
Erli melangkah menghampiri Xavier yang berdiri dekat pintu.
“Ada apa?”
“Aku mau bicara empat mata denganmu,” tutur Erli dengan kepala yang tertunduk.
Semua mahasiswa bersorak meledek dua insan yang berdiri berdekatan.
“Hu ... Rupanya ada pasangan baru di semester ini!” Suara sorakkan para mahasiswa menggema di lorong kampus.
Erli berjalan cepat seraya menarik tangan Xavier, lagi-lagi sorakan terdengar membuat Pemuda itu tersenyum tipis dan dia juga tidak menyangka kembang kampus memegang tangannya.
“Apa yang ingin kamu bahas?” tanya Xavier datar.
“Bisakah kita berbincang di sana?” Jari telunjuk Erli mengarah ke bangku taman.
Pemuda bertubuh tinggi itu mengawali langkah mereka dan dia duduk di ujung bangku.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” kata Erli lirih.
“iya silakan,” sahut Xavier dengan tatapan mata sendu.
Erli meremas rok yang ia kenakan dan gadis itu bergerak dengan ragu-ragu.
“Kenapa kamu menghindari ku? Xavier, aku sudah mencoba berbicara denganmu dan kamu malah pergi meninggalkanku. Itu sangat menghina diriku!” tutur Erli dengan mata yang menyipit.
“Dengar Erli! Aku sama sekali tidak pernah berniat menghinamu. Aku hanya tidak ingin membuat kakakmu marah dan aku tidak ingin bertengkar dengannya hanya karna dirimu, kau mengerti!” ujar Xavier seraya memalingkan wajahnya.
Erli menatap heran pemuda yang beranjak dari tempat duduknya.
“Apakah hanya itu satu-satunya alasanmu menghindari ku? Tidak bisakah kita menjadi teman?”
“Apa kau benar-benar ingin tahu yang sebenarnya?” Xavier berdiri membelakangi Erli.
“Iya, aku ingin tahu yang sesungguhnya!” Erli memiringkan kepalanya mencoba melihat wajah Xavier.
“Kau sangat cantik Erli dan kau sangat memikat, ada sesuatu di dalam dirimu yang menarikku padamu. Kau tidak bisa membayangkan betapa tertariknya aku padamu?” imbuh Xavier, “setelah pertemuan pertama kita itu, kau ada dalam benakku. Saat aku bersamamu, aku tidak bisa menahan diri. Itulah yang aku takuti! Jadi ... akan lebih baik jika kita saling menjauh.”
Xavier membeberkan perasannya sembari menjauh dari Erli, tetapi langkah kakinya terhenti dan pemuda itu berbalik menatap Erli yang masih terpaku di tengah taman kampus.
__ADS_1
“Dan satu hal lagi, kau kelihatan menakjubkan dalam warna biru. Kebetulan itu warna favoritku,” kata Xavier seraya tersenyum.
Erli terbengong-bengong mendengar ucapan Xavier, gadis itu tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Untuk meyakinkan dirinya, dia mencubit tangannya sendiri.
“Aargh, sakit! J-jadi ini bukan mimpi? Apa benar dia tertarik padaku? Yang benar saja. Aku hanya gadis kampung,” ujarnya ragu, dia tidak menyangka bahwa Xavier memiliki rasa terhadapnya.
Gadis imut itu jingkrak-jingkrak kegirangan setelah menyadari perasaannya terhadap pemuda terpopuler di kampus. Erli merasa dia gadis yang beruntung dapat menaklukkan hati Setiap hari Erli menggunakan baju warna biru. Iya, warna favorit Xavier dan itu memang disengaja agar Xavier semakin memperhatikannya.
Pertemanan Erli dan Xavier semakin dekat dan kini mereka telah menjalin kasih. Hubungan yang cepat terjalin itu telah memasuki bulan ke tiga, Xavier mengajak Erli makan di restoran ternama untuk merayakan hari ke seratus.
Saat menikmati makan malam. Xavier menanyakan janji Erli di bulan lalu saat mereka merayakan enam puluh hari menjadi sepasang kekasih gadis itu tersedak makanan yang ia telan\ ekspresi wajah Erli berubah karna pertanyaan Xavier.
“Kamu tidak apa-apa ‘kan, Babe?” tanya Xavier sembari menyodorkan segelas air.
Buru-buru gadis itu menyeruput air tersebut dan bola mata Eri bergolak, betapa bingungnya gadis berparas manis itu saat ini, dia benar-benar tidak dapat menjawab pertanyaan sang kekasih. Dia kira Xavier telah melupakan janjinya di kala itu.
