Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Love Is...


__ADS_3

Malam itu Liana menunggu kepulangan Tuan D di ruang tengah Kastil Drakula sembari bercerita dengan Ibu mertuanya.


"Haha Dimitri tidak hanya itu saja kejahilannya, dia juga pernah menyihir asistennya tidur diatas pohon ahh kenakalannya luar biasa membuat kita marah dibuatnya," cerita Ratu Bella seraya mengingat peristiwa Tuan D semasa kecil


"Astaga haha dia sangat nakal, tapi untung saja saat dewasa dia tidak senakal itu. Ah aku jadi merindukannya," ucap Liana


"Hemm dasar pengantin baru, baru saja ditinggal siang tadi sudah rindu saja haha," ujar Ratu Bella seraya membelai rambut Liana.


"Tidak bertemu sedetik saja aku sudah merindukannya Bu, apalagi beberapa jam ini ahh makin bertambah rinduku," ujar Liana


"Aku sekarang sudah disini, jadi...kau mau apakan aku sayang?" ucap Tuan D yang tiba-tiba datang dari belakang sofa tempat duduk Liana dan Ratu Bella.


"Wah yang ditunggu-tunggu sudah kembali, ya sudah ibu ke kamar ya mau istirahat. Kalian cepat ke kamar juga, dan buatkan cucu untukku," ucap Ratu Bella


"Iya Bu, ini lagi usaha haha nanti malam aku akan menyerang Liana dengan luncuran roket milik ku," ucap Tuan D


"Sayang... kau ini," ucap Liana sedikit malu.


"Kenapa malu Liana, sudah sewajarnya kalian suami istri yang sah sekarang. Selamat malam Liana anakku," ucap Ratu Bella seraya mengecup pipi Liana.


"Selamat malam bu," jawab Liana membalas ucapan selamat malam dan juga membalas kecupan di pipi Ratu Bella.


Setelah itu Ratu Bella masuk ke kamarnya, sedangkan Liana menarik Tuan D menuju taman bunga. Taman itu tak hanya dipenuhi dengan bunga-bunga saja melainkan banyak pohon-pohon yang mengelilinginya dan di sisi tepinya ada lampu redup membuat taman itu nampak indah.


"Sayang kau mau membawaku kemana?" Tanya Tuan D, tangannya masih digenggam Liana dan wanita itu sedikit menariknya.


"Aku mau kita disini," ucap Liana dan berhenti ketika telah sampai di tempat tujuannya.


"Melihat bunga... dimalam hari?" Tanya Tuan D


Liana menggelengkan kepalanya, kemudian kedua tangannya menyentuh rahang tegas milik Tuan D. Liana mulai mendaratkan bibirnya pada bibir suaminya. Membuat sentuhan lembut dengan mengusapkan bibirnya dengan bibir Tuan D. Lalu Liana mulai membuka bibirnya mengecup kecil-kecil.


Tuan D membalas kecupan kecil itu dan semakin lama kecupan itu semakin rakus. Permainan Lidah pun di lakukan hingga kenikmatan yang mereka rasakan membuat napas keduanya memburu.


"Liana ayo ke kamar," ajak Tuan D yang sudah tidak sabar untuk mengecup bagian lainnya.


"Aku mau kita melakukannya disini, mencari hal yang berbeda. Tidak ada yang akan melihatnya," ucap Liana


Tuan D sebenarnya enggan, bagaimana jika drakula lain melihatnya. Tapi dia bisa apa, dia hanya menuruti keinginan Liana, istri tercintanya.


Pria itu kini mengecupi leher jenjang istrinya seraya membuka kancing bajunya. Tuan D mulai membuka baju Liana belum secara keseluruhan namun tiba-tiba ada suara yang bercelatuk.


"Hey, kalian bisa melakukannya di kamar kan?" Seru seseorang dari atas pohon beringin yang ada di taman itu. Suara yang tak asing. Untung saja baju itu belum terbuka semuanya dengan cepat Tuan D menutup baju Liana kembali


"Lee," gumam Liana sembari membetulkan kancing bajunya


"Hemm Lee kau kenapa diatas pohon hah? Seharusnya malam ini kau bersama istrimu," ujar Tuan D.


"Ahh Aku...aku melakukan kesalahan," lirihnya.

__ADS_1


"Kesalahan? Memangnya kau apakan kak Arin?" Tanya Liana yang kemudian mendekat ke arah pohon.


"Kemarilah, turun dan ceritakan!" Titah Tuan D kemudian Lee turun dari pohon.


Mereka pun duduk di rumput hijau yang ada di taman. Tuan D sedikit kesal masalahnya roket miliknya sudah mengerang ingin disentuh.


