
Erli masih mematung mendengar tawaran Zulaika. Pada malam aqiqah Alkhaiz Erli dihina, diusir oleh mertuanya itu dan hari ini dia dikejutkan dengan kedatangan Zulaika dan Handoko—ibu dan juga paman suaminya.
Di mana dua orang tersebut memiliki niatnya masing-masing, ibu dari suaminya itu meminta dia untuk kembali ke rumah megahnya. Sedangkan Handoko datang untuk meminta maaf atas segala perbuatan buruknya beberapa hari yang lalu, ibu muda tersebut sangat bimbang dan juga khawatir.
Bagaimana jika paman suaminya itu memiliki niat buruk lagi terhadapnya dan dia juga mengkhawatirkan masa depan Alkhaiz, Erli tidak mau kelak anaknya sudah beranjak besar akan mendengar kelahirannya di dunia ini adalah sebuah kesalahan.
Aku tidak akan menerima hal itu. Belum terjadi saja aku sudah merinding apa lagi sampai itu terjadi beneran, bagaimana aku saat itu? ucapnya dalam hati.
"Er!" panggil Zulaika lembut.
Erli terkesiap menatap wajah mertuanya.
"Ada apa, Bu?" tanya Erli linglung.
"Astagfirullah Nak ...," keluh Zulaika dengan kepala menggeleng kecil, "kamu lagi mikirin apa? Apa kamu sedang memikirkan hal buruk tentang ibu?" imbuhnya menebak isi pikiran Erli.
Tebakan mertuanya memang benar, dia benar-benar memikirkan masa depan Alkhaiz yang tidak terjamin akan. Bukan hal harta atau hal semacamnya, Erli takut masa lalunya akan diketahui anaknya; bahwa dia bukan anak Rafan melainkan anak orang lain dan ayahnya tidak mengakuinya.
"Tidak, aku tidak mengizinkan hal itu terjadi pada Al." Dia pikir sedang berkata-kata dalam hati, nyatanya suara hati itu keluar begitu lantang sampai Rasmi yang ada di kamar mendengar jelas ucapan keponakannya.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu hal yang di luar kendali Rasmi keluar menghampiri dua wanita yang sedari tadi tengah berdiskusi, bukan diskusi melainkan rayuan. Iya, Zulaika tengah merayu menantunya agar ikut pulang bersamanya.
Terkejut? Tentu saja wanita paru baya itu terkejut dan keterkejutan Zulaika mengalahkan orang yang mendapatkan lotre. Matanya melebar kening itu mengerut dan terlihat jelas wajahnya yang memerah, bukan marah melainkan dia malu dengan Erli—sang menantu.
Kesalahannya pada malam itu berbuntut panjang hingga dia membuat Erli merasakan depresi, kalimat anak garam membuat luka di hati Erli. Namun, dia selalu mencoba melupakan kejadian itu, tapi otaknya selalu mengingat jelas raut ketidak sukaan Zulaika.
Ditambah lagi, Zulaika mengusirnya tanpa mendengar penjelasan yang hendak dia katakan.
"Sebaiknya Ibu pulang!" Suaranya tegas tidak main-main dalam berucap.
"Kamu ... menolak ibu?" balasnya dengan suara kalem.
"Erli tidak bisa memberikan jawaban saat ini. Erli mohon Ibu tidak salah paham akan ucapan Erli!" katanya seraya menggenggam jemari Zulaika.
Bibir wanita paru baya tersebut mengulas senyum, tapi tercetak jelas kekecewaan di wajahnya. Tangan kanan Zulaika meraih tas jinjing-nya dan beranjak tanpa menemui Rasmi lagi.
"Assalamualaikum," salamnya terdengar lirih.
Zulaika menarik sudut jilbabnya yang dia rasa miring, perasaan wanita paru baya tersebut makin tidak karuan hingga dia terus merambang kemungkinan-kemungkinan yang belum benar kenyataannya.
Setengah jam berlalu Rafan masuk rumah dengan napas yang tersengal-sengal. Alis Erli tertaut mendapati peluh suaminya bercucuran.
"Kamu habis maraton, Mas?" Pertanyaan yang terlontar dari bibir Erli terdengar mengejek di telinga Rafan sehingga pria itu menegakkan tubuhnya dan masuk ke dalam tanpa mengucapkan salam seperti biasa.
"Mas!" panggil Erli sembari mendekati sang suami yang memasang wajah sangar.
"Kamu kenapa, Mas? Ada yang mengganggu pikiranmu? Lalu, ke mana mobilmu?" berondong Erli tanpa jeda.
