Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Pertarungan Sengit


__ADS_3

"Sayang maafkan aku datang terlambat!" ucap Tuan D tulus dan mengeluarkan cahaya kekuatan dari tangannya. Kemudian rantai yang melilit di tangan dan kaki Liana menjadi terlepas.


"Iya Aku tahu Tuan, Tuan pasti terjebak macet, terimakasih sudah datang," ucap Liana


Tuan D tersenyum membelai rambut Liana.


Boscha tak mau kalah ia mengeluarkan kekuatannya menyerang Tuan D. Pria itu menghindar dengan gesit kemudian menghilang lalu muncul kembali ia berpindah ke tempat jauh dari Liana dan temannya


"Kalian keluarlah!" titah Tuan D pada Liana dan lainnya.


Liana mendekati Tri dan membantunya berdiri. Steve datang mencopot kemejanya dan membalutnya di kepala Tri untuk menghentikan pendarahan sementara. Kemudian langsung menggendong Tri lalu mereka segera keluar. Aksi yang dilakukan Steve membuat Tri salah tingkah.


"Ingin keluar dari sini? Oh, tidak semudah itu Pulgoso," Bos Drakula itu memanggil pengabdiannya untuk menghadang Liana dan kawannya agar tak bisa keluar.


Pengabdi tuan Boscha datang, Steve mencoba terus menyerang dengan tangan yang masih menggendong Tri. Bodyguard satu-satunya yang masih hidup meskipun terluka tetapi dia masih terlihat kuat. Bahkan menggendong Tri saja dia masih mampu.


Mereka masih terjebak dalam kamar karena di hadang oleh pengabdi Tuan Boscha.


"Ingin rasanya aku menghabisi mu sekarang seperti aku menghabisi Ayah yang tak berguna itu. Tapi aku ingin membuatmu menderita terlebih dahulu.


Tuan D dan Boscha saling beradu kekuatan mereka satu sama lain hingga membuat seisi ruangan kamar itu hancur. Tuan D juga menyerang para pengabdi yang menahan Liana dan kawannya. Pengabdi Tuan Bos menjadi terluka karena serangan dari Tuan D.


Liana, Steve dan Tri segera berlari dan berhasil keluar dari kamar kemudian terjebak lagi saat ingin keluar dari kastil.


"Drakula melawan manusia tentu kita akan kalah. Kita harus mencari tanah," ucap Tri


"Nona, kau dan Liana larilah keluar, aku akan menahannya disini,"


"Tanah?" tanya Liana tak mengerti dan ikut mencari akal.


"Pukuli saja dengan hiasan patung, bukankah itu terbuat dari tanah." ucap Liana seraya menunjuk patung yang terbuat dari tanah itu.


"Steve ambil patung itu dan pukul ke mereka," perintah Tri

__ADS_1


Steve menurut, ia menurunkan Tri perlahan, Liana merangkul Tri agar wanita itu tidak jatuh. Kemudian dengan kekuatan dalamnya mengambil hiasan yang berat itu dan memukulnya ke para drakula. Beberapa terkena pukulan hiasan itu dan terjatuh, dan beberapa lagi berhasil menghindari.


Tri yang masih lemah karena benturan di kepalanya membuatnya tak bisa banyak bergerak, ia hanya bisa memerintah, kemudian ia menyuruh Liana untuk mengambil remahan tanah dari patung itu.


"Liana ambil remahan tanah itu dan lemparkan ke mata drakula," bisik Tri yang masih di rangkul Liana.


Liana mengangguk kemudian melepaskan rangkulannya dan mengambil remahan itu kemudian melemparkan ke mata drakula. Dengan cepat mereka melakukan aksi mereka karena jika tidak mereka akan terjebak lagi.


Mereka bertiga berhasil keluar dari kastil tetapi Liana tiba-tiba berhenti.


"Ayo Liana tunggu apa lagi," ajak Tri yang dipapah Steve.


"Aku tidak bisa meninggalkan Tuan D sendirian," ucap Liana.


"Dia pria yang pernah kau ceritakan itu kan. Dia drakula, berbeda dengan kita." ujar Tri dan menggandeng tangan Liana.


