Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Ingatan


__ADS_3

Embusan angin bak sebilah pisau yang menikam tubuh, tulang terasa ngilu dan tubuhnya menggigil. Baju yang semula basah kuyup kini sedikit mengering, berulang kali Erli bersin dan kepalanya terasa pening.


“Sampai kapan aku duduk di sini? Tidak adakah orang yang bersedia mengantarku pulang ke kontrakan? Semoga saja rumah itu aman,” kata Erli lirih.


Wajahnya semakin pucat dan suhu tubuhnya juga semakin meningkat, di saat seperti ini bayangan masa lalu tiba-tiba datang.


Sebelum pernikahan mereka terjadi, tepatnya pada sepuluh bulan lalu. Sebelum takdir mempertemukan Erli dan Rafan.


Erli adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas ternama di Bandung. Selama dia kuliah ada seorang pemuda yang terus-terusan merayu dan mengganggunya, pemuda itu bernama Xavier.


Xavier adalah anak seorang pengusaha kaya di Surabaya. Kekayaan dan ketampanannya dia manfaatkan untuk mendekati para mahasiswi, hanya Erli, gadis yang susah ia dapatkan.


Pemuda itu bersumpah kalau sampai dia tidak bisa menaklukkan Erli, dia akan meninggalkan Kota Bandung dan akan tinggal di desa terpencil.


"Kamu yakin dengan sumpahmu, itu?” tanya temannya sembari melirik wajah Xavier.


“Tentu saja. Jika aku bohong kalian boleh mengambil motor kebanggaanku!” tuturnya seraya menunjuk ke arah motor Harley Davindson Iron 883 yang terparkir di depan kantin kampus.


“Ok, kita pegang omonganmu!” ucap Brian sembari tersenyum tipis.


Seminggu sudah berlalu dan Xavier telah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Erli, tetapi gadis berambut panjang itu tidak menghiraukan tingkah laku Xavier, bahkan Erli bersikap dingin dan acuh tak acuh padanya.


Sialan, apa yang harus aku lakukan? Jika terus seperti ini, aku akan benar-benar tinggal di desa terpencil! gerutu Xavier.


Xavier tidak pernah berhenti memikirkan cara yang jitu untuk membuat Erli jatuh ke pelukannya. Di saat Xavier berkutat dengan pikirannya sendiri, Brian menepuk bahu Xavier dan itu membuatnya terkejut.


“Bukankah itu Erli. Kenapa dia terlihat sangat ketakutan?” ujar Brian dengan jari telunjuk yang mengacung ke arah Erli.


“Mana?” tanya Xavier antusias.


Pemuda itu tersenyum jahat melihat mangsanya dalam bahaya.


“Ayo, ini kesempatan bagus!” cakap Xavier penuh semangat.


Ketiga pemuda itu berlari mengejar Erli yang masuk ke dalam gang sempit nan gelap. Terlihat Erli yang sedang di goda oleh dua pria paru baya, dengan sigapnya Xavier menendang kedua pria tersebut.


“Kurang ajar! Apa mau kalian?” bentak salah satu pria itu.


“Gadis itu.” Xavier menatap dua pria itu dengan tatapan mata yang membunuh.


“Dia itu mangsaku. Kalian tidak berhak ikut campur, cepat pergi dari sini!” pekik pria berkumis baplang.


“Kami akan pergi jika kalian melepaskan gadis itu,” ujar Brian dengan mata melotot.


“Rek maot ...!” Dua pria paru baya itu maju dan menyerang Brian, Jefry dan Xavier.


Perkelahian sengit tidak dapat terhindarkan dan beberapa kali Xavier terkena pukulan di wajah dan perutnya. Melihat hal tersebut Erli merasa bersalah telah berprasangka buruk terhadap Xavier dan kedua teman dekatnya itu, selang beberapa menit perkelahian itu berakhir. Xavier dan kedua temannya telah mengalahkan kedua preman pasar tersebut.

__ADS_1


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Xavier lembut.


Erli hanya mengangguk dan kedua tangannya gemetar. Melihat baju Erli yang terkoyak, Xavier membuka jaketnya dan di kenakan jaket itu di tubuh Erli. Seketika gadis itu menatap wajah Xavier dengan tatapan sendu, tatapan mata Erli menambah ketertarikan Xavier terhadap gadis yang meringkuk di hadapannya.


“Bisa berdiri? Kalau tidak dapat berdiri aku gendong,” ucap Xavier tanpa ragu-ragu.


“Aku bisa berjalan sendiri. Terima kasih telah membantuku!” kata Erli pelan.


Xavier tersenyum seraya melirik kedua teman dekatnya yang berdiri cukup jauh dari mereka berdua.


“Tidak masalah, mari aku antar pulang.”


Erli tidak menjawab perkataan Xavier, diamnya Erli dianggap sebagai jawaban bahwa dia bersedia diantar pulang.


Tangan kiri Xavier mengibas memberi isyarat bahwa temanya harus meninggalkan mereka berdua, Brian dan Jefry mengacungkan jempol dan mereka berdua berpamitan ke pada Erli untuk pergi terlebih dahulu.


Perjalanan menuju rumah paman Erli cukup jauh dari tempat di mana Erli bertemu Xavier. Setelah berputar-putar akhirnya mereka sampai di kediaman Jafar.Baru saja keluar dari mobil, tiba-tiba Khafi mendekat dan meninju wajah Xavier.


