
Rafan membuka pintu dan ternyata tamu mereka; paman, bibi dan juga sepupu Erli. Rafan terseyum dan mecium punggung tangan Rasmi dan juga Jafar, tidak lupa dia juga melakukan tos ala pria pada Khafi.
“Silakan masuk!” ucap Rafan sambil membawa tas Rasmi.
“Coba lihat siap yang datang, Al?” tutur Rafan lembut.
“Siapa namanya, tadi?” tanya Rasmi menatap wajah menantunya.
“Alkhaiz Hanif Winasis. Bik,” jawab Rafan dan tangan pria itu melambai memanggil Rania.
Bergegas adik perempuannya berjalan menghampiri mereka dan semua orang pun juga berdatangan satu per satu untuk saling menyapa.
“Bagaimana kabar Kalian?” Erli meneliti wajah Jafar, Rasmi dan juga Khafi.
“Alhamdullilah baik, kalau kamu?” Rasmi memeluk keponakan tersayangnya.
Erli hanya mengangguk dan tersenyum, entah apa penyebabnya tiba-tiba saja buliran bening menitik dari pelupuk matanya.
“Naha anjeun ceurik? Kamu kenapa nangis?” Rasmi menakupkan kedua tangannya di sebagian wajah Erli.
“Teu ku-nanaon Bik, tidak kenapa-kenapa Bik,” jawab Erli sesenggukan.
“Lamun teu aya nanaon, naha anjeun ceurik? Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu menangis?” kata istri Jafar seraya memeluk kembali keponakannya.
Khafi yang berdiri di belakang Jafar mengelus kepala adik sepupunya itu.
“Geus jadi indung jeung masih cengeng, rék nandingan anak anjeun? Sudah jadi seorang ibu masih cengeng, apa kamu mau saingan sama anakmu?” ejek Khafi sambil menyentil kepala adik sepupunya.
Erli yang membenamkan wajahnya di bahu Rasmi segera mendongakkan kepala menatap tajam Khafi.
“Bibi, Aa ...,” rengek Erli dengan mulut yang manyun.
Anggota keluarga Rafan tercengang melihat menantu Zulaika manja bak anak kecil. Lima bulan menjadi istri Rafan, Erli terlihat sebagai wanita yang tangguh kuat dan juga penyayang. Kali ini mereka melihat sisi lain dari mantu Zulaika, dari kejauhan suami Dewi berkata.
“Rupanya Erli sangat manja.” Handoko meletakkan mangkoknya dan ikut bergabung di gerombolan keluarganya.
“Iya, anak bungsu kamu ini memang manja,” sahut Jafar ramah.
“Setiap mereka bertemu pasti bertengkar terus,” timpal Rasmi.
Handoko mengajak Jafan dan juga Rasmi duduk di ruang tamu. Di keheningan Jafar mengawali percakapan.
__ADS_1
“Maafkan kami datangnya telat.” Jafar menakupkan keduaa tangannya.
Zulaika menyuguhkan teh dan juga kopi di atas meja.
“Enggak apa-apa yang penting kalian selamat sampai di sini,” sahutnya seraya menyunggingkan senyuman.
“Oya, Teh. Tadi saya bawa pete kesukaan Teteh dan juga si Aa,” kata Rasmi sembari menunjuk sebuah tas kain berwarna hitam.
(Aa yang dimaksud Rasmi; Galang.)
Beberapa orang tertarik melihat tas yang Rasmi tunjuk, netra mereka melebar melihat Mbok Sami mengeluarkan Pete dari tas. Bukan apa-apa, pete yang dibawa Rasmi terbilang panjang dan besar ukurannya.
“Terima kasih! Sayang Galang tidak ada di rumah,” ujar Zulaika sedih.
“Memangnya pergi ke mana, Teh?” Rasmi mencondongkan tubuhnya.
“Dia pergi ke Singapura untuk mengikuti event. Entah event apa yang dia ikuti minggu ini,” kata Zulaika disela tawa kecilnya.
“Itu benar-benar Pete, Pak?” tanya Dewi penasaran.
Jafar mengangguk dan menjawab ucaapan Dewi, “Iya, kebetulan kami punya beberapa pohon di kebun.”
“Masya Allah, ya. Bisa Segede itu, biasanya 'kan hanya segini.” Dewi menunjukkan tangannya sebagai ukuran Pete pada umumnya.
“Berkah itu namanya, Bu. Padahal ‘kan Bandu diguyur hujan terus ya,” ucap Dewi sambil membuka toples kaca yang berisikan kacang.
“Silakan!” imbuh Dewi menawarkan camilan yang dia suguhkan.
