Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Lanjut Curhatnya


__ADS_3

"Bentar-bentar," sanggah Rafan sambil menunjukkan telapak tangannya.


"Kampret lo, Fan!" keluh Galang, "tadi aja lo desak gue, ketika gue mau ngomong lo malah angkat telepon dari wanita sialan itu!"


Emosi Galang tidak dapat terbendung, kala dia melihat adiknya lebih memilih mengangkat telepon dari seseorang yang Galang benci sejak dulu.


"Bisa kagak lo jangan ganggu rencana gue sama Rafan!" pekik Galang disebelah telinga adiknya.


"Mas!" decak Rafan dengan mata melotot.


"Ape lo berani sama gue? Gue jitak juga kepala lo!" desisnya dengan gigi yang merapat.


Galang selalu emosi jika ucapannya disela dan dia paling tidak suka melihat wanita cerewet, tetapi beda lagi urusannya kalau yang cerewet itu Zulaika. Dia akan berusaha mendengarkan seluruh petuah yang ibunya tuturkan dan dia akan rela berlama-lama berdiam diri demi sang ibu mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.


Terlihat tidak sopan dan urakan, tetapi sebenarnya Galang—pria dewasa yang manja tidak banyak keluarganya yang mengetahui sifat aslinya. Hanya keluarga inti saja yang mengetahui kemanjaan Galang, entah itu pada Zulaika ataupun pada bibi dan adik-adiknya.


Oleh sebab itu, Rafan Dan Rania selalu sayang terhadap Galang. Walau terkadang dia selalu bersikap kekanak-kanakan.


"Oke, nanti gue hubungi lagi. Makasih sudah menghibur ibu gue," ucap Rafan dan pria berkumis tipis tersebut mengakhiri sambungan teleponnya.


Rafan meletakkan ponselnya dan melirik sang kakak, "Lanjutkan cerita Anda, Pangeran Dangdut!"


POV Rafan.


Kocak bukan? nama itu memiliki alasan tersendiri, sewaktu kecil Mas Galang adalah anak gampang marah dan dia akan ngambek jika mainan atau makannya aku rebut. Namun, anehnya ketika ayah memutar musik dangdut dia akan ikut bergoyang walau sedang nangis sesenggukan, sejak saat itulah Mas Galang diberi nama Pangeran Dangdut.


Galang melirik tajam Rafan yang kini tengah melakukan mobil barunya dengan kecepatan sedang.


"Benar-benar adik lucknut ...!" kata Galang sambil menjitak kepala Rafan.


"Lo tuh, kakak durhakma." Melirik sekilas.


"Sejak kapan kata durhaka naik jabatan?" Galang geram dengan tingkah adiknya dan lagi-lagi dia menjitak kepala Rafan.


"Terus aja lo jitak kepala gue sampai botak!"


kakak beradik ini memang jarang akurnya dan sering bertengkar, tetapi pertengkaran mereka hanyalah bentuk perhatian mereka berdua. Suasana berubah hening sejenak dan dua detik kemudian mereka kembali memulai percakapan ringan.


"Mau sampai kapan lo jomblo, Mas?" tanya Rafan sambil memperhatikan jalanan, "kasihan ibu. Beliau selalu kepikiran lo! Apa lo kagak suka sama wanita?" Pertanyaan Rafan membuat Galang makin naik pitam.


"Kagak bisakah lo sopan sedikit sama gue? Gue masih mencari wanita yang tepat buat gue dan ibu," runtuk Galang. Usia pria yang berjambang ini hanya selisih tiga tahun dengan Rafan.


"Tipe cewek lo kaya apa? Nanti gue cariin, siapa tahu temen gue ada yang cocok sama lo," kata Rafan kalem.


Galang terdiam sejenak dan pria itu tersenyum seraya mengelus jambang kebanggaannya.

__ADS_1


"Ngapain lo ketawa-ketawa sendiri? Jangan-jangan lo udah ...."


Galang menatap Rafan dengan tatapan yang membunuh, untuk mengalihkan perhatian adik Galang tersebut bertanya tujuan kakaknya.


"Hmm ... lo mau gue anterin ke showroom atau bengkel?"


"Bengkel," jawab Galang cepat.


Seper detik diamnya Rafan, Galang bercakap. "Lo tahu kagak ...."


"Kagak!" seru Rafan mengejek.


"Kampret gue belum selesai ngomong."


Rafan tertawa terbahak-bahak dan suami Erli tersebut mengatur ritme pernapasannya setelah melihat mata saudaranya semakin membulat sempurna.


"Gue mau istri gue kaya istri lo," tutur Galang lirih.


