
"Yang memanggilku kesini adalah hatimu sendiri Trivia," ucap Lee tersenyum ramah meski ia tahu kehadirannya tak diharapkan.
"Aku tidak memanggilmu, dan tidak akan pernah memanggilmu. Mungkin terdengar seperti memanggil, tapi yang ku maksud adalah bukan panggilan kemari. Entahlah susah menjelaskannya," ucap Tri dengan juteknya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi. Maaf...Maaf untuk semuanya. Maaf aku pernah kehilangan akal saat aku berubah menjadi setengah manusia, hingga aku melukaimu dan bahkan ingin menghabisi nyawamu saat itu... itu bukan aku. Perubahan itu bukan keinginan ku. Aku juga tidak berharap seperti saat ini yang menjadi bagian dari drakula. Jika kemarahanmu padaku karena aku pernah melukai mu, sebaiknya kau butuh cermin. Hahaha Aku telah salah jatuh cinta pada seseorang. Jika aku bisa mematahkan cinta. Akan ku patahkan sekarang. Tapi anehnya cinta itu tak bisa patah meski terkikis karang. Dia tumbuh begitu kuat. Selamat tinggal Tri, semoga kau menemukan..." ucapan Lee terhenti karena tiba-tiba Tri menangis di pelukannya dengan sesegukan.
Liana tanpa sengaja ikut menangis melihat dua temannya itu. Sedangkan Lee dia sedih dan berusaha untuk tidak menangis. Tuan D datang menghampiri Liana kembali. Padahal dia sedang berada ditengah rapat dan meninggalkannya begitu saja karena mendengar Liana menangis
Cling.
"Liana kau kenapa?" Tanya Tuan D yang khawatir.
Liana terkejut dan tak menyangka dengan sikap Tuan D yang menjadi over. Sejak kapan dia terus menjadi pengawas sudah seperti CCTV yang berjalan.
"Aku tidak apa-apa hanya terharu melihat kisah temanku," jawab Liana berbisik
"Oh aku kira karena kau terluka. Ya sudah aku kembali kerja lagi," ucap Tuan D lalu pamit dan menghilang begitu saja.
whuuuuss.
"Astaga hanya hal sepele dia kemari ckckck," ucap Liana seraya menggelengkan kepalanya.
Trivia masih menangis, ia menyesal dengan perbuatannya saat itu bersekutu dengan Drakula. Namun kini Tuan Bos yang tak lain adalah Boscha telah musnah. Kutukannya pun musnah. Namun yang telah dihidupkannya tak dapat kembali dalam wujud manusia.
"Kenapa kau memelukku? Kau tak rela aku pergi? Atau kau merasa bersalah dan iba padaku?" Tanya Lee yang sebenarnya ia tahu jawabannya.
Ingin sekali ia memperbaiki hubungannya dengan wanita itu. Namun ternyata sudah tak ada cinta untuknya. Mungkin karena Lee datang kembali disaat yang tidak tepat.
__ADS_1
Trivia tak bisa berucap dia terus menangis dan sungguh-sungguh menyesali perbuatannya namun waktu tak bisa mundur. Lee melepaskan pelukan Trivia yang sangat kencang. Kemudian Lee memundurkan langkahnya dan menghilang dengan senyum yang dipaksakan.
"Liana, apakah aku terlalu kejam?" Tanya Trivia.
"Hemm kau bukannya kejam lebih tepatnya kau gegabah dalam mengambil keputusan. Kalau kejam itu orang yang tidak punya hati dan kau masih mempunyai hati. Buktinya kau tidak tega jika dia mati saat itu. Dan kau tidak tega membiarkan aku yang sudah dibawa masuk ke kastil Tuan Boscha," ucap Liana
"Tanpa kau bicara dia sudah tahu isi hatimu, apa kau lupa jika dia bukan manusia sekarang?" Timpal Liana
"Terimakasih Liana kau masih mau berteman denganku. Aku janji, aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti saat itu. Aku seharusnya tidak berlaku seburuk itu pada Lee. Aku terlalu terbawa emosi dimana dia akan memangsa ku hidup-hidup. Pikiran itu terus ada, padahal karena akulah dia seperti setengah manusia,"
"Hemm dia mendengarkan mu. Mungkin dia pergi karena hatimu telah terisi oleh Steve," ucap Liana yang diakhiri dengan terkaan.
