
POV Rafan.
Terhalang bibirmu dan bisikkan sorot matamu, ditambah sebesar rasa tak acuhmu.
Apakah ada yang menyakiti? Atau tersakiti waktu yang seperti hitam dan putih, bahkan satu senti di depan pun tidak ada yang tahu.
Beginilah aku yang kebingungan tanpa kehadiranmu. Perasaan menunggu, sesaat tanpa jeda, bahkan dalam mimpi sebuah bayangan menuntunku padamu.
Bagai terjebak dalam kegelapan, diriku selalu mengingatmu bahkan sampai aku menutup mata kau selalu menjelma.
Bak dimabuk emosi api yang padam aku kehilanganmu, perpisahan yang menyesakkan dada dan menekan hati nurani.
Momen di mana cinta buta menjadi gelap, hawa tubuh yang dingin penuh jejak, hati bagai terinjak. Tenggorokan yang menelan kegelapan tanpa akhir, serpihan ingatan yang hancur berkeping dan perasaanku yang rumit tak bisa dikosongkan.
Aku akan membawa pergi air matamu yang menyiksa batin, keegoisan yang mendesak untuk menginginkanmu tanpa alasan. Pandangan mataku dipenuhi oleh dirimu meski mata ini terkatup rapat, kau senyata bibir yang merah merekah.
Aku milikmu. Semakin aku menyangkal semakin aku terjebak dan tak bisa kusembunyikan rasa inginku.
Just kiss me don’t burn me
Tanpa henti aku terpikat dan aku ... semakin menginginkanmu. Di setiap waktu. 1 detik 2 detik, 3 hari 5 bulan. Rentan waktu di mana aku dan kamu saling kenal dan menukar rasa rindu.
Jika ini adalah mimpi yang tidak terwujud, kuberdoa dalam tidurku yang lelap semoga aku tidak terbangun begitu cepat dan bisa berlama-lama denganmu wahai ratuku.
Perasaan yang tersembunyi, tolong perintahkan bibir ini untuk mengungkap semua yang ada.
Kenapa kau mengurungku dengan dua mata indahmu, bisikkan tanpa henti tanpa sepatah kata apa pun. Sebuah cerita yang tidak bisa dikatakan, kau dan aku yang bertemu dengan perasaan canggung di momen yang aneh tapi sudah biasa.
Mari kita lewati malam yang tanpa ujung bersama, tanpa ada gangguan dan aku berharap malam ini berlalu begitu lambat agar kita bisa berpelukan lebih lama.
Let me tell, Love me don’t hurt me.
🌿 🌿🌿
Semilirnya angin malam menyapa tubuh yang terbalut kain. Setebal apa pun kain itu membalut tubuh, angin yang menjelma bagai belati masih mampu menusuk dan merobek tebal kain itu sampai ke dasar tulang.
Rasa ngilu yang ia timbulkan tidak mengalahkan sayatan yang ada di hati. Di mana sakit itu tidak memiliki obat atau penawar, harum tubuh dan warna senyum yang mengiasi bibir thin lips-nya ‘lah penawar sakit yang meringkuk di dalam hati yang paling dasar.
Rafan—tipe pria yang suka menyendiri kala dia dilanda kebimbangan. Pria bertubuh kekar itu duduk di atas batu sambil mengisap rokok yang terselip di jemari tangan kanannya.
__ADS_1
Netranya nyalang menatap air laut yang terus menggulung, suara deburan ombak seakan menjadi instrumen yang membuatnya tidak kesepian.
Harus bagaimana dia menghabiskan waktu malam yang sunyi ini. Rembulan dan bintang di atas sana seakan mengetahui kesedihnya hati pria yang tengah duduk termangu meratapi hidupnya yang tak berarah.
“Aargh ....” Rafan berdiri dan melempar sebongkah batu ke lautan.
Pria itu terlihat sangat putus asa dengan segala hal yang telah dia lalui. Langkahnya tertatih menyusuri tepi pantai, sesekali kaki panjangnya menendang pasir.
Rafan mendudukkan dirinya di hamparan pasir dan pria itu merebahkan tubuhnya. Dinginnya pasir pantai sama dengan suhu hatinya saat ini, kehangatan yang pernah dia rasakan telah pergi meninggalkannya tanpa pamit.
“Sudah gue duga, kalau lo ada di sini.”
Rafan membuka kedua kelopak matanya dan menatap Galang yang berdiri di sebelahnya.
"Ngapain lo ke sini?” Rafan kembali mengatupkan matanya, kedua tangan kekarnya dia gunakan sebagai bantalan kepalanya.
