
POV Rafan.
Mataku melotot melihat kartu ucapan yang tertera di semua karton dan buket bunga, langkahku sudah didahului oleh pria brengsek itu. Niatku yang hendak membelikan buket bunga Anyelir untuk Erli kini telah gagal.
Apa yang harus aku lakukan? bagaimana mengatasi situasi yang membuatku kecewa? semua ini membuat hatiku sakit, rasa sakit yang tidak pernah aku rasakan. Belum pernah aku kecewa sedalam ini, selama ini aku lebih menyukai kesendirianku.
Ancamannya tadi bukan main-main dan kini dia sudah memulai tindakannya. Apa yang harus aku lakukan? apa perlu mendatanginya dan meminta agar tidak mengusik ketenangan rumah tanggaku.
Ingin rasanya aku membuang dan membakar semua barang-barang ini, tetapi itu tidak mungkin aku lakukan. Diri ini tidak mau berubah jahat hanya karena tertinggal satu langkah.
...***...
"Kenapa Mas marah?" tanya Erli dengan mata menyipit.
Rafan menatap tajam wajah istrinya dan tatapan intimidasi Rafan membuat bulu kuduk Erli meremang, pasalnya suaminya itu tidak pernah mentapnya setajam ini terlebih Rafan yang dia kenal selalu tenang dan baik hati.
Namun, sore ini dia tampak marah kecewa dan sorot matanya memancarkan kekhawatiran. Erli yang ketakutan hanya bisa menundukkan kepalanya dan perlahan melangkah mundur untuk menghindari kontak mata dengan Rafan.
"Mau ke mana?" Suara berat Rafan menambah ketakutan Erli, degup jantungnya semakin kencang.
Ragu-ragu Erli menjawab pertanyaan sang suami, "Mau bikin susu."
"Tetap di sini! Ada sesuatu yang harus aku bicarakan," cegah Rafan seraya melipat lengan bajunya.
"Sebaiknya Mas salat dulu!" tutur Erli lembut.
__ADS_1
Tanpa menjawab ucapan istrinya, Rafan melewati Erli dan mengunci pintu kamarnya.
Setelah mendengar pintu terkunci, perut Erli terasa mual dan matanya melebar. Aura kamar berubah mencekam, serasa berhadapan dengan malaikat mau—tangan dan bibir Erli bergetar.
"Kenapa ... pintunya Mas kunci?" Kepala Erli masih tertunduk dan terlihat jemarinya memainkan ujung baju yang dia kenakan.
"Enggak apa-apa!" jawab Rafan tanpa ekspresi.
"A-apa yang a-akan Mas lakukan?" tanya Erli tergagap-gagap.
"Kau diam di sini! Jangan coba-coba keluar tanpa izinku!" Ini bukan permintaan melainkan perintah yang harus Erli patuhi.
"T-tidak bisakah kita obrolkan besok pagi saja, Mas?" usul Erli gugup.
Rafan menolehkan kepalanya ke belakang. Terlihat kilatan matanya yang menajam, hal itu membuat Erli semakin takut. Lagi-lagi kepalanya tertunduk, kegugupan yang dia rasakan saat ini melebihi sidang skripsi yang pernah dia rasakan awal akhir tahun lalu.
Erli masih berjalan mondar-mandir memikirkan tindakan yang akan suaminya lakukan. Tiba-tiba Rafan berdehem menyadarkan istrinya bahwa dia sudah selesai dengan segala aktivitasnya.
"Sudah selesai Mas?" tanya Erli tanpa melihat wajah sang suami.
"Hmm."
Situasi macam apa ini? Ya Allah ... selamatkan hamba-Mu ini, pinta Erli dalam hatinya.
"Duduklah!" Rafan menganggukkan kepalanya ke atas.
__ADS_1
Tanpa kata bantahan Erli mengikuti arahan suaminya. Hening, suasana masih hening. Rafan belum memulai percakapannya, Erli juga tidak berani bertanya tentang hal apa yang membuat suaminya berekspresi sedatar dan sedingin ini.
"Selama menjadi istriku, apa yang kau rasakan?"
Kening Erli mengernyitkan dan dia mendongakkan kepalanya supaya bisa melihat wajah Rafan.
"Kenapa Mas menanyakan hal itu?"
"Jawab saja pertanyaanku!" desis Rafan.
Lidahnya terasa keluh tidak bisa bergerak, hati kecilnya memerintahkan dirinya untuk mengutarakan segala rasa yang dia rasakan selama ini. Namun, otaknya menahan karena surat perjanjian yang telah mereka tanda tangani 6 bulan lalu.
"Kenapa diam saja? Pita suaramu putus, hingga tidak bisa berkata-kata?" cecar Rafan dengan suara seraknya.
Netra Erli melebar menatap Rafan dengan mata yang berkaca-kaca dia berkata.
"Kalau mau menceraikan aku, ceraikan saja! Jangan berkata kasar yang menyakitiku!" sungut Erli, tanpa di sadari buliran bening keluar begitu saj dari pelupuk matanya.
Melihat air mata Erli mengalir membuat hati Rafan sakit, ingin rasanya dia memeluk dan menenangkan Erli. Namun, dia harus menahan hal itu demi mendapatkan jawaban jujur dari Erli.
"Kenapa sekarang kamu yang diam? Ucapkan saja apa yang ada di hatimu! Insya Allah aku akan menerima segala keputusanmu," kata Erli terisak.
"Sejak awal aku tidak menginginkan pernikahan ini. Kau ... yang selalu memaksa dan menyudutkan aku untuk menerima semua usulmu!" kata Erli penuh amarah.
"Sampai detik ini kau masih merasa terpaksa?" Rafan mencela ucapan Erli.
__ADS_1
Istrinya terdiam seribu bahasa sorot mata Erli memancarkan kekesalan yang sangat amat luar biasa. Begitu pula dengan Rafan, pria itu juga merasakan hal yang sama.
"Aku akan mengabulkan semua keinginan mu, jadi ... katakan saja apa yang ada di hati dan pikiranmu!" decit Rafan sembari berbalik memunggungi sang istri.