"Hah? Maksudmu?" Tanya Trivia sembari menyeka air matanya.
"Kau tidak sadar jika Steve sudah menutupi ruang kosong mu," ucap Liana.
"Ruang kosong?" Tanya Trivia tak mengerti.
"Hehe Aku sedang tak ingin berpikir," ucap Trivia.
"Tidak perlu dipikirkan tapi bisa kau lihat dan rasakan disini (Liana seraya menunjuk mata Trivia), disini (Liana menunjuk bibir Trivia) dan disini (Liana menunjuk hati Trivia), satu lagi disini ( Liana menunjuk perut Trivia)," ucap Liana
"Kok di perut?" Tanya Trivia.
"Aku lapar makan yuk," ajak Liana.
"Hahaha astaga Lian, yaudah yuk," ucap Trivia yang kemudian mengiyakan ajakannya.
__ADS_1
Disisi lain, Lee bersedih di dalam rumahnya. Rumahnya gelap tanpa cahaya. Memang sengaja tak dihidupkan karena ia menyukai kegelapan. Dalam ruang gelap dan hampa. Bertambah pula hampanya ketika tahu cinta untuknya telah tiada.
Kini dunia yang berbeda harus ia jalani. Bukan pilihan hidupnya. Bukan pula pilihan Trivia. Ini adalah Takdir.
Seekor tikus, berjalan merangkak mengendap-endap di bawah meja makannya. Tikus itu selalu mondar-mandir di dalam rumahnya yang kecil dan dipenuhi dengan perabotan rumah tangganya yang banyak. Tikus yang tak pernah tertangkap dan sulit untuk mendapatkannya
Swuuusssh
Tikus itu ditarik oleh kekuatan yang dimiliki Lee, dalam sekali tarikan, tikus itu sudah berada dalam genggamannya. Dan siap untuk disantap hidup-hidup.
"Tikus hidup itu lucu. Saat aku masih menjadi manusia. Aku sangat membencimu, aku mencarimu, membuat jebakan untukmu, menangkap mu, memukulmu dengan sapu. Tapi kau selalu lolos dengan indah. Saat ini aku sudah menjadi drakula. Hanya sekali tangkapan saja dirimu sudah bisa ku genggam," ucap Lee yang kemudian mulai memakannya.
"Heemmm not bad, dari pada tak ada yang dimakan," ucapnya lagi setelah mengunyahnya.
Lee beranjak dari duduknya dan mulai menangkap tikus-tikus di dalam rumahnya. Dan terjadilah hal yang tak ia sangka sebelumnya. Selama ini ia mengira, tikus di rumahnya ada satu atau dua ekor saja. Tapi nyatanya saat ini Lee sudah menangkap 10 ekor tikus diantaranya 2 tikus paling besar, 5 anak tikus dan 3 tikus dewasa.
"Pantas saja, tikus di rumahku tak habis-habis. Dia selalu beranak, pergi entah kemana dan kembali dalam keadaan hamil. Hey tikus, kau seharusnya mengikuti program KB," Ucap Lee lalu terpikirkan olehnya untuk menjadi jasa penangkap tikus.
"Haha lumayan juga ya jika aku menjadi penangkap tikus, lalu tikus itu sebagian bisa ku makan, lalu sebagian tikusnya bisa ku jual lagi, ide cemerlang,"
Pria itu lalu membuka laptopnya dan mulai mendesain jasa penangkap tikus. Namun dipertengahan desain, Tuan D memanggilnya.
"Lee, awasi daerah utara. Aku mencium adanya provokasi sesama pengikut drakula. Cegah mereka jika berbuat onar," ucap Tuan D dengan telepatinya.
"Baik Tuan," ucap Lee yang sedikit kesal. Pasalnya dia baru saja membuat desain yang ada di pikirannya tapi kini hilang begitu saja.
Pria itu menuju arah Utara yang dimaksud Tuan D. Setibanya Lee disana, beberapa pengikut Ratu Bella mulai membelot.
__ADS_1
"Gawat, jumlah mereka lebih banyak dibandingkan kemarin," ucap Lee
Teror masih akan berlanjut