
Rania dan Dewi saling mencengkram jemari satu sama lain.
"K-kapan Mbak datang? Aku kok enggak denger suara pintu terbuka," ujarnya gugup.
"Barusan. Kalian terlalu asyik bergosip jadi enggak menyadari kedatanganku," jawab Zulaika santai, "di mana cucuku, Wi" tanyanya dengan mata yang berbinar.
Lah ... kenapa lagi ni orang? Tadi ogah diajak ke sini, sekarang dia nanyain cucunya. Apa dia benar-benar kesurupan? batin Dewi dengan mata yang menatap penuh penasaran.
"Dewi!" bentak Zulaika pelan, "kamu ini, ditanyain bukannya jawab malah bengong kaya orang kesambet," protes Zulaika kesal.
Lo yang kesambet Mbak, bukan gue! Heran deh, orang kaya macem mereka suka plinplan, ucap Dewi dalam hati dan sedetik kemudian Dewi tersenyum kecut mendengar keluhan sang kakak ipar.
"Maaf Mbak! Tadi aku lagi mikirin toko sepatuku yang baru," kilah Dewi membohongi Zulaika.
"Ada apa dengan toko-mu? Bukannya kamu bilang produksinya lancar," tanya Zulaika lembut.
"Itu ... dua karyawan Dewi lagi cuti, jadi pembuatannya sedikit tersendat." Mungkin tadi Dewi berbohong, tapi kali ini dia berkata jujur, Memang benar dua karyawan handalnya sedang cuti karena urusan yang mendesak.
"Ibu sama siapa ke sini?" Rania menatap wajah ibunya dengan tatapan sendu.
"Sama Galang. Tadi ibu nyuruh dia beli susu buat keponakanmu," cetus Zulaika disela tawanya.
"Mas Rafan juga keluar untuk beli susu dedek," sahut Rania dengan alis yang terangkat.
"Oallah, tapi ya udahlah biar keponakanmu punya stok susu yang banyak."
Rania tersenyum masam mendengar ucapan ibunya. Heran, memang Rania tengah keheranan melihat sikap ibunya yang berubah. Pagi tadi dia tidak mau menatap wajah Erli, tapi kali ini dia malah menanyakan bayi yang baru saja terlahir dari rahim kakak iparnya.
"Kamu apa Rania ... yang mau menemaniku, lihat cucu yang kudamba-dambakan sejak dulu?" Zulaika tersenyum lebar.
Rania dan Dewi saling melempar tatapan, mereka bingung mau jawab dan berbuat apa. Dua jam yang lalu Zulaika menolak ajakan Dewi demi menemani Marlita, kini dia datang berkata mendambakan cucunya sejak dulu.
...***...
__ADS_1
Satu jam sebelum Zulaika datang ke rumah sakit, Galang yang baru masuk ke rumah mendapati Marlita tengah mencampur teh Zulaika dengan air bunga yang dia ambil dari tas jinjing-nya.
"Jadi, manusia terhormat kayak lo bisa berbuat hal kotor seperti ini!" cibir Galang menyeringai.
Marlita terperanjat mendengar suara Galang. "I-ini tidak seperti yang lo kira, Lang," sanggah Marlita dengan suara bergetar.
"Lalu ... bagaimana kenyataannya? Lo mau nambahin pemanis buatan dari dukun? Atau lo mau tambahin racun ke minuman ibu gue!" hardiknya dengan mata yang melotot.
Marlita yang terdesak tidak bisa berbuat apa-apa dan dia juga tidak bisa memikirkan jalan keluar, dalam hati gadis bermata sipit itu memaki dirinya yang tidak teliti melihat keadaan rumah Rafan sehingga usahanya kepergok Galang.
"Lang, gue mohon jangan bilang sama Rafan atau ibu lo. Gue janji enggak akan mengulangi ini lagi," kata Marlita dengan kedua tangannya yang terkatup dihadapan Galang—anak tertua di rumah ini.
"Hmm, enak kali hidup lo!" Galang berdecak dengan rahang yang mengetat.
"Apa tujuan lo lakuin ini? Cepat katakan!" bentak Galang.
Suara teriakan Galang membuat Zulaika keluar menghampirinya di ruang tamu.
