Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Keindahan Malam


__ADS_3

Hanya sekali jentikkan jari, beberapa kembang api meluncur bebas di udara dan meledak indah. Percikan kembang api tersebut menampilkan kata ungkapan cinta Xavier terhadap kekasihnya.


Gadis itu terkagum-kagum menyaksikan kejutan tersebut. Selama hidupnya belum pernah dia mendapatkan kejutan seperti ini.


“Ya ampun, Sayang. Terima kasih ... Terima kasih telah menjadi pacar terindahku!” ucap Erli dengan air mata yang menetes.


Xavier tersenyum lalu memeluk tubuh kekasihnya, lagi-lagi pemuda itu menjentikkan jari.


Dep, semua lampu padam beberapa detik kemudian terlihat cahaya lilin muncul dari salah satu ruangan, sebuah kue yang cukup besar di sajikan dan seikat bunga mawar berwarna merah jambu diberikan oleh Xavier.


Wanita mana yang tidak terpikat akan kejutan manis Xavier yang sedemikian rupa, dari kejutan kecil sampai ke kejutan lainnya. Setelah Xavier memotong kue, dia memberikan kue tersebut kepada Erli dengan sangat antusias gadis itu menyuap beberapa potong masuk ke mulutnya.


Kepala Erli menggoyang pelan karna rasa manis dari kue itu. Ketika suapan terakhir masuk ke dalam mulut, ada sebuah benda yang dia temukan.


“Hmm, apa ini?” Tangan gadis itu meraih tisu dan di keluarkan benda yang ada di mulutnya.


Tampak sebuah cincin yang masih terbalut bater cream, perlahan dia menggosok dan kening Erli mengerut ketika cincin itu terlihat mengilat di bawah cahaya lilin yang remang-remang.


“Sayang ....” Erli mendongakkan kepalanya melihat Xavier yang telah tersenyum.


“Tidak perlu terkejut seperti itu! Aku mempersiapkan ini untuk calon ibu dari anak-anakku.” Dipasangkan cincin berlian tersebut ke jari manis Erli.


Cincin berlian itu menambah ke elokkan jari lentik Erli. Xavier bertepuk tangan dua kali, membuat lampu utama hidup kembali, perlahan Xavier menuntun kekasihnya masuk ke dalam ruangan.


Sebuah alunan musik klasik terdengar membuat Erli menelisik sudut ruangan.


“Sudah cukup kejutannya! Jangan menghamburkan uang begitu, tidak baik,” kata Erli memperingati pacarnya.


“Ini tidak sebanding dengan cinta dan pengorbananmu, Babe!” ungkap Xavier seraya meraih tangan Erli.


Xavier meletakkan kedua tangan Erli di pundaknya dan tangannya juga melingkar di pinggul Erli. Kedua insan itu mulai bergerak ke samping dan ke kanan ke kiri, hal baru ini membuat Erli menginjak kaki sang kekasih dan untungnya Xavier bersikap biasa saja tidak mempermasalahkan kejadian kecil itu.

__ADS_1


“Maafkan aku!” ujar Erli dengan kening yang mengerut.


Xavier tersenyum tipis dan menjawab lembut ucapan Erli, “Tidak apa-apa, jangan khawatir!” Anggukan kepala Xavier membuat Erli tenang dan mereka melanjutkan dansa yang terhenti sejenak.


Mereka kembali berdansa dengan nada musik yang sangat lembut. Hal itu membuat Xavier dan Erli mulai terhanyut akan suasana, pemuda itu memeluk mesra kekasihnya di saat mereka berdansa. Malam yang sangat indah ini membuat Erli sangat bahagia dan gadis itu semakin yakin akan keseriusan sang kekasih.


Selama menjadi pacar Xavier tak pernah sedikit pun dia membayangkan kejutan sebesar ini. Selama tiga bulan terakhir Xavier sudah melakukan banyak hal untuk Erli, dari menanggung biaya kuliah sampai membelikan beberapa barang mewah untuknya.


“Sudah siap?” tanya Xavier penuh semangat.


“Insya Allah, aku siap!” sahut Erli lirih.


Xavier meraih sebuah kotak merah yang ada di bawah troli kue tadi dan berikan kotak tersebut kepada Erli.


“Kenakan ini, ya!” pinta Xavier.


Erli mengangguk seraya membuka penutup kotak tersebut, setelah dia melihat isi kotak itu Erli menatap kekasihnya cukup lama.


