Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Kondisi Erli


__ADS_3

Melihat Erli tidak sadarkan diri segera dia membopong tubuh istrinya, dibaringkan tubuh Erli di atas ranjang.


"Erli, kau dengar suaraku?" Menepuk pelan pipi Erli.


"Bangun Er, jangan bikin aku takut!" panggilnya seraya meraih kaosnya yang tergantung di belakang pintu.


Dari kejauhan Rafan melihat noda darah di lantai, hal itu membuat Rafan segera melihat tubuh Erli.


"Astagfirullah!" pekik Rafan.


Bergegas Rafan membuka pintu dan membopong Erli keluar kamar.


"Ibu ... Bibi ...," teriak Rafan sambil berjalan cepat


Zulaika yang tengah berbincang santai dengan Marlita, beranjak dari tempat duduknya.


"Ada apa?" tanya Zulaika yang kini berjalan menghampiri anak laki-lakinya.


"Rafan mau ke rumah sakit, tolong bantu Rafan mengemas beberapa pakaian untuk Erli!" pinta Rafan.


Mata Dewi melotot melihat darah terus menetes dari kaki Erli.


"Ya Allah, cepat bawa dia ke rumah sakit, le!" kata Dewi panik.


"Rania ikut, Mas."


Rafan mengangguk, Rania berjalan di belakang Rafan sambil mengikat rambutnya. Ekspresi wajah Zulaika menarik perhatian Dewi dan Handoko. Bagaimana bisa seorang ibu mertua tidak panik melihat menantunya dalam kondisi hamil tidak sadarkan diri.


"Menyusahkan saja!" gerutu Zulaika seraya melangkah menuju kamar Rafan.


"Tante ...." Zulaika menolehkan kepalanya ke arah Marlita yang masih duduk di sofa.


Marlita menggelengkan kepalanya pelan setelah Zulaika menatapnya. Dewi merasakan hal yang janggal selepas melihat tingkah kakak iparnya.


Ada apa dengan mereka berdua? Bukannya ... dia tidak suka dengan gadis ini? Namun, kenapa sekarang mereka **sangat d**ekat sekali? gumam Dewi dalam hatinya.


Lamunan Dewi buyar kala Handoko mengajaknya menyusul Rafan ke rumah sakit.


"Jangan bengong aja! Ayo, kita susul Rafan. Siapa tahu dia membutuhkan kita," ajak Handoko sambil menarik tangan istrinya.

__ADS_1


"Bentar Mas! Aku ambil barangnya Erli dulu," kata Dewi lembut.


Perlahan dia masuk ke dalam kamar Erli dan dia melihat kakak iparnya tengah memasukkan beberapa setel baju Erli ke dalam tas.


"Mbak ...." Dewi menghampiri Zulaika.


"Hmm, ada apa?" jawab Zulaika tanpa melihat Dewi.


Dewi mengulum bibir bawahnya dan dengan ragu-ragu dia melontarkan beberapa pertanyaan.


"Sejak kapan Mbak akur sama Marlita? Apa ... Erli pernah menyinggung hati, Mbak?" Menatap Zulaika penuh penasaran.


"Kenapa kamu menanyakan hal ini?" Zulaika menghentikan aktivitasnya.


Dewi yang tidak pernah berbicara serius dengan Zulaika, membuat dirinya sedikit salah tingkah.


"Aku lihat sejak Marlita datang, Mbak tampak sangat senang sekali. Dan ...." Dewi menggantungkan ucapannya.


"Dan apa ...," lanjut Zulaika.


"Itu ... ketika Rafan keluar membopong Erli, Mbak tampak kesal tidak suka. Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" Dewi memiringkan kepalanya.


Dorongan Zulaika membuat Dewi melangkah mundur beberapa kali, kening wanita itu mengerut sampai kedua alisnya hampir menyatu.


"Mbak enggak ikut?"


"Males, kamu aja sana pergi! Aku mau menemani Marlita, kasihan dia datang jauh-jauh tidak di temani."


Mulut Dewi terbuka dan matanya melebar setelah mendengar perkataan kakak iparnya.


"Mbak!" bentak Dewi sambil membanting tas yang dia tenteng.


"Apa lagi?" tanya Zulaika dengan mata yang membulat.


"Mbak itu mertuanya Erli, jadi ... seharusnya Mbak menemaninya di sana! Apa pentingnya menemani gadis itu?" protesnya dengan nada yang meninggi.


Zulaika melangkah mendekati adik iparnya. "Kalau kamu kasihan ... temani dia di sana!" bisik Zulaika, "Jangan ajak-ajak aku!" imbuh Zulaika dengan mata yang melotot.


"Astagfirullah ... setan mana yang merasukimu, Mbak?" Dewi mengelus dadanya berulang kali, "di mana hati nurani mu berada? Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu. Jika Mbak kesal dengan Erli, setiaknya Mbak datang demi anak yang dia kandung!"

__ADS_1


Zulaika menunjukan smirk-nya dan tersenyum miring, "Whatever," desisnya pelan.


Dewi menggeleng kepalanya dengan kekesalannya dia keluar sambil membawa tas yang berisikan baju Erli—mantu keponakannya.


"Ayo, Sayang!" ajak Dewi ketus.


"Kamu kenapa?" Handoko mengelus punggung istri cantiknya.


Mata Dewi melirik Marlita yang masih sibuk dengan ponselnya. "Nanti aku ceritakan!"


sepasang suami istri tersebut keluar menuju garasi mobil, dengan kecepatan sedang Handoko mengendarai mobilnya. Di tengah perjalanan Dewi menceritakan peristiwa tadi ketika dia dan Zulaika berdebat.


"Mungkin Mbak lagi mumet babe," kata Handoko lembut.


"Semumet-mumetnya orang, dia tidak akan bersikap kejam kaya dia. Dengan wajah tidak berdosa dia bilang tidak enak ninggali Marlita, 'lah Marlita itu siapanya dia, coba?" gerutu Dewi sangking kesalnya.


Handoko mengelus punggung tangan istrinya, "Kamu jangan ngomel-ngomel terus nanti cantiknya hilang loh," rayu Handoko disela senyumannya.


"Jengkel aku, Mas ... lihat Mbak Ika kaya gitu. Kedekatannya dengan Marlita juga sangat aneh banget," keluh Dewi.


"Sudah-sudah! Coba nanti aku yang ngomong sama Mbak, siapa tahu dia mau mendengar ucapanku."


Di persimpangan jalan Handoko membelokan mobilnya dan beberapa menit kemudian dia menghentikan mobilnya di sebuah rumah sakit ternama.


Dua orang paru baya tersebut masuk menyusuri koridor rumah sakit sampai bertemu dengan Rania dan Rafan yang tengah duduk gelisah di depan ruang operasi.


"Apa kata dokter, Fan?" tanya Handoko yang kini duduk disebelahnya.


"Anak kami harus dilahirkan sekarang," jawabnya lesu.


Handoko dan Dewi saling menatap, tanpa disuruh Dewi mengirim pesan singkat kepada Zulaika.


Mbak, Erli sedang berada di ruang operasi.


"Sing sabar yo, le. Yang sabar ya, nak." Dewi mengelus kepala keponakannya penuh cinta.


Seorang perawat keluar dari ruang operasi dengan wajah yang menegang, ketika perawat itu hendak berlalu pergi Rafan menghentikan langkah perawatan tersebut.


"Apa istri saya baik-baik saja, Sus?" tanya Rafan khawatir

__ADS_1


__ADS_2