
Handoko membelai rambut Erli dan meraih jaketnya yang dia letakan di atas ranjang, sebelum Handoko membuka pintu dia berpesan pada wanita yang dia incar.
“Jangan melupakan janjimu tadi, oke!” Mengedipkan sebelah matanya.
“Iya,” jawab Erli tanpa menatap wajah Handoko—pria yang dia benci.
Handoko membuka pintu dan keluar dari sana, tidak lama kemudian dia membuka pintu kamar Erli dan berdeham.
“Jangan lupa nanti jam 11 malam,” katanya mengingatkan lagi.
Erli tidak bersuara, tapi dia menggerakkan kepalanya sebagai tanda mengerti dengan maksud ucapan Handoko. Suara decitan menandakan bahwa pintu telah tertutup, lagi-lagi Handoko membuka pintu dan mengucapkan kalimat yang sama dan hal itu membuat Erli jengkel.
“Iya, aku sudah tahu. Tidak perlu Om mengingatkan terus!” desis Erli, mata wanita itu membulat sempurna.
“Maafkan aku, babe.” Handoko beranjak meninggalkan kamar Erli—wanita yang membuatnya terpesona kala pandangan pertama.
Bersamaan dengan kepergian Handoko Rafan datang dengan sejumlah paper bag berwarna cokelat di kedua tangannya. Sebelum dia membuka pintu kamar, Dewi menghampiri Rafan memberikan jus untuk Erli.
“Makasih, Tan.” Senyuman terpancar di bibir pria baik hati itu.
Perlahan dia membuka pintu, Erli yang tengah sibuk merapikan kamar berdiri tegak dan meraih boneka beruangnya.
“Aku mengeti apa yang harus aku lakukan nanti!” betak Erli sambil melempar boneka beruang itu ke arah Rafan.
Boneka beruang tersebut mendarat tepat di wajah suaminya. Sontak Rafan terkejut dan pria itu mematung di tempatnya berdiri.
Erli terkesiap melihat suamiya yang dia lempar,buru-buru diaberjalan menghampiri Rafan.
__ADS_1
“Mas, maafkan aku! Aku tidak sengaja, aku pikir tadi itu Han— Ucapan Erli menggantung.
Rafan yang sedikit kesal mengangkat sebelah alisnya dan terlihat kemarahan di wajahnya.
“Mas jangan marah, ya. Aku benar-benar tidak tahu,” kata Erli memohon.
“Memang tadi sapa yangg telah masuk ke mara ini?” Pertanyaan Rafan menimbulkan kecemasan.
Kegugupan Erli menambah kecurigaan Rafan.
“Jawab! Siapa yang sudah masuk ke kamar ini?” Rafan mengulangi pertanyaannya.
“Anu Mas, tadi itu ....” Erli bergerak gelisah, dia benar-benar bingung saat ini.
“Ayo, cepat jawab!” Rafan melempar paper bag yang dia bawa sejak tadi.
Suara bentakan Rafan yang menggema membuat baby E terbangun dari tidur lelapnya.
“Maaf-in ayah ya, Sayang!” ucap Rafan mengelus pipi lembut baby E.
Perdebatan itu terhenti begitu saja karena baby E.
Sinar matahari digantikan oleh rembulan yang bersanding dengan bintang kecil yang memancarkan titik cahaya yang indah di atas sana. Acara hakikah baby E pun terlah dimulai, para tetangga yng diundang telah datang dan duduk memenuhi ruang tamu yang ukup luas.
Ustaz yang memimpin acara juga sudah datang, alunan sholawat nabi yang merdu menggema. Kebahagiaan terpancar di wajah seluruh anggota keluarga terutama Rafan dan juga Erli—selaku orang tua dari Alkhaiz Hanif Winasis, itulah nama yag diberikan Rafan untuk anak laku-laki pertamanya.
Rafan sangat hati-hati memilih nama untuk anaknya, dia berharap anaknya itu menjadi kepribadian yang sama dengan makna namanya. Alkhaiz Hanif Winasis yang berarti Lelaki tampan yang jujur dan juga pandai, begitulah makna nama anak Erli tersebut.
__ADS_1
Al digendong dan dibawa k tengah para bapak-bapak yang melantunkan sholawat nabi. Satu per satu para tetua memotong rambut Al, setelah selesai sesi potong rambut dan sesi acara lainnya juga selesai. Bayi mungil yang kini memiliki nama Alkhaiz terbut melakukan pemotretan dengan keluarga besar eyang uti dan juga eyang kakungnya.
Seluruh keluarga sangat bahagia malam ini, Zulaika sangat menikmati menimang cucu pertamanya.
“Uuh, gemasnya eyang uti kihat pipi gimbulmu ini.” Ratusan ciuman mendarat dikedua pipi Alkhaiz.
Jika dia bisa protes, mungkin saja saat ini dia akan turun dari gendongan Zulaika dan merengek di pangkuan bundanya.
“Lihat tu, Mbak Laika!” tunjuk Dewi sambil menyesap kopi pahitnya.
“Kenapa?” tanya Handoko malas.
“Senyumannya tidak pernah surut setelah kehadiran Al,” kata Dewi antusias.
“wajar saja, itu cucu pertamanya.” Handoko meraih mangkok dan menuangkan gulai kambing.
“Kita kapan, ya?” Melirik suaminya dengan senyuman tipis.
“Kapan Meydina nikah? Aku juga ingin menimang cucu,” keluh Dewi lirih.
Handoko tidak menjawab ucapan istrinya, dia malah asyik menyantap gulai kambing yang dia ambil tadi.
“Astagfirullah ... sejak tadi aku ngoceh, kamu enak-enakkan makan!” protes Dewi dengan suara yang cukup tinggi.
Anggota keluarga yang melihat mereka hanya tertawa melihat reaksi lebay Dewi.
“Apa yang kalia ributkan kali ini?” tanya Derlan yang saat ini menuang teh manis.
__ADS_1
“Auk ah!” cetus Dewi merajuk.
Sontak semua orang tertawa, keramaian rumah Rafan seketika hening saat gendang telinga mereka mendengar salam dari luar sana.