
Pemuda itu melirik ke belakang sebentar dan menangkis piring yang di lempar oleh Xavier, benda keramik tersebut pecah berkeping menghantam tembok.
Sebagian pengunjung berteriak histeris bersamaan dengan piring yang jatuh ke lantai.
“Xavier ....” Erli meneriaki mantan kekasihnya.
Gadis itu melangkah mendekati Xavier.
“Beginikah didikan orang tuamu? Jangan mentang-mentang kamu kaya, terus kamu bisa berbuat semau mu,” timpal Erli, “dan... seharusnya orang tuamu memberimu nama, Alastor. Bukan Xavier.” Tuding Erli.
Xavier yang geram, kembali mengangkat tangannya ingin memukul Erli. Namun, pukulan itu dihalau oleh Rafan, pria yang membela Erli sedari tadi.
“Enyah dari hadapanku!” bentak Xavier, “aku bilang menjauh! Jangan ikut campur masalahku dengan wanita murahan ini!” ancam Xavier dengan nada yang meninggi.
Rafan meneliti wajah Xavier. Ketika Brian mengarahkan pukulan, Rafan menghindar dan mendorong Xavier sampai menabrak sahabat karibnya tersebut.
“Vier, kamu tidak apa?” tanya Brian sembari melirik Rafan yang berdiri tidak jauh darinya.
“Minggir!” Xavier berdiri dan keluar dari cafe.
Seorang pelayan mengejar Xavier untuk bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi, dengan tatapan yang tajam Xavier mengeluarkan kartu kreditnya dan dilemparnya kartu tersebut di hadapan Brian. Pemuda tersebut lantas mengurus pembayaran cafe.
Di luar sana Xavier menendang ban mobil seraya berteriak keras dan teriakan itu terdengar sampai ke dalam cafe. Brian yang telah selesai dengan segala urusan, langsung keluar sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah Erli dan Rafan.
“Antosan anjeun!”
“Sok!” seru Erli dengan mata yang melotot.
Selepas kepergian Brian dan Xavier, Erli mengobrol dengan Rafan. Gadis berambut panjang tersebut tidak menatap wajah Rafan sama sekali, walau sedang berbicara sekali pun. Sikap Erli yang terkesan malu-malu, membuat Rafan tertarik ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Namun, pria berkacamata tersebut hanya diam dan menatap Erli sesekali.
“Terima kasih sudah membantu saya tadi,” ucap Erli ke sekian kali.
Rafan tersenyum dan membalas. “Sama-sama. Oya, rumah Teteh di mana?” tanya Rafan kalem.
Erli bergerak gelisah dan gadis itu menatap ke sana kemari.
“Ada apa Teh?” Rafan menatap penuh penasaran.
“Tidak apa-apa. Saya permisi, ada urusan yang mendadak,” tutur Erli sembari menarik tasnya yang ada di atas meja.
Rafan mengangguk dan berdiri.
Sayang sekali. Padahal aku mau nanyak namanya, batin Rafan.
Tatapan Rafan tidak pernah terlepas ke arah Erli yang kini berjalan tergesa-gesa.
__ADS_1
***
Detik demi detik berlalu begitu cepat, Rafan yang telah selesai dengan urusan kantornya memutuskan untuk jalan-jalan sebentar mencari udara segar pada malam hari. Pria berusia tiga puluhan itu berjalan di sekitar alun-alun kota, dari kejauhan dia melihat sosok wanita yang membuatnya penasaran tadi sore.
Bukankah itu ... Gadis yang aku temui di cafe tadi sore? Sedang apa dia di sana?
Rafan berjalan mendekati Erli yang duduk meringkuk di bawah lampu alun-alun, dengan ragunya Rafan menyapa.
“Sedang apa Teh?” Rafan ikut berjongkok di sebelah Erli.
Sontak Erli terkejut mendengar suara Rafan, tangan gadis itu mengusap kasar wajahnya yang basah karna deraian air mata.
“Ada apa? Kenapa kamu menangis?” Rafan memberondong Erli dengan sejumlah pertanyaan.
Terisak Erli menjawab pertanyaan Rafan, “A-aku tidak apa-apa. Kenapa Anda berada di sini?” Erli balik bertanya kepada pria tersebut.
Pria itu membuka jaket yang ia kenakan dan memberikan jaketnya kepada Erli.
“Aku sedang jalan-jalan saja. Kamu sama siapa di sini?” Rafan duduk di sebelah Erli seraya membuka bungkus roti.
“Sendiri,” jawabnya singkat dan wajahnya terlihat tidak berekspresi.
Rafan mengangkat sebelah alisnya sembari menatap sekeliling taman, dengan ragu-ragu Rafan menanyakan alamat rumah Erli.
