
Mobil BMW X5 melaju begitu kencang sampai di mana mobil itu sempat menyerempet mobil lain. Sehingga tubuh Xavier terguncang hebat dan hampir jatuh dari jok mobil, beruntung Brian sigap memeluk tubuh temannya itu.
“Bodoh! Apa kau tidak bisa mengendarai mobil dengan baik!” sungut Brian seraya memukul kursi Pengemudi.
“M-maaf, Maafkan s-saya, Pak!” Memohon dengan suara terbata-bata.
“Fokuskan matamu ke jalan!” Brian kembali membentak anak buahnya.
Setengah tersentak Benny memelototkan matanya mengawasi keramaian jalanan. Sedangkan Brian meraih ponselnya di saku jas, pria yang memiliki berjambang tipis tersebut menghubungi anak buah lainnya.
“Sobin, tolong kau urus kerugian mobil yang terserempet mobilku tadi! Aku tidak mau ada hal kecil yang membuat keluarga Safwan bermasalah,” perintah Brian sangat tegas.
“Baik Pak!” jawab Sobin dari ujung telepon.
Sobin memperlambat laju mobilnya dan berputar arah menghampiri mobil Avanza yang menepi akibat terserempet mobil yang ditumpangi Brian dan Xavier tadi.
Selain menelepon Sobin, Brian menelepon ayah Xavier.
“Malam Om, maaf mengganggu waktu istirahat Om.”
“Apa yang terjadi dengan Xavier?” tanya Safwan panik.
__ADS_1
Asisten pribadi Xavier tersebut menjelaskan semua kejadian yang terjadi di ruang GYM, dia juga memberitahu Safwan bahwa dia membawa temannya tersebut ke rumah sakit yang paling dekat dengan pusat olahraga yang menjadi memiliknya. Begitu sambungan telepon terputus Brian menatap anak buahnya yang tengah terfokus mengemudikan mobil mewah pemberian Xavier.
“Masih jauh Ben?” tanya Brian gusar.
“Sekitar 7 menit lagi kita sampai, Pak!” jawab Benny tanpa memalingkan pandangannya.
“Lebih cepat lagi Ben! Aku tidak mau Vier kenapa-kenapa.” Kekhawatiran memang sedang menjalar ke hati Brian saat ini.
Walau mereka hanya teman kuliah. Namun, Brian menganggap Xavier sebagai saudara terlepas dari segala kebaikan yang dia lakukan untuk Brian.
Pertemanan yang mereka jalin sejak kuliah sampai saat ini, membuat hubungan itu semakin erat. Tidak pernah sekalipun Xavier merendahkan Brian, pria itu selalu mendukung segala keputusan temannya, tidak sama dengan Jack—pria itu memutus hubungan dengan Xavier karena Xavier menodai calon istri Jack.
Walau sebenarnya, tunangan Jack ‘lah yang selalu gatal menginginkan lebih dari kebaikan Xavier yang selalu memantu mereka memesankan gedung pernikahan.
7 menit telah berlalu kini mobil mewah tersebut memasuki kawasan rumah sakit Kasih Ibu.
“Cepat keluar!” perintah Brian pada Benny.
Pemuda itu keluar mencari staf rumah sakit yang berjaga pada malam itu. Seorang dokter dan perawat magang mendekat menghampiri Xavier yang masih bernapas terengah-engah.
Dokter muda itu memeriksa pernapasan dan juga kerja jantung. Menyadari detak jantung yang melemah membuat dokter tersebut panik, di dalam kepanikan dokter muda itu meminta suster memanggil dr. Anton—dokter senior di rumah sakit Kasih Bunda.
__ADS_1
“Ya Tuhan-Ku Jesus, kumohon berilah temanku kekuatan untuk melalui ini semua.” Brian merapatkan genggaman kedua tangannya dan berdoa atas keselamatan Xavier—sang sahabat.
Hati dan pikiran Brian tidak teralihkan dari apa pun, dia tetap memfokuskan diri untuk berdoa memohon keajaiban dar Tuhan-nya.
“Apa bisa nyambung, kalau kita berbeda meminta sesuatu yang mustahil?” ucap Benny pelan.
“Apa yang tidak bisa tercipta di dunia ini? Yang mustahil bisa terjadi kapan pun tanpa persetujuan darimu!” kata Sobin seraya memandangi layar ponselnya.
“Apa iya, Pak?” Benny mengernyitkan keningnya dan memandangi Brian, “itu artinya doa Pak Brian akan terkabul?” Kata Benny kebingungan.
“Rahasia Tuhan.” Sobin menepuk pundak Benny sambil menganggukkan kepala.
Pemuda itu masih terbengong memikirkan perkataan Sobin. Ini bukan kali pertama Xavier mimisan dan pingsan, sudah beberapa bulan ini anak Safwan keluar masuk rumah sakit melakukan pemeriksaan. Di bulan Februari, Xavier di fonis mengidap penyakit leukimia stadium akhir.
Semula Xavier marah tidak terima akan penyakit yang dia derita dan dia juga menyalahkan dokter pribadinya yang tidak jelih saat memeriksa kondisi tubuhnya pada bulan itu. Semenjak mengetahui penyakitnya Xavier sering marah-marah dan gampang tersinggung, dia tidak dapat menceritakan kondisi tubuhnya.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Brian Sabil menyuguhkan senyuman.
Dengan suara yang lirih dan pelan Xavier mengutarakan penyakitnya.
“Aku sakit leukimia stadium akhir.”
__ADS_1
“Kau sadarkan diri, agar tidak salah dengar!” seru Xavier sambil.
Seorang perawat wanita datang menghampiri Brian yang tengah duduk terbengong. Netra Bening itu menatap dan membulat selepas mendengar penjelasan Perawat yang menangani Xavier.