam yang berhiaskan bulan dan juga bintang yang saling berdekatan


Apakah kau tahu kecemburuan sang matahari yang bersembunyi dibalik awan


Dia berdiri di balik awan dan dengan ikhlas memantulkan sinarnya untuk sang rembulan matahari ingin bersanding dengan rembulan


Sebagaimana bintang yang selalu mendampingi bulan setiap malam


Sorak teman-teman Wendi memenuhi ruangan dan selanjutnya mereka berteriak.


“Terima Laika!”


Wendi berlutut di hadapannya dengan sebuah bunga mawar di tangan. Zulaika menatap Wendi dan teman-teman lainnya secara bergantian, tampak kegelisahan di raut wajah cantik Zulaika saat itu.


Saat-saat mendebarkan telah tiba, di mana Zulaika harus menjawab pertanyaan Wendi.


“Aku ... aku enggak bisa terima cinta kamu, Wen. Bukan aku memiliki kekasih atau semacamnya,” tutur Zulaika gelisah, “aku enggak mau mengecewakan kedua orang tua aku. Beliau menginginkan aku menjadi sarjana kedokteran dengan nilai yang bagus,” timpal Zulaika lembut.


Patah, ya saat itu hati Wendi patah dan dia juga malu dengan teman-temannya yang sudah membantu mempersiapkan semua ini. Namun, pemuda itu menutupi rasa malunya dengan senyuman termanis yang dia suguhkan.


Semenjak penolakan Zulaika, Wendi berubah menjadi kepribadian yang diam jarang berbicara. Sebelum kejadian itu Wendi dikenal sebagai pemuda yang ceria suka bercanda dan banyak teman yang terhibur dengan sikap konyolnya.


Namun, seminggu ini dia sudah tidak masuk kuliah semua teman-temannya bingung dengan menghilangnya Wendi. Zulaika yang mendengar kabar itu langsung menyalahkan dirinya yang telah membuat pemuda itu mogok kuliah.


Gadis berambut keriting itu melenggang menghampiri teman Wendi yang tengah asyik berkumpul di taman kampus.


“Sepertinya dia menuju ke sini,” tunjuk Hesti dengan alisnya.


Yogi—teman dekat Wendi mengerutkan keningnya menatap kedatangan Zulaika.


“Mau apa kau ke sini?” ketus Yogi tanpa menatap wajah Zulaika.


“Aku mau menanyakan tempat tinggal Wendi, teman kalian.” Zulaika masih berdiri di samping pohon.


“Untuk apa kau menanyakan hal ini?” sahut Hesti—pacar Yogi.


“Aku hendak meminta maaf dengannya, aku rasa—" Ucapan Zulaika terhenti karena Yogi menyambar.


“Rasa bahwa dia pantas dihina, iya! Kau memang cantik Zulaika, tidak bisakah kau berpura-pura menerimanya walau cuma seminggu.” Kedua alis Yogi terangkat.


“Itu akan menambah rasa sakit dihatinya jika dia mengetahui kalau aku menipu perasaannya,” kata Zulaika yang kini menatap wajah mereka satu per satu.


“Dan aku yakin ... kalian akan lebih membenciku jika aku melakukan itu terhadap sahabat kalian,” ucap Zulaika dengan bibir bergetar.


“Sudahlah jangan berkelit untuk membela dirimu sendiri!” seru Hesti.


“Tolong biarkan aku mengetahui rumah Wendi dan menemuinya,” tutur Zulaika lembut.

__ADS_1


Melihat ketulusan di mata Zulaika, Yogi merobek keras dan mencatatkan sebuah alamat untuk Zulaika.


“Terima kasih Yogi.”


“Semoga Wendi mau mendengar penjelasanmu.”


Zulaika mengangguk dan melenggang meninggalkan mereka.


“Tunggu!” pekik Hesti.


Gadis berkulit sawo matang tersebut berlari kecil menghampiri Zulaika—gadis yang disukai temannya.


“Saranku kalau mau ke sana jangan sendirian, ajaklah teman agar kamu aman. Karena jalan menuju rumah Wendi sangat sepi,” kata Hesti memperingati.