Mata Xavier membulat saat menatap sang kekasih, “Jangan bilang kamu lupa akan janji yang kamu ucapkan;”
“T-tentu saja tidak. Aku mengingatnya kok! Aku pasti menepatinya,” ucapnya gugup.
Xavier tersenyum lebar mendengar kalimat tersebut dari sang kekasih, dengan sangat buru-buru Xavier menghabiskan makanannya. Setelah melahap suapan terakhir, Xavier meraih ponsel yang ada di saku jasnya.
Erli memberanikan diri untuk melontarkan pertanyaan kepada pacarnya itu, “Haruskah hal itu kita lakukan sekarang, Babe? A-aku takut!” raut wajah Erli terlihat sangat khawatir dan kening gadis itu mengerut.
“Apa yang kau takutkan? Jangan bilang kamu tidak percaya denganku!” tanya Xavier dengan mata yang mengerling.
“T-tidak seperti itu. Bukan gitu maksudku--,” kata-kata Erli terhenti ketika pelayan restoran berdiri di hadapan mereka.
Xavier membayar semua tagihan makanan yang mereka pesan dan pemuda itu mengibaskan tangan kirinya.
“Lalu, apa yang kamu takutkan? Aku ini pria terhormat. Aah ... Sudahlah, lupakan semuanya dan pergilah dari sini!” Xavier berbicara dengan nada yang tinggi dan dia mengusir Erli dari hadapannya.
Erli menggenggam tangan Xavier dan dia mencoba meyakinkan pacarnya.
“Maafkan aku, tolong jangan marah! Apa pun yang kamu mau akan aku lakukan,” ujar Erli dengan suara yang mendayu-dayu.
Ekspresi wajah Xavier berubah, senyuman itu kembali terpancar di bibirnya.
“Janji tidak akan mengelak lagi!” Xavier mencium punggung tangan Erli.
__ADS_1
Gadis itu pun mengangguk sembari menyunggingkan senyuman manis. Xavier meraih tas Erli dan menggandeng tangan Erli, setelah keluar dari restoran mereka berdua naik mobil yang telah terparkir di depan restoran beberapa menit yang lalu.
Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang, di sepanjang perjalanan tiada hentinya Xavier menciumi tangan serta pundak Erli. Hal itu membuat Erli risi ingin rasanya dia marah dan menampar pipi Xavier, tetapi dia selalu menahan karna takut kekasihnya akan memutuskan hubungan dengannya.
Setelah berjalan hampir satu jam, kini mobil berwarna hitam itu berbelok ke sebuah villa yang cukup besar.
“Orang tuaku membelikan villa ini untukku. Bagus bukan?” Xavier merangkul pundak Erli.
“Hmm, sangat bagus. Lantas kita mau ngapain di sini Babe?” Erli mengayunkan tas yang dia bawa.
Xavier mencubit dagu Erli dan tersenyum, “Tentunya bersenang-senang Sayang.”
Pemuda kaya itu mendekati sang sopir. “Seperti biasa, Pak,” ucap Xavier sembari mengangkat kedua alisnya.
Sopir pribadi Xavier keluar dan berlari masuk ke dalam villa, Erli menatap heran ke pada lelaki paru baya yang baru saja melintas di hadapannya.
“Dia mau ke mana?”
“Mau mempersiapkan sesuatu yang spektakuler. Aku jamin kamu akan sangat bahagia malam ini, seluruh dunia akan ikut menyaksikan kesempurnaan cinta kita.” Xavier menutup mata Erli dengan sapu tangan berwarna merah.
Langkah demi langkah mereka masuk dan saat menaiki anak tangga. Erli menggenggam erat jemari kekasihnya, sesekali dia bertanya kepada Xavier.
“Boleh aku buka penutup ini?”
“Belum waktunya, Sayang!” bisik Xavier di telinga Erli.
“Harus beberapa lama lagi aku memakai ini?” keluh Erli.
“Sebentar lagi, awas kakinya!” Xavier memperingati Erli.
Xavier memeluk erat tubuh sang kekasih, setibanya mereka di balkon penutup mata Erli pun dibuka. Perlahan kelopak mata Erli terbuka, cahaya lampu LED menyempurnakan pemandangan taman belang villa.
gadis itu menatap kagum sang kekasih dan dipeluknya Xavier.
"Terima kasih Sayang,” ucap Erli seraya mencium pipi Xavier.
“Bisa kita mulai sekarang?” tanyanya dengan mata yang mengerling.
“Hah ....” Erli terbelalak setelah mendengar kata-kata itu.
__ADS_1