Alih-alih menjawab Rafan meninggalkan Erli di ruang tamu dengan kepala yang berputar mengikuti gerak langkah Rafan menuju ke belakang.
"Lah, aku ditinggal sendirian." Masih menatap penuh penasaran suaminya.
"Apa jangan-jangan dia tahu, kalau aku menolak ajakan ibunya. Tapi, ibu bukan tipikal orang yang gampang mengadu," pikirnya sambil menyanggah dagu dengan tangan kiri.
Sedetik kemudian Erli mengedikkan dagunya lalu kembali ke kamar menemani Alkhaiz tidur. Selang beberapa menit, Rafan masuk kamar tanpa mengetuk pintu.
Erli tidak terkejut, tapi dia menolehkan kepala memastikan suaminya dalam keadaan baik.
"Kenapa?" Rafan mengangkat kedua alisnya.
"Kamu yang kenapa?" Erli duduk bersila menatap intens suaminya yang tengah mengeringkan rambut.
"Malah balik bertanya." Rafan menggantung handuk di gantungan baju, "tadi ibu ke sini?" lanjutnya dengan wajah datar.
Erli mengangguk dan mencicit, "Heem."
"Ada kepentingan apa ibu ke sini?" Melirik sekilas istrinya lalu, kembali menatap wajah mungil Alkhaiz.
"Tidak ada!" jawabnya cepat.
__ADS_1
Rafan menolehkan kepala, sorot matanya menajam seakan menusuk manik hitam sang istri.
Erli mendorong pelan lengan Rafan, "Apaan sih, Mas!" protesnya dengan mulut yang manyun.
"Cepat katakan! Kenapa ibu ke sini dan apa yang ibu mau?" desak Rafan yang saat ini duduk sejajar dengan Erli.
"E ... tidak ada apa-apa. Beliau cuma mau lihat aku saja," kilah Erli seraya memalingkan wajahnya.
"Well, if you don't want to answer my question properly. Baiklah, jika kamu tidak mau menjawab pertanyaanku dengan benar." Rafan beranjak dari tempat duduknya menuju lemari.
"Kamu mau ngapain Mas?" tanya Erli seraya menghampiri suaminya.
"Pulang ke apartemen," sahutnya dengan nada suara yang kesal.
Erli bergerak gelisah melihat suaminya merajuk, biasanya dia yang merajuk, tapi kali ini terbalik.
Rafan tidak sungguh-sungguh ingin minggat dari sini, dia hanya ingin mendengar cerita tentang kunjungan ibunya. Pikirannya tidak akan tenang sebelum mengetahui maksud kedatangan sang ibu.
"Ibu ingin aku kembali ke rumahnya!" Seru Erli dengan lantang, sampai-sampai Alkhaiz terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
Suara tangisan pria kecil itu membuat Rasmi berlari tergopoh-gopoh.
"Alkhaiz kunaon, neng? Alkhaiz kenapa, neng?" tanya Rasmi dari depan pintu sembari mengetuk pelan.
"Teu kunanaon, Bik. Ngan reuwaseun," balasnya dari dalam kamar.
Alis Rasmi hampir menyatu akibat keningnya mengerut.
"Tidak ada apa-apa, tapi kok nangisnya kaya gitu?" kata Rasmi keheranan.
Wanita yang berusia 43 tahun tersebut berlalu pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun kamar keponakannya.
Perhatian Rafan kembali kepada sang istri yang masih menyusui Alkhaiz.
"Lantas, apa keputusanmu?" tuturnya penasaran.
"Besok kemasi barang-barang kalian! Kita akan pindah ke apartemenku," titah Rafan tegas.
Kening Erli mengernyit, "Kenapa kita ke apartemen?" Raut wajah ibu Alkhaiz tersebut menggambarkan tidak setuju dengan rencana Rafan.
"Memangnya kamu mau pulang ke rumah ibu lagi? Tidak 'kan!"
"Sok tahu!" ketus Erli sembari melebarkan matanya, "aku masih mau menenangkan diri dulu sebelum tinggal lagi di rumah ibu." Penuturan Erli membuat hati Rafan bersiul gembira.
Namun, dia menyembunyikan perasaannya sebaik mungkin agar Erli tidak memiliki pikiran aneh-aneh tentangnya.
"Lalu?"
"Beri aku waktu dia hari atau sehari saja untuk menghilangkan prasangka buruk," katanya dengan kepala yang tertunduk.
Rafan menakupkan kedua tangannya di sebagian wajah Erli.
"Kamu yakin mau pulang ke rumah orang tuaku?" tanya Rafan memastikan.
Kepala itu mengangguk memberi jawaban atas pertanyaan sang suami.