Erli, Khafi dan juga Rafan meninggalkan ruang tamu dan duduk di teras samping. Ketiga orang tersebut duduk berhadapan, tatapan sayu Khafi tidak pernah terlepas dari adik sepupunya itu dan tangan kanannya menggenggam erat tangan Erli.
“Kamu baik-baik saja ‘kan, Neng?” tanya Khafi kalem.
Erli melepas genggaman tangan sang kakak lalu berdiri dan berputar sebentar.
“Aa ‘kan bisa lihat sendiri, kalau Eneng baik-baik saja.” Erli menggerakkan kedua alisnya.
“Syukurlah kalau begitu. Hatur nuhun, Fan!” ucap Khafi seraya memalingkan wajahnya.
“Ih, Aa enggak keren! Masa iya bilang kaya gitu aja sambil nangis,” cibir Erli mendekati Khafi yang masih membuang wajahnya.
Pria itu tidak dapat berkata-kata lagi, pasalnya adik yang dia sayang telah bahagia bersama orang yang tepat.
__ADS_1
Rafan sangat paham apa yang dirasakan Khafi saat ini, karena dia juga memiliki adik perempuan. Dia juga sangat khawatir saat Rania menjalin hubungan dengan pria, sama halnya dengan khafi masa dulu kala menjaga Erli.
“Aa Teu bosen hirup nyorangan sepanjang waktos? Aa tidak bosan hidup sendirian terus?” tanya Erli sambil memakan roti sisir.
“Tidak,” ketus Khafi.
“Pantas saja jomblo terus,” cibir Erli dengan mata yang milir sinis.
“Tunggu bulan depan!” seru Khafi pelan.
“Aa sudah memiliki calon? Siapa? Orang mana Aa?” berondong Erli dengan mata yang mengejap cepat.
Khafi cuma tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Erli.
“Siapa Aa, wanita itu? Aa kenal di mana? Apa dia cantik seperti Erli?” desak Erli dengan dagu terangkat.
Walau Erli sudah mendesak sedemikian rupa Khafi masih bungkam tidak mau menjawab sedikitpun. Istri Rafan tersebut tidak menyerah dia masih memberondong Khafi dan kakak beradik itu seakan tidak peduli dengan kehadiran Rafan di tengah-tengah mereka
Pria berkumis tipis itu diam saja tanpa menyela obrolan Erli dan Khafi, sampai di mana ketengannya terganggu oleh suara ponselnya yang terus berdering tiada henti. Bergeraknya Rafan membuat kakak beradik itu sadar, bahwa mereka telah mengabaikan Rafan yang sejak tadi duduk bersama mereka di sana.
Erli menatap suaminya penuh penasaran, pasalnya Rafan tidak pernah mengangkat telepon menjauhinya. Dia akan tetap terduduk sambil mengobrol lewat telepon seluler.
Ada hal penting apa yang mengharuskannya menjauh? Apa dia marah padaku? Gumam Erli dalam hati, netranya terus terfokus memandang sang suami yang berdiri dekat pohon jambu.
“Perjanjian kalian batal?” bisik Khafi lirih.
Erli mengangguk dan menggeleng.
“Naon hartina anjeun, ngabolaykeun atawa nuluykeun? Bagaimana maksudnya, batal atau lanjut?” tanya Khafi dengan suara khasnya.
"Erli teu nyaho. Kumaha hubungan urang ka hareup, Erli tidak tahu. Bagaimana hubungan kami ke depannya," ucapnya dengan raut wajah yang berubah.
Sorot matanya yang tajam kini berubah sendu dan suara tegasnya juga sedikit melemah.
Jujur, Erli sangat berat mendengar kata-kata cerai Aa. Namun, Erli juga tidak boleh egois.
Khafi mengelus bahu Erli, dia mencoba membuat adiknya tenang. Sentuhan Khafi seakan memberitahu Erli untuk selalu tabah dalam menjalani hidup.
“Kuring nyuhunkeun anjeun ngadoa. Mudah-mudahan Erli tiasa ikhlas nalika Rafan ngalebetkeun surat cerai, aku minta doanya. Mudah-mudahan Erli bisa ikhlas ketika Rafan menyerahkan surat cerai,” ucap Erli lembut.
Selepas mengutarakan isi hatinya, dia menatap Rafan. Wajah tampan suaminya berubah menegang dan terlihat rahang Rafan mengetat yang membuat Erli khawatir, tangan kanan suaminya terlihat mengepal keras.
__ADS_1
Kening Erli mengerut sampai-sampai alisnya hampir menyatu. Ekspresi Erli menyita perhatian Khafi, sontak dia ikut melihat arah pandangan mata Erli.
Siapa yang menelponnya? Kenapa dia terlihat sangat marah? Dia tidak sedang cemburu ‘kan! Kata Erli yang saat ini mencuri pandang.