
Mata yang melotot dan dengan suara napas yang memburu, Rafan menarik keluar Bima dari Bangsal Budak. Suami Erli memukul Bima berulang kali sampai Bima jatuh tersungkur di lantai.
“Apa yang membuat lo marah, Bro?” tanya Bima seraya mengusap ujung bibirnya yang berdarah.
“Jangan banyak bicara lo, keparat!” Kali ini Rafan mengarahkan sikutnya ke pelipis pria yang telah membantu istrinya keluar dari sarang singa.
“Tunggu Fan!” pekik Bima disela pukulan Rafan.
“Selama 5 hari gue mencarinya bagai orang gila, lo ....” Ucapan Rafan menggantung membuat Bima penasaran.
Pria itu kini tidak tinggal diam, dia bangkit dan melawan Rafan—orang yang baru dia kenal beberapa jam lalu.
Perawat serta orang yang ada di sekitar sana berteriak histeris kala melihat wajah dua pria itu babak belur dan berdarah. Dari kejauhan dua satpam berlari sambil meniup peluitnya.
“Hei, berhenti!” teriak salah satu satpam.
Namun, teriakan itu tidak dihiraukan oleh Bima dan juga Rafan. Mereka tetap baku pukul satu sama lain hingga di mana tendangan mereka beradu dan membuat mereka terpental jauh.
“Apa yang lo perbuat dengan istri gue, huh?” pekik Rafan dar kejauhan.
Bima berpikir tentang ucapan Rafan barusan dan alis pria itu bertaut.
“Maksud lo ... Erli?” tanya Bima dengan alis yang terangkat.
Rafan berdiri dan berjalan menghampiri Bima yang masih terduduk di lantai, dua satpam yang bertugas saat itu saling memegangi dua pria yang baku pukul sejak tadi.
“Lepaskan kami, Pak! Ini hanya salah paham saja,” kata Bima yang menundukkan kepalanya.
“Salah paham!” kata Rafan dengan rahang yang mengetat.
“Sebaiknya kita bicara 4 mata, Fan. Ada yang harus lo ketahui,” pungkas Bima sambil berdiri.
Walau Rafan masih terbakar emosi, tapi dia tetap mengikuti langkah Bima yang terus berjalan menuju taman rumah sakit.
“Cepat katakan, apa yang ingin lo katakan!” kata Rafan penuh penekanan.
Bima mengusap kembali pelipis dan juga alur bibirnya yang masih mengeluarkan darah.
“Lo sudah salah paham sama gue.”
“Jangan bertele-tele, cepat katakan apa alasan lo nyulik istri dan anak gue!” bentak Rafan dengan mata melotot.
__ADS_1
“Gue yang bantu Erli keluar dari rumah Tuan Safwan,” sahut Bima.
Netra Rafan menyipit menatap Bima, “Siapa pria itu?” Suara Rafan berubah lebih kalem dari sebelumnya.
“Beliau ayah Xavier. Dia membawa Erli ke rumahnya hanya untuk membujuk Erli agar bersedia menjalin hubungan lagi dengan Xavier,” ungkap Bima tanpa tedeng aling-aling lagi.
“Lantas?” Rafan mengusap kasar wajahnya.
“Lo kagak percaya sama istri Lo, Fan?” Kening Bima mengerut.
“Gue sangat percaya dengannya, tapi ....” Rafan menghentikan ucapannya.
“Tapi lo ragu? Itu artinya lo belum sepenuhnya percaya dengan Erli,” celetuk Bima.
“Gue kagak tahu bagaimana kalian kenal dan bertemu. Tapi gue yakin, Erli memiliki alasan yang kuat mau dengan lo!” ucap Bima dengan tangan yang menepuk bahu Rafan.
“Lo jaga baik-baik tu istri lo!”
“Tanpa lo kasih tahu, gue akan lakukan itu. Karena itu kewajiban gue sebagai seorang suami!” tandas Rafan, lantas pria itu menunjukan smrik-nya.
“Baguslah jika lo sadar akan kewajiban Lo sebagai seorang suami,” tutur Bima dengan menaikkan sebelah alisnya.