“Kamu keberatan dengan permintaanku ini?” Xavier kembali bertanya.


Erli menggeleng cepat dan bergegas dia berjalan masuk ke dalam kamar.


“Haruskah aku menggunakan ini?” tanya Erli pada dirinya sendiri, “jika aku tidak menggunakan ini ... pasti dia akan marah dan mengira aku sudah tidak mencintainya lagi.” Gadis itu terus berjalan mondar-mandir seraya membawa kotak itu.


Erli sangat terkejut saat kekasihnya masuk tanpa mengetuk pintu.


“A-apa yang kamu lakukan?” Mata Erli melotot menatap wajah Xavier.


“Aku hanya memastikan saja. Ternyata betul, kamu belum mengenakan gaunnya” Jari Xavier menunjuk gaun yang ada di tangan Erli.


“Eemm, a-aku ....” Erli menundukkan kepalanya dan kaki kiri gadis itu terus bergerak tidak menentu.

__ADS_1


“Aku kenapa?” lanjut Xavier seraya menyentuh lengan Erli, “kamu masih ragu sama aku? Jika tidak mau melakukannya ya, sudah. Ayo, kita pulang! Untuk apa berlama-lama di sini?” ajak Xavier.


Erli menggigit bibir bawahnya, “Bukan begitu! Aku hanya merasa tidak cocok mengenakan gaun ini dan ... ini terlalu sexy, bisakah diganti dengan baju yang lain?” ucap Erli dengan mata yang berbinar.


Xavier mendorong tubuh Erli ke depan cermin.


“Coba kamu perhatikan baik-baik tubuhmu ini! Kamu itu makhluk Tuhan yang paling sempurna, model dan bintang Hollywood saja kalah dengan kemolekan tubuh indah mu ini. Aku yakin gaun ini sangat indah saat melekat di tubuhmu!” Xavier menyentuh lekukan pinggul Erli dengan sangat lembut.


Sentuhan lembut tangan Xavier membuat tubuh gadis itu meremang dan darah Erli seakan mendidih karna sentuhan itu. Melihat sang kekasih hanyut dengan belaian tangannya, Xavier berbisik mesra di telinga gadis berambut panjang itu.


“Cepat kenakan! Aku sudah tidak sabar melihat kau menggunakan gaun ini.” Xavier melangkah meninggalkan Erli yang masih mematung di depan cermin.


Sesaat kekasihnya keluar Erli menatap pantulan dirinya di cermin.


Perasaan apa ini? Kenapa seluruh tubuhku melemas saat tangannya menyentuh tubuh ini? pertanyaan demi pertanyaan muncul begitu saja.


Setelah sadar dari lamunannya, Erli bergegas menanggalkan seluruh pakaian yang menutupi tubuh rampingnya dan mengenakan gaun yang diberikan oleh Xavier. Pria yang tampan nan kaya, seorang pemuda yang kini telah memenuhi seluruh pikiran dan hati Erli.


Xavier masih duduk santai di sofa sembari menikmati two island red wine pinot noir. minuman yang beraroma kombinasi ceri yang manis, rosemary, mulberry dan cigar.


Red wine yang cukup terkenal di kalangan anak muda menengah ke atas dan minuman itu selalu menemani Xavier dikala kesepian.


“Aku tidak boleh mabuk! Tapi, minuman ini sungguh sangat nikmat. Bagaimana aku bisa menyudahi meminummu, hah?” katanya seraya memelototi gelas yang terus dia gerakan memutar.


Ketika pemuda itu tengah asyik menyesap minumannya, tiba-tiba dia menoleh ke samping sesaat mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat. Terlihat gadis cantik berkulit mulus mengenakan gaun tidur yang sangat sexy. Mata Xavier melotot, gelas yang ia genggam terlepas begitu saja sehingga gelas itu jatuh.


Suara gelas yang pecah membuat pemuda itu sadar dan bergegas dia berdiri menghampiri kekasihnya.


Xavier berdecak kagum dan netranya menelisik Erli dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“Sayang, kau sungguh menakjubkan! Tubuhmu seakan bercahaya setelah mengenakan lingerie.”

__ADS_1


Mendengar pujian yang keluar dari mulut Xavier, Erli tersipu malu dan kepala gadis itu tertunduk. Perlahan Xavier menyentuh pundak Erli dan sentuhan itu turun sampai ke pergelangan tangan kekasihnya.


__ADS_2