Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Kelicikan Dibalas Kelicikan


__ADS_3

Disituasi terdesak terbersit ide di kepala Erli. Ibu muda itu menetralkan emosinya dan mengembuskan napas panjang secara perlahan.


“Kau mau aku mengikuti keinginanmu, bukan?” tanya Erli mendorong tubuh Handoko dan dia berjalan pelan.


“Iya, itulah yang aku mau sejak dulu.” Kedua alis Handoko terangkat tinggi.


Erli tersenyum dan Handoko memberikan kebebasan untuk Erli bergerak. Perlahan Erli meletakan bayinya di box tempat tidur yang tidak begitu jauh dari ranjangnya.


“Kemari 'lah Sayang!” panggil Handoko lirih, “aku sudah tidak tahan ingin menghirup aroma tubuhmu yang menggoda,” kata Handoko dambil menepuk paha kirinya mengisyaratkan untuk Erli duduk di pangkuannya.


“Aku harus membersihkan diriku dulu,” ujar Erli mengulur waktu.


“Kau tidak perlu melakukan itu, my little girl.” Lagi-lagi Handoko menampilkan senyuman mesumnya yang membuat Erli semakin jijik melihatnya.


“Aku terlalu kotor, Om.”


Disela percakapannya Erli menelepon Rafan yang tengah keluar mengambil baju yang dipesan oleh Erli sebulan lalu. Namun, teleponnya itu tidak dapat respons dari sang suami.


“Cepatlah ke sini, my little girl!” panggil Handoko dengan suara yang mendayu-dayu.


Erli tersenyum kecut mendengar pria itu memanggilnya dengan manja.


Astagfirullah terbuat dari apa otak ciptaanmu yang satu ini, Ya Allah? Sungguh menjijikkan! ujar Erli dalam hati kecilnya.

__ADS_1


“Bagaimana ... kalau kita melakukan ini nanti malam saja?” usul Erli dengan mengangkat sebelah alisnya.


“Hasratku sudah menggebu-gebu saat ini,” kata Handoko menyeringai.


Erli duduk di meja rias sambil membuka satu kancing bajunya, Handoko menelan salivanya ketika melihat dada Erli sedikit terekspos. Mata pria itu tidak mengerjap beberapa detik, darahnya terasa mendidih dan detak jantung pria mesum itu berdetak cepat.


“Kita lakukan sekarang saja Erli, aku sudah tidak bisa menahannya lagi.” Handoko beranjak ingin memeluk Erli yang masih duduk di pinggir meja rias.


Melihat pergerakan Handoko, Erli bergerak cepat menghindari dekapan dari adik ibu mertuanya tersebut.


Dengan kesal Handoko memprotes perilaku Erli.


“Kenapa terus menghindariku? Bukannya kamu setuju dengan tawaranku barusan?”


“Aku tidak peduli! Yang aku mau sekarang hanya dirimu,” bantahnya dengan dengusan.


“Aku menginginkan permainan yang mulus dan memacu adrenalin,” ucap Erli seraya mengedipkan sebelah matanya.


Handoko tertawa kecil mendengar ucapan mantu keponakannya itu.


“Maksudmu ... kau ingin menjadi naughty wife?” Menarik sudut bibirnya.


“Hmm,” gumam Erli dibarengi anggukan kepalanya, "aku mau merasakan tantangan dalam hidupku ini."

__ADS_1


"Oke, aku kabulkan keinginanmu. Aku akan lebih bersabar lagi dengan bocilku,” kata ambigu Handoko membuat Erli mengernyitkan keningnya.


Apa yang dia maksud? Jangan bilang ..., kata Erli dalam hatinya.


“Hei, kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?” tunjuk Handoko dengan dagunya.


“Sedikit bingung saja dengan ucapan Om barusan,” jawab Erli kalem.


“Apa kau mau menyentuh bocilku? Lihat dia, sudah tidak sabar,” pungkas Handoko seraya menggerakkan naik turun kedua alisnya.


Semakin Erli bersandiwara semakin menjadi-jadi tingkah Handoko menggoda istri keponakannya itu.


"Bajingan ini sungguh mengikis kesabaranku!" gumamnya lirih.


Alis Handoko bertaut ketika dia melihat gerakan mulut Erli.


"Apa?" Mencondongkan tubuhnya ke depan.


Erli menelan kasar salivanya, apa dia mendengar ucapanku barusan?


Rasa takut dan khawatir menjalar cepat ke hati wanita ini dan dengan ragunya dia melontarkan pertanyaan kepada Handoko—pria yang tidak tahu malu.


"A-apanya yang apa, Om?" Bergerak dengan gelisah.

__ADS_1


Terima kasih banyak atas dukungan kalian, tanpa kalian aku tidak akan memiliki semangat untuk melanjutkan cerita ini. Lopeyou tingkat kabupaten kota gaes 🥰


__ADS_2