Bruk


Terlihat Tuan D terluka tapi tak mengeluarkan darah merah segar. Warna darahnya berbeda dari manusia, berwarna hitam pekat.


"Tuan, kau terluka, sebaiknya Tuan juga pergi dari sini," ucap Liana. Tuan D segera beranjak berdiri di ikuti wanita itu.


"Apa kau tidak mendengar ku? ku bilang pergi dari sini!" Hardik Tuan D yang tak ingin Liana terluka. Tuan D terpaksa membentaknya agar Liana pergi demi keselamatannya sendiri.


Boscha datang kembali dengan wajah beringasnya dan tawa khasnya. Tuan D menghilang dan menjauh dari Liana agar Boscha tak menyentuhnya lagi. Lalu ia muncul kembali tepat di belakang Bos dengan melayang di udara menyeimbangi Boscha.


Kemudian Tuan D mengeluarkan kekuatannya ke arah Liana, kawannya dan bodyguard itu, mengirimnya ke suatu tempat dan bersamaan dengan itu Boscha melayangkan banyak beton dan menghantamkannya ke tubuh Tuan D. Liana melihat Tuan D tertimpa reruntuhan beton.


"Tuan D...." pekik Liana


Tetapi Liana tak tahu lagi bagaimana keadaan Tuan D setelah itu karena dalam sekejap Liana, Trivia dan Steve sudah berada di dalam pesawat jet yang disewa Tri.


"Hah kita sudah kembali ke pesawat. Steve bilang pada pilot itu kita segera pergi dari sini," perintah Tri.

__ADS_1


Steve menurut kemudian beranjak pergi menemui sang pilot. Terlihat tubuh Steve yang memperlihatkan roti sobeknya membuat pandangan Tri menjadi ngilu dibuatnya.


"Tidak Tri, Tuan D dalam bahaya! Turunkan aku, kau saja yang pulang," pinta Liana kemudian mencari pintu keluar pesawat.


"Liana, apa kamu tidak mendengar perkataannya? dia menyuruh kita pergi, mereka bukan tandingan kita," pekik Tri kemudian meringis karena sakit di kepalanya.


Steve kembali setelah menemui sang pilot, kemudian ia segera mengambil air minum dan menyerahkannya pada Tri.


"Nona Liana, sebaiknya menurut saja. Dan tolong jangan buat masalah lagi." ucap Steve yang duduk disamping Tri.


Liana masih menangisi Tuan D tetapi ia menurut dengan perkataan Steve seraya duduk ke kursi karena pesawat akan berangkat.


"Steve bisakah kau mengambil perban di laci, karena kemeja mu..." ucap Tri.


Steve langsung tersadar jika kemejanya sedikit bau darah babi.


"Oh baiklah maaf akan ku ganti," ucap Steve kemudian ia mengambil kotak P3K dibelakang kabin kemudian mengeluarkan kasa perban dan segera mengganti balutan kemeja tadi dengan kasa perban. Kemeja itu pun dipakai kembali meskipun terkena darah.


Perlakuan Steve pada Tri menarik perhatian Liana hingga terlontarkan kata dari bibir tipisnya, "Kalian seperti pasangan saja, sangat romantis,"


"Saya bodyguardnya dan sudah kewajiban untuk memperhatikan keselamatan Nona Tri, termasuk membalutkan perban padanya," ucap Steve yang mengandung ketegasan.


"Kalau begitu perhatikan aku juga, aku ingin minum tolong ambilkan," ucap Liana dengan mata yang masih sembab.


Segera Steve mengambilkan air minum untuknya, Liana minum dan bersandar di kursi pesawat, sambil menatap pemandangan luar lewat kaca.


Sore menjelang maghrib Liana terus memikirkan keadaan Tuan D. Wanita itu membenci dirinya sendiri yang tak bisa berbuat banyak pada pria itu.


"Liana kau menangisinya, apa kau jatuh cinta padanya?" tanya Tri dari seberang duduknya.


"Cinta? aku sendiri tidak tahu apakah aku mencintai drakula itu? tapi yang jelas, mulai sekarang aku akan menyerahkan hatiku untuknya meskipun dia bukan manusia,"


Liana mulai bucin😝

__ADS_1


__ADS_2