Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Godaan


__ADS_3

Erli duduk tegak dan menolehkan kepalanya pada sang suami. Matanya melebar alisnya tertaut dan dia mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.


"Aku remas terus aku banting dan ...." Erli menggantungkan ucapannya dengan rahang yang mengetat.


Dengan kasar Rafan membanting setir untuk menepi hingga mobilnya berguncang. Rafan membuka set belt mendekatkan wajahnya dengan sang istri, tampak dada Erli naik turun—dia sangat tahu kalau istrinya itu sedang dilanda kegugupan.


Perlahan Rafan mendekatkan kepalanya sampai kening mereka berdua tertempel, tapi masih ada jarak diantara bibir pointy natural dan thin lips itu. Kedipan kelopak mata Erli bisa dihitung. Nervous, tentu saja Erli nervous—situasi yang canggung ini membuat detak jantungnya berdegup cepat dan desiran darahnya bergemuruh bak padang pasir diterpa angin ****** beliung.


Perlahan kelopak mata yang cantik itu tertutup rapat dan bibir seksi tersebut sedikit terbuka, hal ini membuat Rafan kegirangan dalam hatinya. Namun, dia tidak ingin melakukan hal tidak senonoh di pinggir jalan, untuk menyamarkan hasrat liarnya Rafan menyentil kening Erli dan dia kembali mendudukkan dirinya di kursi kemudi.


"Untuk apa kau memejamkan matamu? Jangan kau pikir aku akan bertindak seperti film yang sering kau tonton!" cibir Rafan menahan tawa.


Erli hanya diam walau dia kesal, tapi memang benar ibu Alkhaiz tersebut memang membayangkan adegan drama Korea yang sering dia tonton. Di mana pemeran pria selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Erli menggigit kuku jarinya seraya memalingkan pandangan keluar jendela.


Kalau itu Hyun Bin pasti sudah disosor bibir seksi ini, gerundel Erli di hatinya.


Sesekali wanita itu melirik suami tercintanya yang tengah sibuk mengemudi.


"Apa perlu kita mampir ke mall?" Rafan menatap Erli sekilas dan netranya kembali menatap ke depan.


"Untuk apa Mas?" Mata Erli berkedip beberapa kali saat bertanya.


"Beli oleh-oleh buat paman, 'kan mereka mau pulang nanti sore!" Pria itu masih terfokus mengendarai mobil, sesekali dia melihat wajah sang istri dari ekor matanya.


walau tidak begitu jelas melihat, tapi dia sudah cukup lega bisa duduk berdampingan di mobil ini. Mobil mewah yang dihadiahkan Erli waktu ulang tahunnya.


"Boleh silakan aja, tapi aku mau tidur sebentar ya? Mataku terasa sepet," ungkapnya lirih sambil membenarkan posisi tubuhnya yang dia rasa kurang pas.

__ADS_1


Baru saja berpamitan terlihat kelopak mata indah itu sudah terkatup rapat, Rafan yang menyadari istrinya telah menjelajahi alam mimpi hanya bisa pasrah tidak berbuat apa-apa.


"Pasti lelah menjadi dia yang harus membagi waktu tidurnya disela mengurus Al," ucap Rafan lirih tangan pria itu mengelus lembut pipi mulus milik Erli.


Sentuhan manja Rafan seakan menghipnotis Erli yang tengah tertidur, tapi entah kenapa bibir thin lips-nya itu mengembang menciptakan senyuman tipis yang indah membuat Rafan gemas ingin melakukan sesuatu yang nakal.


"Astagfirullah ... kenapa bibir ranum itu menggoda jiwa," katanya sambil menggerakkan kepala Erli sampai menghadap ke jendela mobil.


"Ini posisi yang bagus untuk menghindari adegan panas," tutur Rafan yang semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah keramaian jalan raya menuju Mallorca—pusat perbelanjaan yang cukup terkenal.


Dasar manusia kaku ..., cicit Erli dalam hati, rupanya istri Rafan ini tidak benar-benar tidur dia hanya berpura-pura demi bisa menggoda suaminya dalam diam.


Dia itu pe'ak atau apa sih? Sudah digoda sedemikian rupa masih saja menguatkan benteng yang dia ciptakan sejak 7 bulan lalu. Apa aku kurang menggoda, kurang seksi atau kurang bohay. Kalau iya, kenapa Si bajingan itu tergoda walau hanya mendengar suara lirih ini. Tiada hentinya dia menggerutuki dirinya sendiri.


