
Dua hari telah berlalu, tibalah waktunya Erli pulang ke rumah. Semua anggota keluarga telah mempersiapkan kejutan untuk menyambut Erli dan pangeran kecil yang menggemaskan.
"Jantungku kok deg-degan, ya?” ucapnya lirih.
Rafan mengelus punggung tangan istrinya dengan lembut dan dia menganggukkan kepala sebagai support. Erli tersenyum sebagai respons, walaupun hatinya tetap gelisah.
“Kenapa lagi?” tanya Rafan dengan alis terangkat sebelah.
“Aku gugup, Mas ...,” akunya dengan tangan yang gemetar.
Rafan menyuguhkan senyuman tipisnya dan merangkul Erli.
“Kamu gugup kenapa? Itu ‘kan rumah kita,” katanya mencoba menenangkan sang istri.
“Tapi Mas ....”
Ucapan Erli terhenti karena Rafan menempelkan jari telunjuknya di bibir tipis Erli.
"Lihat, dia tersenyum lebar! Pasti dia sangat bahagia bisa pulang ke rumahnya sendiri,” ujar Rafan sambil menyentuh pipi baby E.
Erli ikut tersenyum melihat tingkah lucu bayinya.
“Mas! Aku belum punya nama untuk baby E!” seru Erli dengan mata yang membulat.
“Enggak perlu panik! Aku sudah mempersiapkan beberapa nama. Tugasmu memilih nama yang cocok di antara nama yang aku siapkan,” tutur Rafan kalem.
Wanita yang memiliki pangkat ibu serta seorang istri tersebut menghela napas lega selepas mendengar suaminya berbicara tentang nama bayi mereka.
Selang satu jam, mobil yang mereka tumpangi telah memasuki kawasan kompleks perumahan yang telah lama Rafan tinggali bersama anggota keluarga lainnya.
Barang bawaan mereka telah dikeluarkan oleh sopir taksi dan Erli beserta Rafan juga telah sudah berdiri di samping kap mobil.
“Rumah kok terlihat sepi, Mas?” tanya Erli celingukan.
Rafan membenarkan gendongan bayinya dan menenteng sebuah tas kecil berwarna biru langit.
“Mungkin pada keluar. Ayo, masuk! Pity our baby,” ajak Rafan seraya menggandeng tangan istrinya.
Ketika hendak membuka pintu Erli meminta Rafan mundur beberapa langkah.
__ADS_1
“Lebih baik, Mas mundur dulu! Biar aku yang membuka pintu.” Mendorong pelan tubuh suaminya yang sixpack.
Rafan menganggukkan kepalanya ke atas, “Ada apa?”
Erli memainkan tangan kanannya dan berbalik menatap pintu, dengan helaan napas dia membuka pintu utama kediaman Zulaika.
“Kejutan ...!” teriak semua orang.
Inilah alasan Erli menyuruh suaminya mundur, dia tidak mau bayinya terkejut mendengar letupan party popper dan teriakan dari seluruh keluarganya.
“Welcome back my beautiful sister-in-law, selamat datang kembali kakak iparku yang cantik,” ucap Rania sambil memeluk erat Erli.
Mulut Erli mengerut dan membalas pelukan sang adik iparnya.
“Terima kasih, Sayangku!” seru Erli gemas, suara tawa Erli cukup memenuhi ruang tamu dan Zulaika—ibu mertua yang selama ini menyayanginya juga ikut menautkan tangannya di pinggul Erli seraya berbisik.
“Mana jagoan kecil ibu?”
Sontak Erli menolehkan kepalanya.
“Mas ....” Erli melambaikan tangan kanan.
Ketika Erli menikmati buah kiwi, Rania menghampirinya dan merebut buah yang hendak masuk ke dalam mulut sang kakak ipar.
Sentak Erli terkejut dan alis wanita itu menaut.
“Enggak sopan!”
Rania yang sudah terbiasa akan sikap Erli hanya nyengir dengan wajah tidak berdosanya.
“Maaf!” katanya lembut.
Bola mata Erli bergolak, “Besok-besok jangan diulangi lagi, ya!” tuntutnya.
“Siap komandan!” sahut Rania tegas.
Gadis berambut sebahu tersebut melanjutkan makan buah kiwi yang telah dipotong-potong oleh Zulaika.
“Andai Mbak tahu waktu itu ....” Ucapan Rania yang menggantung membuat Erli penasaran setengah mati.
__ADS_1
“Ada apa? Kenapa?” berondong Erli penasaran.
“Ah ... Mbak udah kepo, ya?” Jari telunjuk Rania bergerak naik turun.
“Cepat katakan, Nia!” Pinta Erli merayu.
“Tidak perlu bercerita,” ujar Erli merajuk.
Adik Rafan tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Erli yang ditekuk.
“Sebenarnya mau cerita apa enggak, sih?” tanya Erli putus asa.
Tawa Rania semakin kencang gara-gara melihat wajah kakak iparnya.
“Ib— Perkataan Erli terpotong karena ulah Rania yang membekap mulutnya.
“Mbak jangan teriak-teriak, Nanti ketahuan aku, Mas Rafan!” tuturnya terkekeh.
Telihat kedua alis Rafan naik turun seakan sedang bernegosiasi.
“Ayo, cepat katakan!” Erli mengguncang lengan Rania.
“Tapi janji jangan beritahu siapapun!”
Kening Erli mengerut melihat wajah datar Rafan dari kejauhan.
"Mbak ngeliatin apaan, sih!" protes Rania bersungut-sungut.
"Pangeran," ucapnya tanpa sadar.
mendengar kata 'Pangeran' Rania mengikuti arah pandangan Erli.
"Astagfirullah ... Mbak bucin sama, Mas?" tanya Rania lantang.
Semua anggota tertawa mendengar ucapan itu. Erli yang bingung celingukan menatap semua wajah orang yang hadir, lagi-lagi lansia itu menilaian ke arah-nya.
"Ada apa Nia?" Masih menatap satu per satu wajah kerabat dekat.
"Mbuh," kata Rania sambil menekan saklar.
__ADS_1