
"Maafkan Cici jika lancang dan terkesan ikut campur dalam kehidupan pribadimu." Margaret mengelus bahu adik iparnya.
"Tunggu! Lita mengerti dengan tujuan pembicaraan Cici," ujarnya memberhentikan ucapan sang kakak ipar, "kedatangan Cici ke Indonesia, pasti atas permintaan mami 'kan?" imbuh Marlita menebak tujuan Margaret.
"Iya, Kamu benar. Cici harap, kamu tidak marah sama Mami! Kasihan beliau," tutur Margaret lembut.
"Lita tidak marah dan Lita juga tidak bermaksud menjadi anak durhaka, Cici. Tapi ... Lita sudah terlanjur cinta mati dengan Rafan," pungkas Marlita dengan air mata yang berlinang.
Margaret yang merasa bersalah langsung memeluk Marlita sembari mengelus lembut punggung adik iparnya.
"Maafkan Cici, ya!"
"A-apa salah Lita mencintai seseorang? Dan di mana ... letak kesalahan Lita?" tanya Marlita gagap.
"Jatuh cinta memang tidak salah, Ta. Namun, rasa cintamu jatuh ke orang yang salah," sahut Margaret yang saat ini menghapus buliran air mata yang membasahi pipi Marlita.
Sejak dulu, Marlita sangat dekat dengan Margaret dan kedekatan mereka berawal ketika Marlita melakukan wawancara di salah satu perusahaan, di mana Margaret kala itu menjabat sebagai manager. Ke cocokan sifat Marlita dan Margaret membuat mereka saling bertemu, semenjak itulah mereka sering hang out bareng dan saling curhat-curhatan, kedekatan mereka berlanjut sampai di mana Arya bertemu dan menikahi Margaret.
Sebab itulah Katrin meminta Margaret dan Arya pulang. Katrin juga meminta anak beserta menantunya tinggal beberapa minggu di Indonesia, dia juga meyakini, mantunya—Margaret bisa membujuk Marlita untuk melupakan obsesinya memiliki Rafan yang telah beristri.
Siapa sangka prediksi Katrin salah, Marlita tidak mendengarkan saran Margaret bahkan anak gadisnya itu meminta kakak iparnya untuk membantunya mencari cara agar Rafan takluk dan mencintai dirinya untuk selama-lamanya.
"Cici tidak mau ikut campur! Karena Cici sudah pernah merasakan sebagai seorang istri yang diusik ketenangannya. Dan ... mana mungkin Cici mendukung tindakan konyolmu," cibir Margaret tanpa tedeng aling-aling.
"Do you really not want to help me? Apa kau benar-benar tidak mau membantuku?" tanya Marlita sekali lagi.
"Are you crazy? How could an older sister allow her sister's foolish actions? Apa kau gila? Mana ada seorang kakak mendukung kesalahan sang adik," bentak Margaret dibarengi dengan bantingan pintu.
"Cici ...," pekik Marlita seraya membutut di belakang Margaret.
"Sudah cukup! Cici enggak mau mendengar semua alasanmu," sanggahnya lirih.
"Tapi Ci ...."
Margaret memberhentikan langkahnya, dia menatap sang adik ipar dengan tatapan sinis yang membunuh.
__ADS_1
"Ok find, aku tidak akan meminta bantuan Cici lagi. Dan aku ... tidak akan menyerah untuk mendapatkan Rafan!" ucapnya pelan tapi tajam.
Istri Arya geram mendengar ucapan Marlita, dulu pelakor yang dia hadapi tidak sekeras kepala adik iparnya. Bisa dibilang, wanita yang menjadi duri dalam rumah tangganya sedikit mengalah dan mengerti akan penderitaan Margaret.
Wanita itu juga tidak mengetahui bahwa Arya memiliki istri dan anak, oleh sebab itu Margaret tidak membutuhkan tenaga lebih untuk memisahkan suaminya dari tangan pelakor.
Jesus Kristus Tuhanku, tolong sadarkan Marlita. Tuntun dia ke jalan-Mu, Tuhan. Doa Margaret dalam hati, tidak habis pikir dia dengan tekad Marlita.
Selama ini dia melihat Marlita selalu baik dan mudah memahami perasaan orang lain, tapi kali ini gadis yang dia kenal empat tahun lalu sudah berubah 180°.
***
Rafan termenung duduk disudut ruangan sambil memandangi suasana taman yang ada di depan kelas tempatnya mengajar. Siswa dan siswi yang berada dalam ruangan itu menatap Rafan dengan tatapan penasaran, selama menjadi guru belum pernah Rafan tidak fokus dalam mengajar.
Namun, kali ini guru kesayangan mereka tengah duduk termenung tanpa menghiraukan anak didiknya.