"Sungguh!"
"Iya Mas. Tapi, aku mau kamu beri aku waktu sebentar saja!" pintanya lembut sembari membaringkan tubuh kecil Alkhaiz.
...****************...
Dua hari berlalu, kini tibalah saatnya Erli dan Rafan pulang di kediaman Zulaika. Rumah besar bercat putih itu masih sama, suara tawa terdengar jelas dari teras.
"Apa ada acara di dalam sana?" tanya Erli dengan kepala yang mendongak menatap wajah sendu sang suami.
"Mungkin," sahutnya enteng.
Erli menepuk jidatnya sendiri dan menghela napas panjang.
__ADS_1
"Kenapa?" Rafan menarik dagu Erli sampai wajah ayu itu terlihat jelas.
"Kamu itu loh, ditanyain kayak gitu!" cetusnya dengan bibir yang mengerucut.
"Ayo, kita masuk! Kita lihat sama-sama mereka sedang apa," ajak Rafan menyambar bibir Erli bringas.
Sontak Erli memukul dada bidang pria itu dan matanya mendelik memberi peringatan agar sang suami tidak berprilaku demikian lagi.
"Kau wanitaku! Sah-sah saja jika aku melakukan hal mesum itu," ucap Rafan menggoda Erli yang sedang dilanda kegugupan.
"Tapi tidak—" Lagi-lagi Rafan mengecup bibirnya berulang kali.
Erli yang jengkel akan tingkah Rafan berjalan cepat dan membuka pintu.
"Assalamualaikum." Suara kencang Erli menggema di ruang utama.
Semua orang menghentikan aktivitasnya, sebagian orang yang berada di ruang tengah beranjak mengintip.
"Alhamdulillah ... menantu ibu pulang juga." Bibir wanita paru baya itu terus-terusan mengulas senyum seakan memberitahu bahwa dia sangat suka akan ke datangan diare.
Rania berlari kencang sampai tangannya menyenggol vas bunga antik yang didapat dari Negeri ginseng. Gadis berusia dua puluhan tersebut berteriak memanggil sang ibu.
"Ibu ... Nia minta maaf!" jerit Rania yang masih berlari kecil menghampiri kakak iparnya.
Gadis muda itu menghamburkan pelukannya.
"Nia kangen banget sama Mbak," katanya sambil mencium pipi sang keponakan, "uluh-uluh imutnya pria kecil ini," imbuhnya seraya mengintip sang kakak yang berdiri di belakang Erli.
Kedatangan Erli disambut bahagia semua anggota keluarga besar Zulaika. Om, Tante dan keponakan Rafan tersenyum bahagia saat acara makan bersama.
Obrolan ringan mereka sangat menginspirasi Erli. Di tengah keramaian keluarga Rafan bercerita, Erli memiliki keinginan mempunyai keluarga yang harmonis seperti ini.
"Kamu kenapa?" bisik Rafan.
"Kagum aja dengan kedekatan mereka semua. Tidak terlihat ada perselisihan dan selalu ada cerita keseruan di setiap pertemuan," jelasnya seraya mengulas senyum.
"Lalu?" Menatap lekat-lekat wajah istrinya.
"Auk ah, gelap!" ketus Erli dengan mata yang melebar.
Bukan amarah yang tercetak di wajah Rafan, melainkan ekspresi geli yang sedari tadi dia sembunyikan.
-
-
-
-
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan setiap kesedihan akan mendapatkan kebahagiaan. Semua kejadian memiliki hikmah, Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melampaui batas kemampuan hamba-Nya.
Thank you guys, sudah menemani kisah Erli dan Rafan sejak awal hingga titik ini.
Semoga kisah fiktif ini bisa menjadi gambaran hidup buat kalian semua, saya sudah semaksimal mungkin mengolah sedemikian rupa agar cerita saya tidak monoton dan tampak epik saat dibaca. Tanpa ada dukungan kalian mungkin saya akan menyerah melanjutkan kisah ini dan saya ucapkan beribu maaf jika ada salah kata yang menyinggung hati 🙏🏻 lope-lope sejagat kerat all 🥰
-
-
-
Notice! Ria telah menetaskan cerita baru di penghujung tahun lalu tepatnya di bulan Desember tahun 2022.
Yuk, kunjungi cerita baru Ria yang berjudul Jiwa Pedang Legenda yang menceritakan kisah seorang putri yang mengemban amanah dari mendiang ayahnya.
Namun, sialnya dia terjebak di zaman yang berbeda dan kehidupan masa depan yang serba canggih membuatnya semakin bingung harus berbuat apa dan bagaimana.
__ADS_1