Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Entah Siapa


__ADS_3

Selepas kepergian Erli, Rafan meninggalkan ruang NICU menuju taman rumah sakit yang lumayan jauh dari sana. Pria berkumis tipis tersebut tengah duduk termenung menatap hamparan langit yang tidak berdebu, awan dan burung-burung menambah keindahan langit biru yang luas.


Apa aku keterlaluan? tanya Rafan dalam hati.


"Tapi aku benar-benar cemburu saat melihat barang yang diberikan Xavier, untuknya!" Mengatakan hal itu membuat amarah Rafan semakin berkobar.


Pria itu semkin hanyut dalam lamunannya hingga dia tidak dapat menyadari ada seorang pria duduk disampingnya. Rafan sedikit tersentak ketika dia memalingkan pandangannya.


"Astagfirullah!" Reflek Rafan menggeserkan tubuhnya.


"Maaf saya sudah membuat Anda terkejut," kata pria tua itu.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya saja yang terlalu fokus dengan pikiran saya sendiri," kata Rafan yang sedikit menganggukkan kepalanya.


Dua pria itu Sling memperkenalkan diri dan perbincangan mereka lumayan cukup asyik, sampai di mana sebuah panggilan telepon memutuskan obrolan mereka. Pria tua yang sejak tadi duduk bersama Rafan berpamitan pergi.


"Waalaikumsalam, ada apa Nia?" tanya Rafan di sambungan telepon.


"Mbak di mana, Mas?"tanya Rania santai.


"Di kamar, Mas lagi di taman menikmati suasana sore." Rafan menyugar rambutnya ke belakang.

__ADS_1


"Rania dan Tante di sini sejak 15 menit yang lalu. Tapi, Mbak enggak muncul-muncul!" Sontak Rafan mematikan panggilan teleponnya secara sepihak dan berlari menuju kamar Erli dirawat.


Baru saja sampai di depan kamar istrinya, seorang perawat wanita datang dengan wajah judesnya.


"Apa Bapak atau keluar lainnya membawa bayi Anda keluar dari ruang NICU? Kami 'kan sudah melarang agar tidak membawa bayi keluar dari ruangan itu, karena kondisi bayinya belum memungkinkan terkena udara luar," kata perawat itu dengan mengatupkan bibir sambil mengernyitkan keningnya.


"Bukankah salah satu dari kalian membawa bayi saya untuk diperiksa!" ucap Rafan tegas.


Mendengar pernyataan Rafan membuat perawat perinatologi khawatir plus terkejut bukan main.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan bayi kami, saya tidak tinggal diam. Saya akan tuntut kalian semua," ancam Rafan, jari telunjuknya mengacung ke arah perawat Perinatologi berdiri.


"Saya akan memeriksa sekali lagi, Pak. Siapa tahu memang teman kami yang membawa bayi Anda," Tutur perawat itu.


Mendengar ada keributan Rania dan Dewi keluar mempertanyakan hal apa yang telah terjadi. Rafan memberitahu tante dan juga adiknya bahwa bayinya tidak ada di ruang NICU.


"Sebaiknya kita lapor polisi, Fan! Ini bukan Maslah sepele, Erli dan bayimu hilang bersamaan. Apa mungkin mereka diculik?" Dewi menatap keponakannya secara bergantian.


"Tante jangan membuat Rafan semakin panik," pinta Rafan sambil meraih ponselnya.


"Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja aku takut terjadi apa-apa dengan istri berserta anakmu." Ucapan Dewi membuat Rafan berpikir demikian.

__ADS_1


Mana ada seorang yang baru selesai operasi bisa jalan-jalan jauh membawa anaknya keluar, pasalnya anak mereka membutuhkan terapi sinar matahari dan dia juga memerlukan alat medis lainnya demi menyanggah daya tahan tubuhnya yang kurang baik.


"Sebaiknya kita berpencar. Tante ke sana dan Nia ke arah situ! Aku akan mencari disekitaran taman dan koridor rumah sakit," cakap Rafan memerintahkan adik serta tantenya.


Mereka bertiga pun berpencar mencari diberbagai tempat, mereka juga menanyakan keberadaan Erli dengan orang yang lalu-lalang di lorong rumah sakit. Namun, semua orang menggeleng dan menjawab tidak tahu dengan orang yang mereka tanyakan.


"Ya Allah Erli ... kamu di mana sekarang?" Mata Dewi nyalang mencari Erli diberbagai sudut rumah sakit, tetapi dia tidak menemukan batang hidung istri keponakannya.


Begitupula dengan Rania, gadis berambut sebahu tersebut mencari kakak iparnya di kantin rumah sakit hingga dia terduduk lemas dipinggir kolam ikan.


"Enak ya jadi kamu, bisa bebas tanpa memikirkan hal yang melelahkan." Rania mengusap keningnya yang berkeringat dengan punggung tangannya sendiri.


...***...


Dokter tersebut menghela napas lalu meraih selang infus yang terpasang di tangan kiri Erli. Jarum suntik menembus selang infus, perlahan cairan itu keluar dan menjalar ke seluruh tubuh Erli. Entah apa yang disuntikkan dokter itu, yang jelas suntikan tersebut membuat Erli tidak sadarkan diri.


"Tolong maafkan saya! Jangan menyalahkan saya tentang apa yang terjadi saat ini," pungkasnya sambil mengibaskan tangannya berulang kali di hadapan Erli.


Dia mungkin mengira Erli telah kehilangan kesadarannya, tapi ternyata. Ibu muda tersebut masih setengah sadar dan bisa mendengar suara dokter itu walau tidak begitu jelas.


Siapa yang mengutus pria ini? Apa itu Xavier? Tidak mungkin dia tidak akan berbuat sejahat ini.

__ADS_1


Erli dan bayinya dibawa keluar dari rumah sakit dan tampak bayi mungil itu menangis. Karena terkejut perawat itu menepuk lembut paha bayi Erli sambil mengucapkan hal-hal yang baik.


Dokter dan dua perawat yang mengantar Erli mendorong brankar menuju kamar teratas. Seorang yang berpakaian rapi mendekati Erli yang masih tertidur, senyuman jahat tampak di wajah seseorang tersebu, dengan suara beratnya memberi perintah lain pada dokter dan dua perawat yang ikut mengantar Erli.


__ADS_2