"Apa yang harus kita lakukan?" bisik salah seorang murid lelaki.
"Apa perlu kita kejutkan beliau dengan bertepuk tangan?" celetuk siswa lainnya.
"Kalau beliau jantungan, lo mau bertanggung jawab?" tanya Sinta penuh kekesalan.
Perlahan Verna berbalik badan dengan kepala yang tertunduk.
"Bukan gitu maksud gue," ucapnya lirih.
"Lalu apa?" sahut Sinta.
"Sudah-sudah jangan berdebat! Lebih baik kita pikirkan jalan untuk menghibur Pak Rafan. Kelas ini serasa kaya kuburan," ungkap Arnav; si ketua kelas.
Masih sibuk berbisik merencanakan suatu hal, Rafan berdiri mendekati gerombolan anak muridnya. Dia ikut jongkok dan menguping obrolan Sinta, Arnav, Verna dan siswa lainnya.
"Kita belikan saja tas baru. Bisa kita lihat bukan? Tas beliau sudah sedikit anu," usul Verna sambil mendongakkan kepalanya melihat ke arah tempat Rafan termenung.
Mata Verna melotot mencari keberadaan sang guru, tetapi dia tidak dapat menemukan Rafan. Tangan kiri Verna menepuk bahu Arnav sambil berkata.
__ADS_1
"Coba kalian lihat! Mr. tidak berada di tempat," katanya lirih.
Sontak semua temannya melihat ke pojok ruangan, "Ke mana?" tanya Sinta kalem.
"Mana gue tahu!" sahut siswa lain.
"Jangan-jangan Mr memiliki ilmu yang bisa teleportasi ke suatu tempat yang indah," jelas Verna sambil memeragakan ciri khas Spongebob.
"Ngadi-ngadi lo, mana ada yang begituan! Lo pikir kita pada lagi shooting," ketus Wendy.
Bisa dipastikan Verna kesal dengan ucapan Wendy yang mengejeknya. Arnav—sang ketua kelas berdiri dan berjalan ke pintu melihat ke luar kelas memastikan sekitar taman, tetapi dia tidak melihat sosok sang guru.
Saat dia berbalik badan netranya melebar menangkap sosok pria yang sejak tadi dia cari tengah jongkok diantara teman-temannya.
Dengan rasa canggung Arnav melontarkan pertanyaan, "Sejak kapan Bapak di sana?" Tangan kanan Arnav berulang kali mengelus rambut beserta leher belakangnya.
mendengar pertanyaan Arnav seluruh temannya melihat ke belakang dengan jantung yang berdetak hebat. Rafan menepuk. bahu salah satu muridnya dan berdiri sambil merapikan kemeja yang dia kenakan.
"Sejak kalian berbisik-bisik. Tapi, bapak tidak dapat mendengar dengan jelas obrolan kalian," tutur Rafan, "apa yang kalian rencanakan?" lanjut Rafan seraya duduk di kursi paling depan.
seluruh anak didiknya saling menatap satu sama, sebagai ketua kelas Arnav maju dan menjawab pertanyaan Rafan.
"Sinta mau mengadakan pesta ulang tahun ayahnya, Pak. Dia meminta kami membantunya dalam memberi kejutan," kata Arnav menutupi kebenaran.
Rafan tersenyum tipis mendengar ucapan pemimpin kelas 11B, dia sangat mengagumi semua tindakan anak didiknya. Toleransi mereka semua sangat tinggi, tidak perlu arahan apapun mereka akan bertindak sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
"Bapak dukung tindakan kalian, bapak juga salut dengan rasa empati kalian selama ini. Teruslah menjadi kawan yang solid dan jangan pernah menjatuhkan teman, bapak berharap kalian menjadi generasi muda yang luar biasa supaya bisa memberi suatu tindakan yang baik untuk Negeri ini." Rafan menatap seluruh wajah anak didiknya.
mendengar ucapan Rafan, seisi kelas berlinang air mata. Harapan sang guru menyentuh hati mereka semua, selama delapan bulan belakangan ini 11B selalu mendapat peringkat pertama dalam prestasi kelas terbaik di antara kelas lainnya dan itu berkat didikan Rafan.
Masih dalam keadaan haru, ponsel Rafan berdering segera dia mengangkat telepon dari Galang.
"Waalaikumsalam," jawab Rafan kalem.
Raut wajah Rafan berubah, keningnya mengerut dan gerak tubuhnya yang gelisah membuat seluruh muridnya khawatir.
__ADS_1
Selepas panggilan teleponnya usia, Rafan meminta anak didiknya mengerjakan tugas dan dia bergegas keluar kelas dengan sedikit berlari.