
Jafar meminta Rafan masuk dan mereka saling duduk berhadapan. Tatapan mata Jafar yang terlihat menajam membuat Rafan salah tingkah, tapi dia mencoba untuk tenang menunggu paman istrinya mengawali pembicaraan mereka.
Setelah menunggu sekian menit akhirnya Jafar mengawali pembicaraan yang memanggil Erli. Sepasang suami istri tersebut saling melempar pandangan, khawatir dan takut bercampur menjadi satu.
Rafan yang melihat Erli gusar langsung menggenggam erat jemari istrinya.
“Apa rencanamu ke depan?” Jafar menatap Rafan dan Erli secara bergantian.
Pertanyaan Jafar mewakili Erli. Selama dua hari ini Erli mengurung diri memikirkan kehidupannya dengan sang anak. Meski dia sangat menginginkan Rafan menjadi suaminya, tetapi dia tidak menginginkan Rafan terbebani akan kehadirannya.
Erli melihat wajah sang suami dari ekor matanya, dia tidak berani menatap Rafan secara langsung karena rasa yang dia pendam akan semakin membuatnya egois dan menahan langkah panjang Rafan.
“Saya akan bawa Erli pulang,” tegas Rafan tanpa basa-basi.
Deg, jantung Erli berhenti berdetak setelah mendengar ucapan Rafan, seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Erli mencubit tangannya sendiri memastikan peristiwa ini adalah nyata bukan mimpi.
Apa telingaku bermasalah? Atau ... aku sedang bermimpi? Tidak aku yakin ini nyata, tapi apa yang membuatnya memilih keputusan itu? Kata hati Erli.
Ibu muda itu menatap penuh kefokusan wajah suaminya, rasa cinta dan kekagumannya terhadap Rafan semakin bertambah. Keyakinan hatinya meningkat tinggi dan pada detik itu juga dia mengucapkan sebuah janji yang akan dia pegang erat sampai nyawa meninggalkan raganya.
Aku akan tetap menjadi makmum-Mu, Mas. Tidak akan aku biarkan kau melangkah menjauhiku, ucapnya dalam hati.
Seulas senyum merekah di bibir thin lips-nya membuat Rafan mengerutkan keningn melihat sang istri senyum-senyum sendiri tanpa alasan. Takut istrinya berkhayal semakin tinggi, Rafan menjentikkan jarinya dan menyerukan nama sang istri.
“Hei, Samiera Erliana.” Mengguncang lengan Erli.
Erli yang terperanjat menyerukan sebuah kalimat yang membuat Rafan senang bercampur malu di depan Jafar, Rasmi dan juga Khafi—kakak sepupu Erli yang masih menjomblo.
“Ayo, kita pergi ke kamar!” Netra Erli melebar menatap wajah keluarga yang tercengang.
Istri Rafan tersebut menggigit bibir bawahnya dan kembali mendudukkan dirinya di kursi. Dengan perasaan yang canggung Erli melempar senyum kecut pada semua orang, beda dengan Rafan—pria itu menahan tawa dan berulang kali dia mengusap tengkuknya.
“Sampai di mana tadi pembicaraan kita,” tanya Erli sambil menyikut lengan Rafan.
Karena tidak mendapat jawaban, Erli melirik ke samping dan kembali menyenggol lengan Rafan dengan sikutnya.
Alis Erli terangkat, “Sampai mana pembicaraan kita?”
__ADS_1
“Besok sore aku nganter Paman dan Bibi pulang ke Bandung. Kamu di sini sama Aa,” kata Rafan kalem.
“Kenapa pulang? Kangen Erli belum hilang,” protes Erli kepada Jafar dan Rasmi.
“Tapi, sepertinya kamu lebih kangen dia!” tunjuk Rasmi dengan mengangkatkan sebelah alisnya.
Sontak Erli tersipu malu dan mulutnya membentuk garis lurus. Memang benar, selama dua hari ini dia terlihat gusar dan sering melamun. Beruntung itu tidak mempengaruhi asi eksklusifnya, sehingga Alkhaiz masih bisa mendapat asupan gizi dengan baik.
“Bukan gitu Bik! Erli benar-benar ....”
Buru-buru Khafi menyambar ucapan Erli.
“Benar-benar kangen Rafan,” seloroh Khafi sambil menyugar rambutnya ke belakang.
