
Rania melambaikan tangannya berulang kali di depan wajah kakak iparnya.
“Mbak!” Pekik Rania, “kenapa bengong? Tu lihat si dedek bangun minta asi!” kata Rania menunjuk bayi mungil itu dengan dagunya.
Tanpa berlama-lama lagi Erli bangkit mengambil sang anak dari box tempat tidur. Benar, sejak tadi Erli sedang membayangkan reaksi Rania, jika dia mengakui bahwa dia dan Rafan menikah bukan karena cinta melainkan kehadiran baby E dalam tubuh Erli.
Tidakkah akan terasa sulit mengungkapkan kebenaran jika hubungan itu semakin dekat dan erat. Itulah yang saat ini Erli rasakan, tertekan dan tersiksa akan kebenaran yang dia simpan selama menjadi istri Rafan. Terlebih lagi, seluruh anggota keluarga besar Rafan sangat menyayangi dan menerima kehadirannya.
“Nah, Mbak mulai bengong lagi. Apa yang bersarang di kepala Mbak?" tegur Rania seraya menyosor pipi keponakannya.
“Enggak ada,” sahut Eli.
“Bohong!” decit Rania, “kalau benar-benar enggak mikirin apa-apa, kenapa Mbak bengong terus sejak tadi?” sabungnya dengan mata yang menyipit.
“Udah kayak detektif aja kamu.” Bola mata Erli bergerak cepat.
“Nah ‘kan, Mbak gelisah.” Menatap dengan mata yang menyipit.
Bola mata Erli bergolak dan tangan kanannya menutupi sebagian wajahnya.
“Ada yang membuat Mbak tidak nyaman? Atau ada omongan yang menyinggung perasaan, Mbak?” Rania memberondong istri dari kakaknya itu.
Erli cuma menggelengkan kepala dan wanita itu menyunggingkan senyuman tipis.
"Kenal sih, Mbak mengelak muluk?
Apa yang membuat Mbak takut cerita?"
"Enggak ada apa-apa dan aku tidak takut," tegas Erli menjawab semua todongan pertanyaan Rania.
"Kalau gitu coba sini cerita sama Nia!” Gadis berusia 20 tahun itu jongkok di hadapan Erli dan menaruh kepalanya di pangkuan kakak iparnya.
Erli memainkan kancing baju anaknya, terlihat gurat kekhawatiran di wajah istri Rafan tersebut.
“Tidak perlu ragu Mbak!” tutur Rania meyakinkan Erli.
“Tapi janji tidak akan marah dan membenci Mbak!” pinta Erli dengan suara yang lembut.
“Hmm, Nia janji!” gumamnya sembari mengangguk cepat.
“Tapi ... Mbak takut kamu kecewa dan membenci Mbak dan dia,” kata Erli dengan wajah yang memelas.
__ADS_1
(Dia yang dimaksud Erli adalah anaknya)
“Aku, Rania Kumalawati berjanji tidak akan melanggar apa yang telah disepakati!” janji Rania penuh penekanan.
“Janji ya ....” Erli menunjukkan jari telunjuknya.
Gadis yang memiliki rambut sebahu tersebut menautkan kelingkingnya ke jari kelingking Erli.
“Mbak dan Rafan telah menyepakati se—" perkataan Erli menggantung setelah mendengar Zulaika memanggil anak busungnya.
"Naksu ...." Terikat Zulaika menembus tembok kamar Erli, walau tidak begitu kencang. Namun, Samar-samar terdengar oleh gendang telinga Erli.
"Nanti saja!"
Erli menajamkan sorot mata menatap Rania.
“Ih ibu, mengganggu saja!” kesalnya sambil memukul ubin.
“Tidak boleh seperti itu. Sana temui ibu!”
Rania bangkit dan menatap Erli, “Setelah ini harus cerita sama Rania, awas aja mengelak lagi!” ancam Rania seraya mengacungkan telunjuknya.
Erli yang masih berkutat dengan pikirannya dikejutkan dengan kedatangan Handoko yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya—area pribadi yang hanya bisa dimasuki dia dan juga Rafan, walau beberapa menit lalu Rania juga masuk ke dalam sana. Namun, itu atas izin Erli dan tidak pantaskan jika ada seorang laki-laki masuk ke dalam kamar orang lain yang di mana suaminya tidak berada di sana.