Bayangan bisa membalas perbuatan suaminya yang bikin dia malu malah dia emosi sendiri dengan sikap Rafan yang kaku tak acuh dengan kemolekan bibir merah mudanya.


Sialan, ini namanya aku mempermalukan diriku sendiri. Beruntung dia tidak tahu kalau aku hanya berpura-pura tidur.


...****************...


"Kau harus bersyukur." Perkataan Brian menciptakan kerutan di kening Erli—mantan kekasih sahabat sekaligus bosnya.


"Apa maksud ucapanmu, Brian?" Memalingkan pandangan melihat suaminya yang bersembunyi di balik meja bar tender.


"Dia dan juga Xavier sangat amat mencintaimu. Mereka rela melakukan apa pun demi bisa melindungi mu," bebernya seraya menyodorkan sebuah iPad dan earphone.


"Cepat kenakan dan dengarkan baik-baik suara mereka!" perintah Brian menggali rasa penasarannya semakin dalam.


Ragu? tentu saja dia ragu. Erli ragu dengan apa yang akan dia tonton, terlebih dia sudah melihat sebuah video yang memperlihatkan Xavier mengakui segala hal yang selama ini memaksanya untuk menjauhi dia dan memutuskan membuatnya benci akan sosok Xavier.

__ADS_1


Video pun terputar, terlihat sebuah ruangan restoran dengan dekorasi ala Chinese. Di sudut ruangan pribadi seorang wanita yang Erli kenal baik dan paham betul dari maksud orang yang merekam aktivitas Marlita, tidak lama setelah wanita itu masuk.


Rafan juga ikut masuk, awalnya tidak ada hal yang aneh dan selang beberapa detik seorang waitress datang membawa buku menu makanan. Pramusaji wanita itu menawarkan makanan best seller di sana, tanpa basa-basi Rafan menunjuk satu menu dan minuman yang dia suka.


Kebetulan sekali Rafan duduk menghadap kamera pengawas di restoran tersebut, tanpa sadar mereka berdua waitress menempelkan sebuah Kamera Mini HD di korden yang terletak di sebelah mereka duduk. Kini wajah mereka terlihat jelas setelah pengalihan gambar dari kamera yang dipasang waitress tersebut.


"Untuk apa kita bertemu di sini? Bukannya di restoran kita bisa mengobrol dengan leluasa," tanya Rafan dengan sebelah alisnya terangkat.


Marlita menyunggingkan senyuman lebarnya seraya menyentuh tangan Rafan yang terletak di atas meja. Reflek pria itu menarik tangannya yang hendak di genggam teman sekaligus anak bosnya, mendapat penolakan halus Rafan—wanita itu kembali mengulas senyum demi menutupi kekecewaannya.


"Bisa lo jelaskan tujuan lo mengajak gue bertemu di sini?" tanya Rafan memastikan kembali.


"Aku mengobrol denganmu tanpa gangguan, Fan. Dan gue juga mau—" Ucapan Marlita terhenti ketika melihat waitress itu kembali dengan sebuah nampan berisikan makanan pesanan mereka.


"Permisi Tuan, Nyonya!" kata waitress tersebut seraya menyajikan makanan dan minuman yang dia bawa, sebelum meninggalkan ruangan itu dia memastikan kamera yang dia tinggalkan tadi.


"Hmm ...." Rafan berdeham memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Aku tidak punya banyak waktu," tukas Rafan sembari menyesap minuman yang dia pesan.


"Aku suka sama kamu, Fan. Aku suka kamu sejak pertama kali kita ketemu," jawab Marlita menjelaskan.


Rafan berhenti menyesap minumannya sejenak dan kembali menelannya.


"Gue sudah punya istri, kagak pantas lo menyatakan hal ini sama gue. Lebih baik lo cari pria single yang bisa mencintai lo!" kata Rafan tegas.


Marlita menatap Rafan dengan sorot mata yang menajam dan wanita itu berpindah duduk ke sebelah Rafan. Tanpa sungkan ataupun malu dia bergelayut di lengan Rafan dan merayu pria itu dengan suara yang manja nan mendayu-dayu.


"Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Fan. Kenapa kamu tidak bisa membalas rasa ini? Aku kurang cantik? Apa bedanya aku dengan istrimu itu?" cecar Marlita yang masih bergelayut di sana.

__ADS_1


Jelaga hitam itu membulat sempurna dan dengan kasarnya Rafan melepas pelukan tangan temannya—Marlita.


"Kenapa kamu kasar denganku? Apa salahku padamu, Fan?" brondongnya dengan mata yang berkaca-kaca.


__ADS_2