
Setelah sekian detik menatap satu sama lain, mereka pun memutuskan untuk keluar melihat tamu yang telah mengusir pelanggan Rafan yang tengah menikmati waktu nongkrong mereka.
"Hmm, nyonya!" seru Bima pelan.
Mendengar Bima segera Erli melihat orang yang membuat Bima terkejut.
"Dia ... bukannya itu ibu-nya Xavier?" tanya Erli seraya memalingkan pandangannya ke arah Bima yang berdiri di sebelah Rafan.
"Iya, lo benar. Dia memang ibu kandung Xavier," jawab Bima yang kini berjalan mundur, "tunggu! dari mana lo tahu kalau itu nyonya besar." Menatap penuh penasaran.
"Dulu aku pernah bertemu sama beliau saat jadi tutor di kompleks perumahannya orang kaya, tapi untuk apa beliau ke sini membawa orang sebanyak itu?" balas Erli yang kini menjepit sebagian rambutnya.
"Sebaiknya kita temui dia agar kita tahu maksudnya ke sini!" ajak Rafan.
Rafan menggandeng tangan Erli dan mereka bertiga berjalan bersamaan menghampiri Sasmita—ibu kandung Xavier yang telah lama tinggal di luar negeri. Pernikahan Safwan dan Sasmita gagal karena Safwan tergoda oleh asisten baru Sasmita yang saat ini menjadi nyonya di kediaman Safwan—rumah megah tempat Erli di sekap sepekan lalu.
Nita adalah ibu tiri Xavier yang berniat mencelakai Erli jika Xavier bertanggung jawab atas anak yang di kandung Erli saat itu dan dia-lah orang yang ditemui Jafar. Nita juga yang menghina dan mencemooh keluarga Jafar, itu sebabnya Jafar dan Khafi begitu sangat benci keluarga Xavier.
Wanita tua itu duduk tenang menghadap jalanan yang tengah ramai di padati kendaraan yang lalu lalang. Kulit yang keriput tidak mengurangi kecantikan Sasmita, pancaran matanya yang bening menambah kecantikan wajahnya.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" sapa Rafan untuk mengawali perbincangan mereka.
Sasmita tersenyum dam memandangi wajah mereka bertiga secara bergantian.
"Kamu berada di sini juga?" Sorot mata tertuju kepada Bima yang berdiri di belakang Rafan.
"Hanya kebetulan saja Nyonya," kata Bima ramah.
Sasmita tersenyum, wanita tua itu bangkit dari duduknya mendekati Rafan dan juga Erli.
"Bisa suruh karyawan kalian meninggalkan restoran ini?" pinta Sasmita dengan senyuman yang merekah di bibirnya, "Kau juga Bima!" lanjutnya seraya duduk kembali.
Bima mengangguk dan berjalan meninggalkan tiga orang yang duduk berhadapan. Rafan mengirim pesan singkat pada grup kantor, dia memberitahu semua karyawannya untuk libur hari ini.
Tidak butuh waktu lama 12 karyawan yang hadir saat itu meninggalkan restoran dengan wajah yang sumringah, suasana hati mereka jatuh terbalik dengan Rafan dan Erli. Sepasang suami istri tersebut merasa khawatir dan juga cemas, pasalnya restoran mereka didatangi oleh istri pertama Safwan orang terkaya kedua di ibu kota.
__ADS_1
Sasmita menyesap latte yang sebelumnya dia pesan tadi, setelah puas menikmati latte Sasmita memulai pembicaraan.
"Kalian pasti bertanya-tanya tentang kedatanganku ke sini," ujar Sasmita penuh percaya diri.
Rafan yang telah menunggu Sasmita memulai pembicaraan mereka pun menjawab sekaligus bertanya dengan kepala yang mengangguk.
"Ada kepentingan apa anda datang ke restoran kami?" Menatap dengan tatapan sendu.
"Aku mau mengambil darah daging anakku!" sahutnya tanpa keragu-raguan.
Erli tersentak menatap wanita tua itu, "Apa maksud Nyonya?"
"Anak yang kamu lahirkan anak Xavier bukan?" tegasnya dengan alis yang terangkat sebelah.
"Bukan! Al anakku, dia bukan anak Xavier!" tukas Erli dengan mata yang melotot.