“Kenapa Anda bertanya hal itu?”
“Ini sudah malam, jadi saya antar pulang. Tidak baik jika Teteh pulang sendirian, bahaya!” ucapnya dengan nada lembut.
“Tidak terima kasih! Ini jaket Anda.” Erli meletakan jaket tersebut di pangkuan Rafan dan gadis itu pergi begitu saja.
Karna cemas Rafan mengikuti langkah Erli, dari jarak yang cukup jauh. Di sepanjang jalan Rafan tersenyum melihat Erli, tiba-tiba langkah Erli terhenti saat dia melewati sebuah jembatan. Erli termangu melihat aliran sungai yang cukup deras, terbersit dalam pikirannya ingin mengakhiri hidup.
Sudah cukup aku mempermalukan semua orang yang sayang terhadapku. Mungkin ini jalan satu-satunya, ucapnya dalam hati.
Gadis itu berjalan mundur dan melirik ke sana kemari memastikan keadaan.
“Apa yang dia lakukan?” Menatap penuh keseriusan.
Maafkan aku! Aku bukanlah orang tua yang baik untukmu. Tangannya mengelus-elus perutnya yang masih terlihat rata.
Di sisi lain Rafan masih mematung menatap gadis yang dia taksir.
“Apa dia mau bunuh diri?” tanya Rafan pada dirinya sendiri.
“Tidak, jangan lakukan itu!” teriak Rafan sembari berlari menghampiri Erli.
__ADS_1
Pria berambut gondrong tersebut mempercepat gerakannya dan saat dia telah sampai di tempat Erli dengan lancangnya Rafan memeluk erat tubuh gadis itu.
“Jangan lakukan hal yang dilarang oleh agama, Teh!” cegah Rafan dengan suara napas yang tersengal-sengal.
“Lepas! Apa yang kamu lakukan?” bentak Erli sembari melepas kedua tangan Rafan yang melingkar di pinggulnya.
“Aku tidak akan melepas pelukanku sampai kamu mengurungkan niat bunuh dirimu.” Rafan masih bersih kukuh dengan tindakannya.
“Astagfirullah ... tolong lepaskan aku, aku mohon!” titah Erli dengan suara yang lirih.
“Janji tidak akan melompat?” pinta Rafan dengan kepala yang mendongak menatap wajah Erli.
“Iya aku janji,” pekik gadis itu.
“Ayo, turun dulu!” lanjut Rafan, “jika kamu tidak turun, aku tidak akan melepas pelukan ini!” ancam Rafan dengan mata yang membulat.
Sangat terpaksa Erli menuruti perintah Rafan, selepas gadis itu turun Rafan melepas pelukannya.
“Kamu tu siapa sih? Ikut campur urusan orang saja.” Mendengus kesal.
“Aku hanya tidak mau kamu mati sia-sia. Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah, walaupun kamu mati masalah itu akan tetap ada. Iya kalau mati, jika kamu masih hidup dan cacat, bagaimana?” Pria itu membuntut di belakang Erli.
Erli menoleh ke belakang dengan mata yang bergolak.
“Jangan mengikutiku!” bentak Erli.
Rafan tidak menjawab bahkan dia tetap melangkah mengikuti gadis yang membentaknya barusan.
“Astagfirullah, pergi!” usir Erli.
Ketika mereka berdebat tiba-tiba Rafan berlari meninggalkan Erli.
“Kenapa tidak dari tadi perginya?” Erli menatap punggung pria berambut gondrong tersebut.
Rupanya Rafan menghampiri seorang wanita hamil yang mengerang kesakitan di ujung jembatan. Melihat hal itu Erli juga berlari memeriksa keadaan wanita hamil yang duduk lemas tak berdaya, tapa basa-basi lagi Rafan menggendong wanita itu dan di bawanya wanita itu ke pinggir jalan raya.
“Tunggu di sini sebentar saya akan kembali,” imbuh Rafan, “tolong jaga dia!” pinta Rafan kepada Erli.
Erli menatap wanita itu penuh penasaran, jantungnya berdetak lebih cepat dan secara tiba-tiba timbul rasa cemas dan khawatir di dirinya.
Kenapa aku mencemaskan keselamatan anak yang ada di dalam kandungannya? Begitu dahsyatkah rasa sakit yang di rasakannya?
Erli masih terbengong di samping wanita hamil itu, Entah dari mana asalnya, dia mendengar tangisan bayi dan tangisan itu terhenti begitu saja dan kini telinganya kembali mendengar suara anak kecil yang menangis dan memohon padanya.
Alastor ; penganiaya atau penyiksa
__ADS_1