Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Emosi


__ADS_3

Rafan mengguncang tubuh Erli sambil memanggil nama istrinya tersebut.


"Sayang ... Erli bangun!"


"Hmm, apa Mas?" tanyanya dengan mata yang terus mengerjap.


Pria yang dipanggil Mas itu—menepuk jihadnya sendiri.


"Kalau tidur jangan kaya kebo!" tukasnya seraya membuka pintu mobil, Rafan berjalan mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk Erli—sang istri.


Aku enggak tidur Rafa .... aku tu lagi mengingat videomu bersama beruang hutan, sialan itu. Batinnya penuh kebencian.


Ibu Alkhaiz tersebut mengulas senyum, "Makasih Mas," ucap Erli lirih.


"Hmm, cepat rapikan rambutmu!" gumam Rafan serta memerintah istrinya.


Tubuh ramping itu membungkuk menatap pantulan dirinya dari spion mobil, dengan elusan lembut rambut panjang yang kusut itu kembali terurai rapi. Sentuhan tangan dewa—Erli mampu mengubah kekusutan menjadi kerapian yang hakiki.


Rafan mengangguk serta menaikkan alisnya yang tampak elegan.


"Bagus," kata Rafan yang mengambil ancang-ancang ingin merusak tatanan rambut Erli.


Tangan kanan Erli terangkat ke atas memberi peringatan keras untuk suaminya yang hendak merusak penampilan cetarnya.


"Jangan main-main! Ini tempat umum. Aku tidak mau terlihat jelek!" rengek Erli yang kini bergelayut di tangan kanan suaminya—Rafan yang memiliki postur tubuh yang tinggi kekar nan maco mampu menghipnotis semua orang.


"Tetap jaga pandanganmu! Jangan sampai aku melihat kamu memperhatikan wanita lain!" ancamnya pelan, tapi tajam.


Dalam hatinya, Rafan bersorak gembira mendengar ancaman kecemburuan Erli. Meski tidak diperintah Rafan memang tidak tertarik melihat wanita lain selain Erli, karena di hatinya hanya ada ibu Alkhaiz yang selalu menduduki tempat yang paling tinggi diantara mereka-mereka.


"Kita mau beli apa, Mas?" Langkahnya mendahului sang suami menuju toko perlengkapan bayi.


Rafan hanya menggeleng melihat istrinya kalap memasukkan baju serta mainan untuk Alkhaiz.


"Untuk apa tadi dia bertanya, kalau berakhir masuk ke dalam sana!" keluh Rafan tidak setuju dengan sang istri.


Rafan menghela napas dan pada akhirnya dia ikut masuk ke dalam dan membuntut di belakang Erli.


"Jangan banyak-banyak beli mainannya!" saran Rafan berbisik.

__ADS_1


Langkah kakinya terhenti dan Erli berbalik menatap tajam sang suami.


"Ini untuk anak kita! Jadi ... Bapak Rafan jangan protes, oke ...." Kedua alis Erli terangkat sambil melontarkan kalimat larangannya.


Rafan merangkul bahu Erli dan berbisik lirih di telinga kiri istrinya, "Kita harus pandai mengatur keuangan, Sayangku ...."


Jelaga hitam itu melirik ke sana kemari dan tiba-tiba dia mencium pipi Erli, "Banyak hal yang harus kita persiapkan untuk masa depannya kelak."


Erli mengedipkan matanya berulang kali, karena tidak percaya dengan ciuman mendadak dari suaminya itu.


"Apa yang kamu pikirkan, heum?" tanya Rafan seraya menaik turunkan kedua alisnya.


Erli melayangkan pukulan manja di dada bidang Rafan.


"Ini tempat umum, Mas. Malu jika mereka-mereka melihat hal yang kamu lakukan tadi," protes Erli sembari meletakkan kembali mainan ke rak.


"Aku tidak peduli. Ciuman yang aku berikan itu adalah ibadah," tandasnya percaya diri.


Kening Erli mengernyit setelah mendengar perkataan suaminya.


"Masak? Aku kok baru dengar," cela Erli dan tangannya mengelus dagu lancip yang menjadi idaman Rafan.


Ucapan yang baru terdengar di telinganya membuat bulu kuduknya merinding dan segera dia menggelengkan kepalanya, menepis khayalan nakalnya.


"Astagfirullah ... Kamu harus aku kasih pelajaran!" ujarnya geram dengan godaan suaminya yang terbilang lumrah bagi sepasang suami istri.