Suami Erli tersebut menghampiri dokter yang bertugas pada malam ini, Bima hanya melihat Rafan dari luar. Tampak serius obrolan mereka dari tempat Bima berdiri, selang beberapa saat Rafan keluar dengan senyuman yang berhias di wajahnya.
“Apa yang lo katakan pada dokter?”
“bukan urusan lo!” tegasnya.
“Astaga ... lagi datang bulan lo, Fan?” celetukan Bima membuat Rafan menahan emosinya.
Sabar-sabar, anggap saja radio rusak! Batik Rafan.
Perawat yang Rafan ajak diskusi tadi memanggil namanya, segera dia mendekat dan menggendong baby E—pangeran kecil yang sudah menjadi dunianya beberapa hari yang lalu saat dia terlahir di dunia ini.
“Assalamualaikum jagoan ayah, bunda.” Rafan mengecup pipi dan kening anaknya, “tega ya, ninggalin ayah sendirian di rumah. Ayah sangat merindukan tangisanmu, Sayang!” ucapnya dengan lembut.
Tanpa sadar Bima tersenyum melihat Rafan mengajak bayinya berbincang manja.
“Di mana Erli berada?” tanya Rafan lirih tanpa melihat wajah Bima yang menyebalkan menurutnya.
“Bangsal anggrek nomor 14,” jawab Bima yang berjalan beriringan dengan Rafan sejak tadi.
__ADS_1
“Kita temui bunda, ya. Rindu ayah sudah berkarat, Sayang,” bisik Rafan di telinga anak laki-lakinya.
Astaga, dia pikir gue udah budeg. Jelas-jelas gendang telinga gue denger, gumam Bima dalam hatinya.
Netra mantan Erli bergolak malas kala melihat tingkah Rafan yang minta pembelaan diri dari anaknya yang masih bayi. Sepuluh detik sebelum masuk, Rafan merapikan rambut dan juga baju yang dia kenakan dan menoleh ke arah Bima.
Wajah songong Rafan mengejek Bima secara tidak langsung, Rafan meraih gagang pintu dan pintu terbuka perlahan.
“Assalamualaikum ....” Erli yang tengah menyesap jusnya segera menolehkan kepalanya ke sumber suara.
Netra ibu muda itu membulat saat menangkap sosok pria yang dia rindukan sejak 5 hari yang lalu.
“Masya Allah ... Mas!” pekik Erli seraya melambaikan tangannya menyuruh Rafan mendekat.
Benar saja, dua insan itu saling menghamburkan pelukannya dan mengacuhkan kehadiran Bima saat itu. Kecupan mesra Rafan membuat Bima terkaget-kaget, sontak dia memalingkan pandangannya selepas melihat adegan 21+ ke atas.
“Ehm, tidakkah kalian kasihan terhadapku?” Bima masih menatap dinding rumah sakit dan jari telunjuknya menyentuh dinding tersebut bak anak kecil yang sedang ngambek.
Erli yang canggung langsung melepaskan dekapan tangannya dari tubuh kekar sang suami.
“Maaf Bim,” kata yang terlontar dari bibir manis Erli.
“Sejujurnya enggak apa-apa. Tapi, aku ‘kan jadi pingin,” imbuhnya dengan alis yang tertaut.
“Gih sana pulang!” usir Rafan tanpa sungkan.
Erli memukul lengan suaminya dengan senyuman yang merekah indah.
“Bagaimana Mas tahu kalau aku ada di sini? Dan ... kenapa wajah kalian babak belur begitu?” tanya Erli dengan memiringkan kepala mencoba mengintip wajah sang suami.
“Karena orang pe’ak itu,” tunjuk Rafan yang menahan tawa.
“Kurang ajar banget lo, ya.” Mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Mau lo rubah kaya apa tu wajah, tetap saja kagak ada sangar-sangar tu muka!” ejek Rafan.
Bima berdiri dan menatap tajam mata Rafan yang tidak kalah tajamnya.
“Di mana lo dapet suami enggak waras macam dia, Er?” cetus Bima yang saat ini duduk dekan bad—tempat tidur Erli.
“Jaga ucapan lancang, lo!” ancamnya tanpa memedulikan Erli yang telah menggenggam tangan kanannya.
__ADS_1