Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Tamu Yang Tidak Diharapkan


__ADS_3

Melihat ekspresi suaminya yang semakin menegang, Erli menghampiri Rafan.


“Kamu kenapa Mas?” tanya Erli seraya mengelus punggung suaminya.


“Apa pun yang terjadi nanti kamu jangan tersulut emosi. Ingat, jangan terbawa suasana hatimu!” pesan Rafan membuat istrinya berpikir keras tentang kejadian setelah ini.


“Memangnya nanti ada apa? Sampai-sampai kamu berpesan seperti ini. Apa kamu ....” Ucapan Erli yang menggantung mengakibatkan Rafan sedikit kesal sontak pria itu menyentil kening istrinya.


“Isi kepalamu ini selalu menaruh curiga terhadapku, aku belum memutuskan apa pun. Jadi, jangan menerka-nerka! Fokus saja mengurus Alkhaiz!” titah Rafan tegas.


“Lagian, kamu enggak ngasih tahu aku, Mas. Coba cerita yang jelas! Jadi aku tidak memiliki pikiran liar terhadapmu,” ujar Erli sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Jangan banyak bertanya!” kata Rafan pelan, tapi tajam.


“Katakan dulu! Nanti ada apa?” pekik Erli.


Erli mengerutkan bibirnya dan netra ibu muda tersebut melotot melihat punggung suaminya yang semakin lama semakin menjauh.


“Kok ya, bisa aku cinta sama orang kaku seperti dia. Ih, kulempar panci juga ni!” gerutu Erli lirih.


Langkah Rafan terhenti dan dia melirik tajam ke arah istrinya yang masih berdiri di tempatnya semula. Erli yang terkesiap langsung bersiul dan menatap langit, awalnya hanya melirik kini Rafan menghampiri istrinya dan membopong Erli kembali ke teras samping rumah.


Sontak Khafi melotot mendapati adik dan adik iparnya bermain mesra-mesraan di hadapannya langsung.


“Astagfirullah ... siaran langsung,” katanya sambil menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan.


Rafan menurunkan Erli di samping meja yang di mana ada Khafi.


“Kalian lanjutkan saja! Aku akan pergi ke dalam, bergabung dengan yang lainnya.” Tanpa babibu lagi, Khafi langsung ngacir meninggalkan teras samping.


Pria yang berusia 29 tahun tersebut menghela napas panjang.

__ADS_1


“Kalau terus bersama dua orang itu aku akan semakin gila dibuatnya,” tuturnya kalem seraya menyekat keringat di keningnya.


“Kamu ni, Mas. Bikin Aa kabur,” gerutu Erli sembari memukul lengan Rafan.


“Terus aku gimana?” Rafan mendekatkan wajahnya, “guling-guling kaya kamu waktu aku tinggal tidur,” lanjutnya dengan wajah yang mengejek.


“Enggak ya ... aku enggak pernah seperti itu!” tegas Erli berkacak pinggang.


Rafan melirik seakan menanyakan kebenaran dari ucapan sang istri.


“Aku beneran enggak pernah kayak gitu ...,” rengek Erli seraya memukul Rafan berulang kali.


“Mana Alkhaiz tadi, mau aku kasih tahu kalau bundanya ganjen.” Rafan memalingkan pandangan sambil berteriak memanggil nama anak laki-lakinya yang masih berusia 10 hari.


“Hei, Bapak Rafan Winasis ...!” Erli mengentakkan kakinya dan kedua tangannya mencengkeram seolah menggenggam rambut Rafan.


Rafan yang tersenyum sontak merubah ekspresi wajahnya, “Hati-hati! Jangan bergerak sesuka hatimu!”


“Maaf aku lupa,” katanya berdetak gelisah.


Saat masih bertatap wajah dengan sang istri, telepon genggam Rafan kembali berdering.


“Wa ’alaikumsalam, ada apa?” tanya Rafan sambil melirik sang istri.


“Baik, aku akan segera ke sana.” Rafan menutup panggilan teleponnya dan menatap Erli.


“Kenapa lagi Mas?”


“Restoran kebakaran, aku harus ke sana sekarang. Kamu di rumah hati-hati dan ingat pesanku tadi, oke!” Rafan memeluk Erli dan mencium ujung kepala istrinya.


“Hati-hati Mas.”

__ADS_1


Rafan mengangguk dan meninggalkan Erli, di dalam sana semua orang sedang asyik bercanda ria. Suami Erli berpamitan dengan sopan kepada orang tua sambung Erli (Paman dan juga Bibi).


Selepas kepergian Rafan, Erli kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya sambil bermain ponsel.


Ping .... Erli mengirim pesan pada sahabatnya Shita.


“Ke manalah anak orang ini?” tanya Erli pada dirinya sendiri.


Berulang kali Erli menatap layar ponsel berharap sang sahabat membalas pesan singkatnya.


“Astaga naga cicitnya dragon ...,” desisnya kesal dengan sahabatnya yang tidak kunjung membalas pesannya.


Karen emosi Erli mengangkat ponsel dan ingin melemparnya. “Aduh sayang kalau ini rusak,” katanya sambil mengelus-elus benda pipih yang berwarna hitam.


Di depan kamarnya Mbok Sami berdiri dan mengetuk pintu.


“Non, di luar ada tamu yang mencari Nona dan Aden.”


Erli membuka pintu dan bertanya, “Siapa Mbok?”


“Saya tidak tahu, sewaktu saya bertanya namanya beliau bilang sudah ada janji temu sama Aden,” kata Mbok Sami.


Erli mengangguk dan mempersilahkan Mbok Sami pergi.


“Siapa yang bertamu malam-malam begini?” Erli menutup pintu dan berjalan menuju ruang tamu.


Tampak dari sudut kanan ruangan raut wajah paman yang tegang, dengan penuh penasaran Erli melangkahkan kakinya. Netra Erli melotot saat melihat wajah tamu yang telah menunggunya.


“Buat apa kamu ke sini?” Pertanyaan Erli membuat Zulaika dan beberapa orang yang ada di ruang tamu menatapnya penuh penasaran.


“Kamu kenal dia, Sayang?” Zulaika menggeser tubuhnya untuk menatap sang mantu dengan posisi yang nyaman.

__ADS_1


“Tentu saja, Bu.” Pembuluh darah di lehernya berdenyut kala menjawab pertanyaan Zulaika.


__ADS_2