Lee pun menceritakan permasalahannya terutama hatinya dan janjinya pada Kakek Ye.


"Kau itu sudah cinta dengan kakakku, hanya saja kau tidak menyadarinya," ujar Liana


"Ya, kau peduli padanya, juga kandungannya itu menunjukkan kau sudah mulai mencintainya. Dan ketika seseorang ingin membunuhnya kau amat sangat marah. Lee kau itu sudah masuk kedalam cintanya," jelas Tuan D


"Soal ucapan dan janjimu pada Kakek sebaiknya kau bicarakan pada kak Arin, sehingga kalian bisa cari solusi bersama. Jika kau menutupinya seperti itu hanya akan membuat kak Arin kecewa berat. Dia berusaha menyenangkan mu, menggoda mu seperti wanita yang butuh belaian tapi kau menolaknya. Wanita mana yang tidak akan malu, terlebih lagi kau sudah menjadi suaminya," ujar Liana sedikit kesal dengan Lee.


"Jadi... aku sudah mencintai Arin?" Tanya Lee dengan polosnya


"Kau ini... apa kau tahu apa artinya cinta?" Tanya Liana.


Lee hanya terdiam dengan kebingungan hatinya.


Liana kemudian mengambil buku miliknya dengan sihirnya. Beberapa saat kemudian buku itu sudah berada di tangannya.


"Wah kau semakin hebat sayang," Puji Tuan D


"Haha biasa aja sayang," jawab Liana sedikit malu.


"Ini ambillah, aku menemukan sebuah buku dan didalamnya ada kata-kata indah tentang cinta. Semoga kau bisa memahami perasaan mu dengan kak Arin saat ini," ucap Liana menyodorkan sebuah buku,.



"Cinta itu bukan apa yang dipikirkan, tapi cinta itu adalah yang dirasakan oleh hati, Azkha. Hemmm aku masih belum mengerti," ujar Lee kemudian ia mulai membaca lagi


"Aku tak pandai merangkai kata, ku bukan pujangga yang bisa membuat syair cinta...bagai pungguk merindu bulan hanya bisa memandang mu dari jauh tanpa bisa ku gapai dan selalu nama yang tersemat di setiap doa...Angel," gumam Lee seraya membaca isi buku tersebut.


'Entah sejak kapan nama Arin selalu ada di pikiranku dan aku ingin dia selalu bahagia dan aman terhindar dari marabahaya,' batin Lee


"Satu kata tidak akan mampu terucapkan, dalam merangkai manis nya kata, begitu juga dengan hatimu. Kau tercipta begitu sempurna hadir di dalam hidupku, Cinta itu memang sederhana, selalu sederhana. Terkadang hanya membutuhkan hal sederhana untuk memastikannya. Seperti itulah Cinta ku sederhana tapi penuh makna, from Meyi," ucap Lee kembali yang masih membaca tulisan di buku itu. Kalimat terakhir membuatnya tersenyum.


'Ya kau benar aku setuju dengan pendapat mu Mey, aku rela membersihkan rumah agar Istriku nyaman tinggal di rumahku, aku rela memasak untuknya hari ini, dan aku rela menikahinya bukan hanya karena ingin menjadi Ayah untuk calon bayinya namun aku ingin berada disisinya, melindunginya dan aku merasa...aku memiliki arti untuk hidup kembali karena kehadiran mu,' batin Lee kemudian ia menutup bukunya dan mengembalikannya pada Liana.


"Terimakasih Ratu ku, kini aku mengerti apa itu cinta....dan kalian lanjutkan saja bercintanya, aku akan pergi," ucap Lee seraya memberikan buku itu pada pemiliknya. Ia beranjak berdiri dan membungkukkan badan kemudian pergi menghilang.


Sementara di dalam rumahnya, Arin sedang mencuci piring. Wanita itu baru saja makan masakan Lee tadi siang. Rasa lapar membuatnya terbangun. Untung saja Lee masih meninggalkan makanan untuknya.


"Masakannya enak, ternyata dia pandai memasak, tidak sepertiku," gumam Arin masih membersihkan piringnya.


Tiba-tiba Lee datang memeluknya dari belakang membuat Arin terkejut. Jantungnya berdegup kencang dan dia tahu jika yang memeluknya itu adalah Lee.


"Kau bisa membuat terkena serangan jantung. Bukannya tadi kau bilang tidak mencintai ku, lantas untuk apa kau memelukku, pergilah," sergah Arin dan berusaha melepaskan pelukan Lee.

__ADS_1


Sebenarnya wanita itu senang dipeluk, namun mengingat perkataan Lee tadi siang membuatnya memilih untuk menghindar. Namun Lee terus mengeratkan pelukannya, ia pun meneteskan air mata penyesalan.