Namun, dia tidak terima karena ini bukan tempat yang pas untuk bercanda soal intim tersebut. Erli sedikit menghentakkan botol dot yang dia letakkan di rak.


Sedangkan Rafan masih terkekeh melihat wajah merona istrinya, dia tahu betul kalau Erli tengah tersipu malu dengan candaan mesumnya. Tanpa disadari Rafan, sang istri yang berjalan di belakangnya langsung melemparkan pukulan cukup keras di pinggir punggung Rafan.


Sontak Rafan terperanjat, refleks dia mencekal tangan Erli yang hendak memukul lagi. Rafan menarik tangan istrinya dan dia kembali nyosor bibir thin lips Erli yang terpoles krim berwarna nude.


"Manis," ungkapnya dengan mata yang mengerling.


"Astagfirullah ... kamu benar-benar mesum hari ini Mas!" kata Erli mencicit tidak terima.


Bola mata Erli bergolak sesaat dan istrinya itu memalingkan pandangan dengan keranjang yang sedikit dia banting. Beruntung tempat mereka dalam keadaan sepi walau dari kamera pengawas aksi mereka terekam jelas, mungkin juga ada orang yang tengah tercengang melihat aksi nekat Rafan.


"Yang ... maaf, ya!" Rafan memutar tubuh Erli yang berdiri tegap memunggunginya.

__ADS_1


Wanitanya itu masih diam seribu bahasa dan sorot matanya tampak sendu, bibirnya yang cemberut membuat Rafan semakin gemas ingin menyentuhnya. Namun, itu tidak mungkin karena bisa saja Erli semakin murka.


"Yang ... kamu dengar enggak aku ngomong?" tanya Rafan kembali dengan wajah yang memelas.


"Enggak!" ketus Erli seraya membuang wajah.


Rafan menghela napas panjang nan berat, pria yang memiliki tinggi 185 cm itu menundukkan kepalanya demi melihat wajah Erli. Ditakupkan kedua tangannya di sisi wajah sang istri, tercetak jelas wajah tampan Rafan dan tatapan teduh suaminya itu membuat hatinya gelisah bukan main.


"Maaf ya, sudah bersikap kekanak-kanakan. Aku benar-benar gemas lihat kamu berbicara," jelas Rafan yang masih menatap lekat-lekat wajah sang istri.


Pernyataan Rafan membuat Erli semakin tersipu malu, hatinya bergetar hebat dan jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


Semudah inikah membuatmu senang, Yang? gumam Rafan yang saat ini mengelus lembut pipi chubby Erli.


Benar, pasca hamil Erli lebih berisi dari sebelumnya. Karena apa dan bagaimana ceritanya, Erli tidak tahu pasti. Intinya dia sudah mendapatkan tubuhnya melar, tapi tidak 'semelar author yang menulis wkwkwk' kemesraan tipis-tipis itupun dihentikan karena Rafan melihat segerombol anak SMA mendekat ke rak snack yang ada di sebelah tubuh Erli.


"Kita percepat acara belanjaan ini!" saran Rafan yang menarik pergelangan tangan kiri Erli.


"Mas pelan!" pinta Erli lembut.


Rafan menolehkan pandangannya ke belakang memperhatikan sang istri.


"Maaf Yang! Aku enggak sengaja!" tutur Rafan sembari melonggarkan genggaman tangan besarnya.


Semua barang yang Erli mau sudah masuk ke dalam keranjang belanjaan, sepasang suami istri tersebut berjalan beriringan menuju kasir. Rafan yang sedari tadi memperhatikan gerak Erli yang terbilang aneh langsung melontarkan pertanyaan.


"Kamu sakit, Yang?"


Erli celingukan memperhatikan semua orang yang berada di sana, tangan lentik itu melambai kecil dan diikuti kepala Rafan yang mendekat ke bibir istrinya.


"Aku kebelet, Mas. Sudah enggak tahan!" katanya berbisik.


"Ya sudah sana ke toilet! Biar ini ku yang urus, tapi jangan lama-lama. Aku tunggu di pojok sana ya," ucap Rafan seraya mengacungkan telunjuknya ke arah keluar.


"Siap Mas." Erli menaikkan jempolnya.


Rafan melihat punggung istrinya yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang begitu saja. Tidak lama kemudian Erli sudah kembali dan melihat Rafan yang tengah berbincang dengan seseorang.


"Kamu benar-benar bajingan, Mas!" decak Erli penuh amarah, tangan kirinya mendekatkan tamparan keras di wajah Rafan.

__ADS_1


__ADS_2