“Aa ....” Mata Erli melotot menatap sang kakak.
“Tapi itu memang benar bukan? Kalau tidak benar, usir dia dari rumah ini!” perintah Khafi membuat Erli sedikit emosi.
“Mana bisa seperti itu!” sungut Erli dengan kening yang mengerut.
“Sudah bisa dipastikan jawab itu yang akan aku dengar,” kata Khafi sambil menaik turunkan alis.
“Geus cukup! Sudah cukup!” Rasmi menepuk pundak anak laki-lakinya.
“Imut ieu budak, Ma. Anak ini lucu, Bu.” Khafi tertawa kecil setelah puas meledek adik sepupunya.
“Sudah!” Rasmi melebarkan matanya saat melihat wajah Khafi, “kamu sudah makan belum?” sambung Rasmi lirih.
Rafan menggeleng sambil menyuguhkan senyuman tipis.
“Sejak kapan Mas belum makan?” Menatap penuh penasaran, “tunggu di sini! Erli ambilkan makan,” ucapnya seraya beranjak pergi ke dapur.
Selepas Erli meninggalkan mereka di ruang tamu, Jafar kembali angkat bicara dengan nada datar.
“Jika kamu benar-benar sayang Erli, bapak minta ... jaga dia baik-baik jangan sakiti hati dan pikirannya!” pesan Jafar menitipkan Erli ke sekian kalinya.
“Baik Pak, insya Allah saya akan lebih memperhatikan Erli.” Rafan menandaskan ucapannya tanpa ragu-ragu.
__ADS_1
“Aku pegang ucapanmu, jika kamu mengingkari janji yang telah kau ikrarkan ... jangan berharap bisa hidup dengan tenang!” ancam Khafi sambil menunjukkan kepalan tangan kanannya.
Rasmi mengerjakan matanya puluhan kali saat melihat wajah anak dan suaminya yang menegang.
“Tong nyingsieunan mitoha! Jangan menakut-nakuti menantu, ibu!” bentak Rasmi lirih seraya menjewer telinga dua pria yang paling dia sayang.
“Aah, sakit Bu!” keluh Khafi yang memegangi telinganya yang merah.
Sedangkan Jafar hanya diam tidak berekspresi, walau sebenarnya dia juga ingin mengeluh kesakitan. Namun, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Rafan—mantu pertamanya.
“Kalian kenapa?” tanya Erli yang membawa piring dan juga gelas berisikan teh hangat.
“Aya keuyeup nyiwit ceuli Aa, tadi ada kepiting nyasar mencapit telinga Aa,” sambar Khafi yang berdiri meninggalkan mereka masuk ke dalam kamar yang di tempati Rasmi berama dengan Jafar.
Erli mendudukkan dirinya tepat di sebelah Rafan dan menyodorkan piring yang dia bawa sejak tadi. Rafan tersenyum manis dan perlahan melahap makanan yang disajikan oleh sang istri.
Khafi yang berada di dalam kamar meneriaki Erli.
“Ponselmu berdering, Er!”
Mendengar teriakan sang kakak, Erli berdiri dan mengambil ponselnya yang dia cas tadi.
“Eh, Bima. Kenapa dia telepon malam-malam begini?” Alis Erli menaut tatkala melihat nama mantannya yang tertera di layar ponselnya.
“Assalamualaikum ... ada apa Bim?” sapa Erli lembut.
Sesaat mendengar jawaban Bima diujung telepon, netra Erli berkaca-kaca dan ponsel yang dia tempelkan di telinganya terjatuh begitu saja.
🌿🌿🌿
Perasaan yang terpendam akan selamanya terpendam dan tidak akan menemui titik tujuan.
Namun, jika kau berani mengutarakan apa yang ada dalam hatimu itu akan menuntun langkah kakimu menuju jalan.
Entah itu haluan cinta atau jalan kekecewaan, intinya setiap rasa yang kau pendam akan membuahkan sakit dan sesak tanpa ujung.
🌿🌿🌿
__ADS_1
Happy reading, my loyal readers 🥰 I am very happy when you give likes, comments and gifts.
Thank you so much for all the support you give me, I can only say this. Without you, Ria would not have the enthusiasm to write anymore and without you I would not be able to return to Noveltoon. Give me your love🤭