Erli membulatkan netranya melihat wajah mesum Handoko.
“Mau apa kau masuk ke kamarku?” bentak Erli seraya menghentikan aktivitasnya menyusui baby E.
“Aku kangen sama kamu. Apa kamu tidak kangen sama aku?” Pertanyaan begok plus bodoh yang dilontarkan Handoko membuat Erli geram.
“Pergi dari sini! Jika tidak ....” desis wanita itu.
“Jika tidak apa?” Handoko melepas jaket yang dia pakai.
Erli berjalan mundur menghindari Handoko yang saat ini perlahan mendekatinya.
“Pergi ...!” teriak Erli seraya melempar boneka ke arah Handoko.
Begitu mudah Handoko menangkap boneka beruang yang Erli lempar, senyuman licik Handoko membuat Erli semakin benci dan marah.
“Pergi dari sini ...!” teriakan Erli mengundang satu orang yang tidak berada jauh dari kamarnya.
__ADS_1
Ada keributan apa di sana? tanya kakak dari almarhum Suprianto—suami Zulaika.
Belum sempat kakinya melangkah, Dewi dipanggil Derlan—adik ipar Zulaika.
“Mas Lan, sini deh!” Dewi melambaikan tangan kirinya.
Derlan mengurungkan niatnya yang hendak mendekati kamar Erli dan dia pergi menghampiri Dewi yang berdiri di ambang pintu dapur. Hari ini adalah hari spesial buat semua orang pasalnya, mereka tengah sibuk mempersiapkan hakikah untuk baby E. Oleh sebab itu anggota keluarga Zulaika tengah sibuk di luar rumah dan juga di dapur sehingga mereka tidak begitu mendengar teriakan Erli.
“Kenapa kau selalu kasar padaku?” tanya Handoko sembari menyibak rambutnya yang sedikit gondrong.
Erli tidak menjawab pertanyaan Handoko, dia malah sibuk menggunakan gardikan dan menggendong bayinya. Dengan langkah cepat dia menuju pintu kamarnya, saat meraih gagang pintu Handoko memperlihatkan kunci yang dia bawa.
“Bajingan, berikan kunci itu padaku!” seru Erli dengan mata yang melotot.
“Peluk dan cium aku, nanti akan aku berikan kunci ini.” Handoko menggerakkan kedua alisnya.
“Cih, najis!” cemooh Erli sebari memalingkan pandangannya.
Handoko tersenyum jahat selepas mendapat penolakan Erli.
“Kau memang tipeku. Pantas saja Rafan sangat kehilangan ketika kau menghilang,” kata Handoko.
Itu artinya ... Nia berkata jujur. Fokus Erli jangan memikirkan hal itu dulu, pikirkan apa yang harus dilakukan saat ini?, gumamnya dalam hati.
“Tidak ada pilihan untukmu, Sayang. Lebih baik kau mengikuti semua permintaanku,” desak Handoko sembari mengulum bibirnya sendiri.
“Lebih baik aku mati dengan segala kehormatanku dari pada hidup dalam kehinaan menyentuh kulitmu!” decitnya bersungut-sungut.
“Siapa pun di luar sana, tolong buka pintunya!” pekik Erli seraya memainkan gagang pintu.
Handoko tertawa puas melihat ketakutan Erli, pria paru baya itu berjalan mendekati istri keponakannya. Begitu lancangnya dia menyentuh pinggang Erli dan mengelus lengan istri keponakannya sendiri.
Erli yang tidak terima langsung menampar pipi Handoko dan ketika dia ingin melayangkan tendangan di area sensitif, Handoko menghalau gerakan cepat Erli.
“Aku dapat membaca semua gerakan mendadak mu, Sayang.” Pria mesum itu memperlihatkan smrik-nya.
“Menjauh dariku bajingan tengik!”
Apa yang akan terjadi? Akankah Erli menyerah?
Nantikan kelanjutan kisahnya! Aku up setiap hari di jam yang tidak tertentu😅enggak jelas banget ya diri ini🤭
__ADS_1