Arin merasakan ada air yang menetes di pundaknya, wanita itu memakai pakaian yang tanpa lengan, sehingga air mata Lee yang jatuh di pundaknya bisa ia rasakan. Arin mematikan pancuran air dari keran dan menghentikan aktivitas mencuci piringnya, seketika hening. Terdengar sedikit isakan dari pria itu.


"Kau.... kenapa?" Tanya Arin berusaha untuk tenang, ia kemudian berbalik dan kini dihadapannya terlihat seorang pria dengan wajah asia, menangis didepannya tanpa sepatah kata.


Arin ingin sekali mengusap air mata Lee, dan membelainya namun ada rasa enggan yang menghinggapinya. Lee memegang tangan Arin mengecup punggung tangannya dan berkata, "Pernikahan ini bukan kesalahan, tapi akulah yang salah karena tidak bisa melihat cinta di depan mata. Maafkan Aku...dan jangan tinggalkan aku," ucap Lee seraya menatap Arin lekat.


"A-aku mencintaimu mana mungkin aku meninggalkan mu," jawab Arin dengan wajah merona ia menundukkan kepalanya sedikit malu. Hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, Arin tidak pernah memiliki rasa malu pada seorang pria. Tapi berbeda dihadapan Lee. Pria itu mampu membuatnya tunduk.


"Aku baru menyadari cinta ku ada di depan mata ku," ucap Lee kemudian menaikkan dagu Arin mereka saling berpandangan sampai akhirnya sebuah kecupan membuat ikatan mereka menyatu. Malam itu Lee menyentuh Arin tanpa ada paksaan.


Lee menggendong Arin dan membawanya ke dalam kamar melakukan hasrat yang tertunda.



Beberapa jam berlalu, setelah bermain di ranjang pribadinya. Lee meminta ijin keluar sedari tadi ia menahan untuk tidak melahap Arin. Dan rasa keinginan itu semakin menggebu.


"Arin, aku keluar dulu ya. Rasanya aku ingin sekali mencicipi darahmu, tapi aku harus menahannya. Sementara Kau tidurlah sendiri sampai...argghhh," ucap Lee yang masih menahan gejolak jiwa drakulanya untuk tidak keluar.


"Ka-kau cicipi saja darahku, aku rela...," jawab Arin menyerahkan dirinya. Namun belum sampai Arin menyelesaikan kalimatnya Lee telah menghilang.


Dirinya mencari kantong darah, sisa darah pemberian Tuan D yang ia simpan di lemari pendingin yang lain. Lemari pendingin itu khusus menyimpan darah agar tidak membeku dan juga tidak busuk dan berada di ruang tengah.


"Ahhh, cukup minum ini saja," ucap Lee merasa sedikit lega.


Ia bersandar pada lemari pendingin tanpa balutan kain di tubuhnya, seraya meneguk darah dari kantong infus yang berisi darah.


Arin mencari keberadaan Lee di rumahnya, ia menemukan suaminya itu sedang meminum darah. Sama seperti Lee, wanita itu berjalan mendekati Lee tanpa kain yang melekat di tubuhnya. Area sensitifnya tidak perih, dia dapat berjalan berlenggak-lenggok tentu saja karena ini bukan yang pertama untuk Arin.


"Rupanya ini tempat penyimpanan mu?" Tanya Arin sembari melangkah pelan mendekatinya.


Lee menatap body goals yang berjalan mendekatinya. Jujur saja Lee selalu tergoda jika melihatnya. Setelah meneguk habis kantong darah itu Lee membersihkan mulutnya dengan air mineral yang juga ada di dalam lemari pendingin.


"Kenapa kau tidak memakai pakaian mu?" Tanya Lee seraya meletakkan kembali botol minum yang berisi air mineral ke dalam lemari pendingin.


"Aku....ingin lagi," ucap Arin meminta lagi dan lagi.


"Kau tidak lelah? Kita sudah melakukannya dua kali," ucap Lee yang sebenarnya juga masih ingin. Namun ia melihat kondisi Arin yang sedang mengandung. Sehingga ia pun mengurungkan niatnya untuk meminta lagi.


"Aku lelah namun untuk pria hebat seperti mu aku rela kelelahan. Kau berbeda Lee, aku menginginkan lagi," bisik Arin


Lee menarik Arin ke dalam pelukannya, tangan Lee dengan gemas meremas bokong semok milik Arin. Kemudian Arin memainkan tower yang masih berdiri dengan perkasa. Mereka berdua di ruang tengah tanpa kain yang membalut tubuh mereka.


"Mainkan lah sayang, aku akan memanjakan mu hingga pagi," sahut Lee dengan berbisik menggoda Arin.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ojo dibayangke ya

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣


__ADS_2