
Erli berlari kecil menuju toilet yang lumayan jauh dari toko tempatnya berbelanja tadi, ketika memasuki toilet dia berpapasan beberapa wanita yang telah selesai dengan segala urusan mereka di sana. Ada beberapa gadis muda yang tengah berbenah make up ada juga cuma menatap kaca toilet yang terpampang besar di depan wastafel.
Melihat pintu terbuka, Erli bergerak cepat masuk. Saat hendak berberes gendang telinganya mendengat sesorang yang tengah menelepon tepat di sebelah bilik kamar mandinya.
"Gue ada di mall sekarang. Boleh kagak gue mampir sebentar ke restoran lo, Fan?" tanya wanita itu lembut.
Sontak mata Erli membulat mendengar nama orang yang wanita itu sebutkan.
Fan? Jangan bilang itu Rafan-ku. Eh, di dunia ini kan naka Rafan banyak. Haduh ... fasar aku! keluhnya meruntuki dirinya sendiri.
Bukannya bergegas keluar Erli malah kembali menguping percakapan wanita di sebelahnya. Bukan berniat menjadi manusia yang ikut campur, dia hanya ingin menghilangkan rasa penasarannya dan dia juga mau menepis prasangka buruk terhadap Rafan.
"Yang bener, Fan. Kebetulan dong ya, bisa dong gue ketemu sama istri lo itu? Penasaran gue sama paras cantik istri lo, tapi lebih cantik gue 'kan, Fan?" cecar wanita itu mengorek informasi tentang istri temannya tersebut.
Lagi-lagi Erli bermonolog sendiri seakan menanggapi percakapan orang di sebelahnya.
__ADS_1
Basa-basi, bilang aja kalau nafsu sama lawan bicaramu itu.
Bola mata Erli bergolak malas seakan tahu ujung dari percakapan wanita itu, hendak beranjak dari posisinya dan mau meraih tas yang dia taro di gantungan. Tiba-tiba kelopak matanya berhenti berkedip dan tubuhnya membeku, sedangkan mulutnya masih melongo tidak percaya akan nama lelaki yang wanita itu sebutkan dengan nada suara yang manja nan mendayu-dayu.
"Iya, Rafan Winasis yang ganteng sedunia ...."
Hening suara itu hilang telinga Erli tidak lagi mendengar suara wanita yang di sebelah bilik kamar mandinya dan Erli juga tidak mendengar suara pintu terbuka.
Telingaku masih berfungsi bukan? Tapi ... kenapa aku tidak mendengar suara betina itu? Kalau sampai dugaanku benar, Rafan Winasis yang dia maksud adalah suamiku. Tunggu dan rasakan itu! tukas Erli menyeringai.
Kilatan mata yang tampak menajam itu mempeehatikan wajah setiap wanita yang berada di sana. Berharap bisa mengenali wanita yang membuat emosinya memuncak.
Selepas keluar dari toilet Erli mempercepat melangkahkan kakinya menghampiri Rafan yang berkata menunggunya di pojok toko peralatan bayi. Erli menyapukan pandangannya ke segala, tapi dia tidak menemukan batang hidung Rafan.
Pengkhianat, bajingan. Sungguh salah aku menilai mu, Rafan Winasis! tukas Erli yang terus-terusan mendengus.
__ADS_1
Tangan kanan Erli cukup lihai menari di layar ponselnya, dia mencoba menghubungi nomor ponsel Rafan.
Nomor yang anda tuju ....
"Sungguh bedah kamu, Mas!" Erli berjalan dengan menghentakkan kakinya.
Wanita yang berstatus istri Rafan itu masih berjalan menyusuri mall, seketika langkahnya terhenti saat melihat Rafan tengah berbincang mesra dengan seorang wanita seksi nan cantik. Tubuhnya yang tinggi ramping dan dia memiliki bongkahan semangga yang besar yang menyembul keluar.
"Astagfirullah, dia cantik dan sempurna. Siapa yang tidak akan tergoda dengan kemolekan tubuh itu." Langkah kaki Erli yang cepat kini melambat dan kepalan tangan Erli mengendur.
Namun, amarahnya masih tersisa. Dia tidak dapat mentolerir sikap Rafan yang tidak menghargainya sebagai istri, walau dia sangat sadar kalau pernikahan ini hanya pernikahan kontrak.
Aku hanya membela harga diriku yang diinjak-injak olehnya, wajar dong kalau aku emosi?
Iya, kalian benar. Erli tengah bermonolog sendiri. Matanya tertutup cukup lama sebelum menghampiri Rafan yang sedang asyik bersama seorang wanita seksi.
__ADS_1
"Hai, bajingan!" Sarkas Erli dengan suara tegasnya.
Sontak Rafan berbalik menatap Erli—istri pujaan hatinya selama ini.