Ibu Xavier menyeringai seraya menganggukkan kepala kepada salah satu bodyguard yang selalu berdiri menghadap padanya. Pria berkepala plontos masuk membawa sebuah koper hitam, diletakkan koper tersebut di atas meja dan dibukanya koper yang berisikan uang.
"Apa ini kurang untuk menebus anak Xavier?" Pertanyaan Sasmita membuat Erli geram.
Istri Rafan tidak terima dengan tawaran yang diberikan ibu kandung Xavier.
"Aku pikir kau berbeda dengannya, yang siap mencelakai aku jika Xavier mengakui anak yang aku lahirkan." Pembuluh darah di lehernya berdenyut saat melontarkan kalimat itu.
Mata Sasmita terbelalak mendengar ucapan Erli, "Apa maksudmu?" tanya Sasmita dengan mata yang menyipit.
"Pergilah dari sini! Aku tidak membutuhkan harta kalian semua. Aku mohon biarkan kami hidup tenang!" Menakupkan kedua tangannya di hadapan Sasmita.
"Kau memang istimewa, Mai. Sungguh disayangkan anakku tidak bisa menikahi kamu," pungkas Sasmita dengan air mata yang mengalir.
Rafan yang terdiam sejak tadi kini angkat bicara, "Sebenarnya apa tujuan anda mengunjungi kami?"
"Aku hanya penasaran dengan istrimu!" tunjuk Sasmita dengan dagunya, "Xavier selalu membicarakan dia saat dia pulang ke rumahku. Dia juga sering mengeluhkan sikapmu yang acuh tak acuh dengan kehadiran Maira," ucap Sasmita yang menutup koper yang dia pamerkan pada Erli dan juga Rafan.
"Apa urusan anda dengan keluargaku?" Mengernyitkan keningnya, "bagaimana aku memperlakukannya itu hak-ku dan tidak ada hubungannya dengan anda dan juga almarhum anak anda!" kata Rafan pelan, tapi tajam.
__ADS_1
"Memang betul," balasnya dengan kepala mengangguk-angguk, "tapi, sebagai seorang suami kamu harus lebih perhatian dengannya!"
"Tidak perlu mengaturku! Sebaiknya anda pergi dari sini dan bawa semua uang dan juga pengawal anda!" usir Rafan kalem.
"Karena anda aku harus mengalami kerugian tidak membuka restoran ini," keluhnya dengan sorot mata yang menajam.
Sasmita mendorong kopernya yang ada di atas meja, "Ini bisa membayar kerugianku hari ini. Maafkan aku yang telah mengacaukan bisnismu!" Sasmita beranjak dari tempat duduknya dan wanita tua itu mengenakan syal yang dia buka tadi sewaktu datang ke restoran ini.
"Tunggu Nyonya! Tolong bawa koper ini, aku tidak membutuhkan uang yang anda bawa!" Rafan mengembuskan napas beratnya.
"Jony ambil koper itu!" titah Sasmita pada bodyguard-nya yang membawa tas jinjing majikannya.
Hanya datang ke restoran saja Sasmita mengerahkan 10 bodyguard untuk mengawalnya. Bukan untuk gaya-gayaan, itu dia lakukan karena pekerjaannya sebagai Wamenlu. Entah bahaya apa yang dikhawatirkan olehnya yang jelas tindakan ibu Xavier tersebut terbilang lebay.
"Kamu baik-baik sajakan, Sayang?" Menggenggam kedua tangan Erli.
"Aku gugup Mas. Jujur aku sangat takut saat ini," ungkap Erli dengan suara yang bergetar.
"Iya, aku tahu. ini saja tanganmu masih dingin kaya es," balas Rafan kalem.
"Mas, kenapa kita selalu di usik begini? Apa salahku di dunia ini?" Erli membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang diletakan di atas meja.
"Kamu enggak salah, yang salah itu aku yang tidak memperhatikanmu selama ini." Rafan mengecup ujung kepala Erli penuh kasih sayang.
Erli mendongakkan kepala menatap Rafan dan dia menggeleng memberi respons atas ucapan suaminya. Suasana dalam restoran hening hanya ada suara deruman mesin mobil dan motor yang lewat di depan restoran Makmur Kenyang.
Tatapan yang dalam mendorong hasrat mereka untuk saling memajukan kepala mereka berdua.
.
.
.
Happy reading guys, maaf jika dia bab belakangan ini terasa datar dan biasa saja. Maklumlah ya ... remahan kerupuk ini lagi melempem tingkat kecamatan🥴
__ADS_1