Adiknya itu sedikit terkejut mendengar pernyataan kakaknya, buru-buru Rafan menanyakan alasan Galang.


"Kenapa lo menginginkan tipe cewek kaya Erli?"


Tampak lengkungan di bibir pria berjambang tipis ini.


"Gue kagak yakin dengan keinginan gue sendiri, tapi gue sangat mengagumi istri lo Fan." Ungkapan perasaan Galang membuat Rafan sedikit tidak nyaman.


"Jangan ngikutin jejak gue, Mas! Lebih baik lo cari wanita yang single," kata Rafan terkekeh.


Galang membuang memalingkan wajahnya ke arah jendela dan menjawab lagi ucapan saudara laki-lakinya.


"Memangnya masalah?" Masih tetap memandangi jalanan.


Rafan tidak bersuara sedikitpun, suami Erli itu sangat emosional hati ini. Dia juga tidak suka kalau ada yang membahas istrinya, walaupun itu Galang.


"Kenapa lo diem? Lo cemburu sam gue?" cetus Galang, "tenang Fan, gue tidak berniat merebut Erli dari lo. Walau bentukan gue kaya gini, gue masih memiliki hati," imbuhnya sembari menepuk bahu kiri Rafan.


"Bukan itu yang ada dalam pikiran gue," bantah Rafan kalem.


Kening Galang mengernyit dan anak tertua Zulaika membuka kaca jendela.


"Lantas, apa yang mengusik pikiran lo?" Galang mengisap rokok yang baru saja dia nyalakan.


Adiknya menghela napas berat sambil menepikan mobilnya.


"Surat pranikah kami hampir usai. Dia meminta gue untuk tidak memberi perhatian lebih," beber Rafan lirih.

__ADS_1


"Cengeng amat!" cibir Galang, "berjuang dapatkan hatinya kalau lo cinta sama dia. Jangan cemen!"


"Gue sudah berusaha, tapi sepertinya dia tidak menginginkan gue dan terlebih lagi pernikahan ini bukan kemauannya."


Galang menepuk bahu Rafan mencoba menguatkan saudaranya. Sekilas adiknya menatap wajahnya yang tersenyum.


"Saran gue, lo harus lebih memperhatikan Erli buat dia jatuh hati sama lo. Jangan biarkan sisa waktu lo berlalu begitu saja!" pesan Galang menasihati adiknya.


Benar juga, kata Mas Galang. Kenapa gue kagak kepikiran hal itu? Hal apa yang dia suka? gumam Rafan dalam hati dan otaknya berpikir keras benda yang istrinya suka.


"Woi, kenapa diem aja lo!" bentak Galang mengejutkan Rafan yang tengah terbengong.


"Gue sudah tahu hal apa yang harus gue lakukan," sahut Rafan antusias.


Bergegas suami Erli menginjak pedal gas dan mobil berwarna silver Metallica tersebut melaju kencang diantara kendaraan lainnya.


"Ngomong-ngomong ... kalian sudah anu belum?"


"Anu? Anu apaan?" Rafan balik bertanya.


"Itu loh Fan! Masak lo kagak ngerti?" tegas Galang mendesak adik lelakinya.


Rafan yang semakin bingung meninggikan suaranya, "Ana-anu ita-itu, sebenarnya lo mau bertanya soal apa ...?"


Kedua tangan Galang mempraktekkan dua insan saling bertautan.


"Apaan?" seru Rafan dengan suara beratnya.


"Susah ya, ngomong sama kampret!" gerundel Galang.


Berulang kali Rafan menatap wajah Galang dan berulang kali pula dia bertanya.


"Hei! Rafan Winasis bin Suprianto ... yang gue tanyakan itu, lo sama Erli sudah bercocok tanam belum?" Suara Galang melengking di telinga Rafan.


Tidak ada hujan tidak ada angin Rafan tersenyum tersipu malu. Ya, sikap Rafan ini belum pernah Galang lihat seumur hidupnya.


"Wah, hebat lo! Sudah bekerja keras dengan Erli tiap malam," bisik Galang lirih di telinga adiknya.


"Tidak ada yang seperti itu!" sanggahnya tanpa cerita panjang lebar.


"Yang bener lo, Fan. Lo belum mencicipi hal itu," ucapnya malu-malu.


Galang tidak percaya dengan ucapan Rafan barusan.


"Kalau gue jadi lo, sudah habis Erli gue makan tiap malam!" tandasnya penuh percaya diri.

__ADS_1


Kali ini rasa cemburu Rafan meningkat tiga kali lipat dari yang sebelumnya.


"Jangan memandangi istri gue dengan tatapan mesum!" kata Rafan pelan tapi tajam.


__ADS_2