Peristiwa tersebut membuat Erli berteriak dan beberapa tetangga keluar melihat keributan yang Khafi timbulkan. Xavier tidak membalas pukulan sepupu Erli, bahkan dia terlihat diam saja.


“Cukup Aa!” teriak Erli seraya mendorong sepupunya.


“Kenapa kamu membela brengsek ini, hah? Aku tidak suka dia menginjakkan kakinya di halaman rumah ini!" Mata Khafi melebar saat melontarkan kalimat tersebut.


"Dia telah membantuku. Jika tidak ada dia ....” Ucapan Erli terhenti.


“Mungkin saja saat ini aku terkapar tidak berdaya di rumah sakit!” .


“Apa maksudmu?” tanya Khafi dengan mata yang menyipit.


“Sewaktu aku pulang dari akademik, ada dua preman yang membuntutiku. Preman itu ingin memperkosaku,” ungkap Erli dengan air mata yang terus menetes membasahi permukaan wajah cantiknya.


“Aku tidak percaya dia berbuat baik terhadapmu. Aku yakin itu semua adalah rencananya!” Khafi menyanggah perkataan Erli.


“Cukup Khafi, jangan berbuat sembrono seperti itu!” tutur Rasmi lembut.


“Abdi moal percanten ka anjeunna, Bu! Aku tidak akan percaya sama dia, Bu!” tandasnya dengan suara yang cukup keras. "Dia itu pria brengsek Bu. Banyak wanita di luar sana yang dia permainkan," ungkap Khafi.


"Diam! Ayo, masuk!"


Rasmi menarik tangan anaknya dan mengajak Khafi masuk ke dalam rumah, sedangkan Xavier yang masih terduduk di tanah hanya tersenyum kecut mendapat perlakuan tidak baik dari Khafi.


Bukan Xavier jika tidak pintar berakting, pemuda kaya itu memasang wajah datar dan meninggalkan kediaman paman Erli tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.


“Xavier tunggu!” teriak Erli, gadis itu mengejar mobil Xavier yang melaju cepat meninggalkannya.


Keesokan harinya Erli sibuk mencari Xavier di setiap sudut kampus, tetapi gadis itu tidak menemukan Xavier di mana pun.

__ADS_1


“Jefry tunggu!” pekik Erli, gadis itu berlari menghampiri teman dekat Xavier.


“Apa?” sahut Jefry seraya menatap Erli dengan sorot mata yang sinis.


“Xavier di mana? Sejak tadi aku mencarinya,” ujar Erli lembut.


Jefry melirik Brian yang berada di sampingnya.


“Dia tidak masuk hari ini, kenapa kamu bertanya keberadaannya? Bukankah kamu membenci Xavier?!” pungkas Brian dengan mata yang bergolak.


“Siapa yang bilang, aku benci Xavier? Aku hanya tidak suka dia terlalu menggangguku,” ungkap Erli seraya memalingkan pandangannya.


Brian mengajak Jefry meninggalkan Erli yang cantik, gadis itu memiliki tahi lalat di atas bibirnya.


“Hai, tunggu! Sebenarnya di mana Xavier?” teriak Erli dengan tangan yang terangkat ke atas.


Brian dan Jefry tidak menghiraukan teriakan Erli, bahkan kedua teman Xavier tersebut tersenyum melihat gadis itu kebingungan.


“Rencana Vier berhasil, sob!” kata Jefry di sela tawanya.


“Vier harus tahu tentang ini,” pungkas Brian yang kini mengirim pesan singkat pada Xavier.


Erli berjalan lesu mencari Xavier di taman, dia sana dia bertemu dengan Gisela mantan pacar Xavier. begitu anggun gadis itu berjalan menghampiri Erli.


“Ada urusan apa kamu sama Xavier?” tanya Gisela dengan mata yang berbinar.


“Aku hanya ingin meminta maaf atas perilaku sepupuku kemarin,” sahut Erli terkekeh.


“Lebih baik kamu menjauh darinya, sebelum kamu menyesal.” Setelah memberi nasihat Gisela pergi meninggalkan Erli yang masih duduk di taman kampus.


“Apa maksud ucapannya itu?” tanya Erli keheranan.


Mata Erli terus menatap punggung Gisela yang semakin lama semakin menjauh.


"Hmm, baru kali ini aku melihat wanita secantik dia."


***


Setelah dua hari absen tidak menghadiri kelas, hari ini Xavier hadir di kelas Pak Cakra. Mata Erli tak pernah berpaling menatap Xavier yang duduk di hadapannya, beberapa kali dia melempar kertas yang bertuliskan permintaan maaf atas perilaku Khafi tempo hari, tapi usaha Erli tidak di gubris oleh Xavier.


Begitu marahkah dia padakku? gerutunya.


Gadis berkulit kuning langsat itu menghela napas dan kembali fokus terhadap materi yang di jelaskan Pak Cakra, setelah beberapa waktu berlalu kelas Pak Cakra telah usai. Bergegas Erli mengemas semua buku dan dia berlari mengejar Xavier yang telah keluar terlebih dahulu.


“Xavier tunggu!” pekik Erli dengan napas yang tersengal-sengal.


Xavier memberhentikan langkahnya dan berbalik, pemuda itu menatap tajam gadis yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2