Tampak gurat kekhawatiran tercetak jelas di wajah Marlita, gadis itu bergerak gelisah.
"Kenapa kamu diam saja?" decit Zulaika mengerutkan kening, "kamu apakan calon mantu ibu, huh?"
Pertanyaan Zulaika membuat Galang menarik sudut bibirnya, anak tertua Zulaika kini mengetahui motif Marlita menggunakan hal mistis untuk mempengaruhi ibunya.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Kami hanya sedikit bersenang-senang saja, benarkan Lit?" cetus Galang mengangkat kedua alisnya.
Marlita yang gugup menjawab dengan suara terbata-bata, "I-iya Tan. Kami sedang mempermainkan permainan tadi."
Galang melangkahkan kakinya mendekati Marlita dengan senyuman jahat yang membuat gadis itu ketakutan.
"Ikuti apa yang gue ucapkan! Kalau tidak ...." Ancaman Galang menggantung menambah kegusaran di hati Marlita.
Gadis yang disebut calon mantu oleh Zulaika mengangguk kecil setelah Galang berbisik di telinganya.
__ADS_1
"Cepat keluar dari rumah ini! Tunggu gue di taman depan!" tandasnya dengan wajah yang mengetat.
"Tante, Lita boleh nyantai di taman depan?" tutur Marlita diwarnai senyuman tipis.
"Tentu boleh, Sayang. Kamu mau bersantai di mana saja boleh, tante tidak akan melarang." Zulaika mempersilakan gadis itu.
Perlahan Marlita keluar dengan jantung yang berdetak kencang. Takut dan khawatir menyelimuti hatinya dan lagi tatapan Galang yang menajam seakan merubah sosok Galang yang humoris menjadi malaikat maut yang bersiap membunuhnya sewaktu-waktu.
"Lang, g-gue mohon j-jangan lakuin sesuatu yang membuat gue terluka!" Marlita memohon dengan wajah yang memelas.
"Hmm," Galang bergumam melihat wajah palsu Marlita.
Gadis itu masih menundukkan kepalanya, rasa takut yang menjalar ke seluruh hati dan pikirannya membuat tubuhnya sedikit lemas.
"Gue tidak kayak lo!" hina Galang seraya menunjuk wajah Marlita, "apa lo pikir perbuatan lo ini akan membuat Rafan menceraikan Erli!" Galang menunjukkan smirk-nya.
"Gue lakuin ini karena rasa cinta gue ke Rafan!" ucap Marlita kesal, "salah gue di mana Lang? Gue sangat amat mencintai adik lo. Dan ... kenapa kalian semua selalu merendahkan gue? Selama ini, gue tidak pernah menyakiti atau melakukan kesalahan apapun di keluarga lo. Coba lo kasih tahu, di mana letak kesalahan gue, Lang!"
Air mata Marlita jatuh dan beranak membasahi pipi. Sejujurnya Galang kasihan melihat Marlita yang selalu diabaikan. Namun, dia juga geram dengan tindakan Marlita malam ini. Dia tidak menyangka orang berpendidikan tinggi bisa menggunakan hal mistis demi mencapai keinginannya.
"Mending lo enyah dari hadapan gue!" usir Galang tanpa melihat wajah gadis itu, "cepat pergi!" bentak Galang dengan suara yang meninggi.
Marlita terisak menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah Zulaika, sebelum dia masuk ke dalam mobil sekilas dia melihat Galang yang masih berdiri ditempatnya.
"Gue enggak akan menyerah begitu saja, mungkin kali ini gue gagal. Namun, lain waktu gue akan pastikan adik lo akan berlutut dihadapan gue!" ujar Marlita seraya mengusap kasar wajahnya.
Mobil mewah Marlita melaju sedang keluar dari kompleks perumahan, sampainya dia ujung kompleks tangannya meraih ponselnya di tas jinjing yang berwarna maroon.
Nada tunggu sambungan telepon terdengar nyaring. Sekali, dua kali dan akhirnya panggilan telepon tersebut mendapat jawaban.
"Semuanya hancur. Ambil tindakan selanjutnya yang tidak melibatkan gue!" bentak Marlita dan dia memutus sambungan telepon secara sepihak.
"Argh ... bangsat!" Memukul setir mobil berulang kali.
__ADS_1