Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Pertemuan Terakhir mereka


__ADS_3

Bima berlari menghampiri rekan kerjanya yang telah menyadari keberadaan Erli.


"Hei Sob, mau ke man lo?" pekik Bima dari jarak 50 meter.


Sobin menyimpan jari telunjuknya di bibir dan tangannya yang lain menunjuk ke pilar sisi timur, Bima yang paham akan arah itu meninggikan intonasi suaranya.


"Udah biar gue yang periksa, lo ke sono aja!" titah Bima mengalihkan perhatian temannya.


"Bisa diem kagak lo!" bentak Sobin dengan mata yang melotot.


Bima mengedikkan kedua bahunya, "Emang gue pikirin."


Bima berusaha tenang dan memasang wajah datar seperti biasa, dua pria tersebut berjalan mengendap-endap dan Sobin menoleh dengan sangat hati-hati ke tempat Erli berada.


"Tukan kagak ada apa-apa, lo ngeyel banget dikasih tahu!" kata Bima sambil menepuk bahu Sobin.


"Gue bener-bener lihat bayangan orang tadi di situ, yakin dah sumpah!" ujar Sobin menyakinkan rekannya.


Bima tersenyum miring seraya mendorong tubuh Sobin ke samping.


"Udah deh, lo jaga di sana! biar daerah sini gue sama Rojak yang jaga." Bima mengangkat satu alisnya.


Rojak mengangguk tanpa berucap apapun, dengan rasa kecewa Sobin pergi meninggalkan Bima dan Rojak. Sekitar 200 meter Sobin berjalan, tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya lalu berlari menghampiri Rojak dan juga Bima.


"Ayo, kita periksa sekali lagi! Gue yakin banget di sana ada orang," ucapnya kekeh.


Bima menggerakkan kepalanya keatas seakan memberi pertanyaan pada Rojak—teman dekatnya.


"Kalau lo bersikeras mau memeriksa, silakan lo periksa sendiri!" Rojak bergerak kesamping memberi jalan kepada Sobin.


"Tapi, ingat! Gue kagak mau tanggung jawab kalau daerah selatan dimasukin orang asing," imbuhnya sambil bersedakep.


Mendengar ancaman Rojak, Sobin menelan kasar salivanya.

__ADS_1


"Lo pada kagak setia kawan sama gue. Begini 'kah sikap teman sejati?" cicit Sobin dengan tangan menggaruk kepala bagian belakang.


"Ogah punya teman kaya gantungan kunci," cibir Bima terkekeh.


"Gue juga ogah temanan sama manusia unik kaya lo!" timpal Rojak yang saat ini menyandarkan dirinya di tembok.


"Dasar temen kokonat, kalian pada!" cetus Sobin.


Bima dan Rojak menatap Sobin dengan sorot mata yang mematikan. Kalian pikir Sobin akan kabur setelah dipelototi teman-temannya? Sobin malah berkacak pinggang sambil berkata.


"Ih, nackal ... ackal ... nackal!" pekiknya seraya memukul lengan Bima dan Rojak secara bergantian.


"Alamak! Cabe kering kumat," kata Rojak bersembunyi di belakang tubuh Bima.


Pria yang memiliki tanda lahir di lehernya itu menghela napas. Bima mengangkat tangannya ke atas sambil mengeluarkan sinar laser dari matanya.


"Tunggu pendekar! Jangan kau bunuh aku dengan cara keji ini, a-aku masih mau h-hidup."


Setiap ada perdebatan mereka selalu menyelesaikannya dengan drama-drama tidak terduga, oleh sebab itu Rojak, Bima dan Sobin bersahabat. Sampai mereka memiliki pasangan, kejadian unik ini membuat Erli heran sekaligus terhibur.


Tontonan 3 aktor semi drama selesai setelah Sobin meninggalkan Bima dan Rojak. Erli yang tengah terduduk tegang dikejutkan oleh sentuhan tangan Bima.


"Kita harus bergerak cepat sebelum penjaga pintu gerbang kembali," kata Bima menggandeng tangan Erli dan berlari menuju pintu gerbang yang lumayan jauh, Erli meringis menahan rasa nyeri di perutnya.


"Bim ... Bima!" panggil Erli berulang kali.


"Ayo, jangan berhenti!" kata Bima tanpa melihat Erli yang berlari di belakangnya.


"Perutku sakit, Bim ...." keluh Erli dengan suara napas yang tersengal-sengal.


Mendengar kata 'sakit' yang keluar dari mulut Erli, langkah kaki Bima terhenti begitu saja.


"Maafkan gue! Gue lupa dengan kondisi lo, Er." Bima berjongkok di hadapan Erli sambil menatap perut ibu muda tersebut.

__ADS_1


Suara napas Erli yang memburu menambah keprihatinan di hati Bima, sungguh rasa bersalahnya membuat dia salah tingkah.


"Lo, mau gue gendong?" Erli menggeleng pelan.


"Kalau gitu, bayi lo gue aja yang gendong!" Menarik kain yang membalut tubuh baby E.


Erli mencekal tangan Bima seraya menggeleng dan melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar.


"Erli ... tunggu gue!" pekik Bima lirih, "astaga wanita itu," keluh Bima seraya berlari mengikuti Erli.


Sampai di depan rumah Safwan, taksi sudah menunggu Erli sejak 15 menit yang lalu.


"Telepon keluarga lo pakai hape gue." Bima mengeluarkan ponselnya.


"Pak, saya titip adik saya. Tolong anterin dia sampai di depan rumahnya!" pesan Bima pada sopir taksi.


Sopir taksi itu mengangguk mengerti. Bima pun melangkah mundur dan menutup pintu taksi, lambaian tangannya mengantar kepergian Erli dari rumah megah keluarga Xavier. Bima mengelus beberapa kali kepalanya kala melihat mobil taksi yang ditumpangi Erli bergerak menjauh dari hadapannya.


"Bim, cepat kembali! Tuan ingin berbicara dengan lo," kata Rojak melalui HT.


"Meluncur." Bima melangkah masuk ke dalam bangunan putih tinggi yang tampak indah saat menjelang malam.


Rojak menepuk bahu Bima, terpancar senyuman tipis di bibir kedua pria bertubuh tinggi tegap itu.


"Good job, boy." Rojak menepuk punggung Bima beberapa kali, "kenapa tu muka lo tekuk?" tanya Rojak dengan mata yang menyipit.


Pria yang dia anggap adik itu hanya menggeleng pelan tanpa membuka mulutnya.


"Ya elah, lo kenapa lagi Bim?"


"Kagak kenapa-kenapa."


Ketika Rojak dan Bima masih mengobrol, gendong telinganya mendengar derap langkah yang mendekati mereka.

__ADS_1


"Itu pasti Tuan, Bim. Apa yang harus kita lakukan?" Rojak melirik Bima.


__ADS_2