Zulaika mengangguk kecil dan melempar senyuman kepada lawan bicaranya. Jam kuliah pun selesai gadis berambut keriting tersebut buru-buru memasukkan semua bukunya ke dalam tas, selepas itu dia berjalan cepat menghampiri temannya Gina.


Zulaika mengajak Gina pergi ke rumah Wendi, di pertengahan jalan sopir angkot memperingati mereka agar lebih berhati-hati pergi ke daerah itu karena banyak kejahatan yang terjadi di gang flamboyan kembang.


Benar saja saat mereka berjalan di gang tersebut tidak ada satu pun orang mereka temui, hari yang semakin gelap membuat suasana semakin mencekam. Dua gadis itu saling berpegangan erat, Gina yang notabenenya penakut mencengkeram baju Zulaika sangat erat.


“Ika, kita pulang aja. Aku takut!” katanya gelisah.


“Sebentar lagi kita sampai, Gin. Sabar dong Jangan buat aku takut juga!” keluhnya dengan mata yang melirik ke sana kemari.


Ketika mereka sampai di ujung gang netra mereka berdua menangkap sosok pria berambut gondrong sedang duduk.


“Permisi Bang,” sapa mereka berdua.


Pria berambut gondrong tersebut tidak menjawab, sorot mata yang tajam membuatnya kedua gadis muda itu merkidik ketakutan. Zulaika dan Gina mempercepat pergerakan langkah mereka sampai ke rumah Wendi, dari meta ekor Gina melihat pria itu mengikuti mereka.


“Ika, kenapa dia ngikutin kita? Jangan-jangan dia mau berbuat jahat,” bisik Gina yang saat ini sangat khawatir.


“Dalam hitungan ke 3 kita lari.” Zulaika mulai menghitung dan dalam hitungan detik dua gadis itu berlari sampai menemukan pos ronda.


“Gin, bagaimana dia masih ngikutin kita?” tanya Zulaika dengan suara napas yang tersengal-sengal.


“Enggak k-keliatan lagi, Ka.” Gina menjawab pertanyaan temannya tergagap-gagap.


Langkah mereka terhenti dan Zulaika mengajak Gina duduk di pos ronda, masih mengatur ritme pernapasannya. Tiba-tiba gendang telinga mereka mendengar suara tawa yang terbahak-bahak dari balik pohon besar.


Sontak netra mereka melotot melihat segerombol lelaki yang mendekati mereka.


“Kenapa berlari gadis manis?” tanyanya menyeringai.


“Lebih baik sama kita bersenang-senang di sini,” sahut pria lainnya sambil melirik temannya yang bertubuh kurus.


“Yo’i,” seru pria lain.


Ke empat pria itu mendekat dan melakukan tindak kriminal yang mengakibatkan kedua gadis itu menjerit histeris. Teriakan pilu mereka tidak ada yang mendengar, Isak tangis dan tubuh yang meronta tidak dapat mengurungkan niat preman itu melakukan hal tersebut.


\*\*\*


Seakan balik ke peristiwa tragis itu, Zulaika menjerit sejadi-jadinya membuat semua orang panik, begitu pula dengan Rafan. Dia berlari menghampiri ibunya yang meringkuk ketakutan.


Sentuhan tangan Rafan membuat jerit tangis ibunya semakin kencang, Rania yang kesal mendorong Rafan.


“Pergi jauhi ibuku!” bentak gadis itu membuat Rafan mematung melihat ibunya yang jatuh pingsan yang saat ini di bopong Handoko.


“Tadi Om sudah memperingati mu, untuk menghentikan semuanya. Tapi, kau masih melakukannya tanpa memikirkan kondisi ibumu. Walau sudah berlalu lama ibumu masih mengingat jelas kejadian tragis yang menghancurkan hidupnya dan juga menewaskan Gina sahabat ibumu,” beber Derlan panjang lebar.


“Jika kau mau membela istrimu yakinkan ibumu perlahan dan jangan menyinggung peristiwa itu lagi,” tambah Derlan pelan.

__ADS_1


Rafan yang syok masih duduk termangu memikirkan ucapan Derlan.


__ADS_2