“Ngelihat orang bodoh yang termenung sendirian.” Melirik Rafan sebentar, “gue takut orang bodoh itu akan melemparkan dirinya ke lautan!” sambung Galan sedikit menyindir.
“Apaan sih!” decak Rafan memalingkan pandangan ke sisi lain.
Pria tinggi besar itu menghela napas lalu duduk tidak begitu jauh dari Rafan—sang adik.
“Diem Mas! Gue perlu ketenangan. Ngapain sih, lo nyamperin gue?” Kembali membuka mata dan menatap Galang dengan tatapan serius.
“Lo adik gue, Fan. Mana ada seorang kakak tidak khawatir dengan keadaan adiknya yang tidak pulang selama 2 hari. Apa yang mengusik hati dan pikiran lo?” tanya Galang yang kini ikut merebahkan tubuhnya di atas pasir pantai.
“Ibu sudah tahu semuanya Mas. Dan gue—Rafan menggantungkan ucapannya.
Meski pria itu tidak meneruskan perkataannya, Galang sudah mengetahui semuanya berkat Rania. Pada malam itu di mana Rafan meninggalkan rumah, Gadis itu langsung menelepon Galang dengan suara yang sesenggukan.
Dia menanyakan kebenaran yang baru saja dia dengar, sontak Galang terperanjat. Namun, dia berusaha tenang di hadapan adiknya yang tengah menangis, Galang yang tengah di negeri seberang tidak tahan melihat adik bungsunya meneteskan ratusan butiran air matanya.
Pada detik itu juga Galang memesan tiket ke Indonesia dan meninggalkan event melukis internasional yang diadakan beberapa tahun sekali. Demi adik-adiknya pria bertubuh tinggi besar itu melepas kesempatan baik ini, dia tidak menghiraukan apa pun walau temannya memakinya.
🌿🌿🌿
"Lo bukan remaja lagi. Jadi pikirkan baik-baik semua keputusan yang akan lo ambil!” saran Galang kalem.
Setelah terdiam beberapa detik Rafan membuka mulutnya.
__ADS_1
“Sepertinya gue harus meninggalkan Erli, Mas.” Rafan bangkit dan duduk dengan kepala memandangi pasir.
Galang terperanjat mendengar ucapan adik laki-lakinya.
“Lo sudah gila!” sungut Galang dengan mata yang melotot.
“Inilah keputusan yang terbaik untuk kami.”
“Kami?” Alis Galang menaut mengulang ucapan Rafan.
Adiknya itu mengangguk, “Gue, ibu dan Erli.”
Galang mengangguk berulang kali sambil membuang pandangan.
“Cepat ceraikan Erli!” Sontak Rafan terkejut mendengar kalimat itu.
“Kenapa lo menatap gue seperti itu? Bukankah itu keputusan lo?” Galang mengangkat sebelah alisnya.
“Semakin cepat lo menceraikannya ... semakin cepat pula gue mendapatkan bekas istri Lo itu!” ucap Galang menyeringai.
Wajah datar Rafan seketika berubah, rahang pria itu mengetat dan tangannya mengepal seakan bersiap memukul wajah kakaknya.
“Kenapa? Lo mau mukul wajah gue? Pukul gue sesuka hati lo!” titah Galang tanpa ragu-ragu.
“Apa lo sadar dengan perkataan lo, Mas?” tanya Rafan setelah menetralisir amarahnya.
“Tentu, emang lo pikir gue mabuk!” Memelototi Rafan dengan suara matanya.
Tanpa babibu lagi, Rafan melayangkan pukulan di wajah Galang.
“Dia itu istri gue!” akunya sambil terus memukul Galang, “berengsek lo, Mas. dia manusia bukan barang yang bisa lo lempar ke mana yang lo mau!” tegasnya geram.
Selepas mendengar pengakuan adiknya, Galang mendorong sang adik sampai tubuhnya terpental jauh.
"Kalau lo masih cinta jangan biarkan dia pergi dari lo!" Mengusap alur bibirnya yang berdarah.
“Apa lo mau dia kembali ke pelukan Xavier?” ujarnya, “apa itu memang rencana lo? Membiarkan mereka bersatu setelah kegagalan lo sebagai seorang suami,” cibir Galang memprovokasi Rafan.
“stop it! Hentikan ocehanmu, Mas!” perintah Rafan dengan rahang yang mengetat.
__ADS_1
Rafan mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, tangan kirinya terus menekan klakson mobil—memerintahkan mobil di depannya agar menepi.