Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Teror Yang Meresahkan


__ADS_3

"Maaf tadi aku ragu terhadap mu, ternyata kau benar yang diluar itu bukan Tuan D," ucap Liana berbisik pada Lee agar Nenek tidak terbangun lagi.


"Iya Aku tahu, sulit percaya untuk orang yang tidak kau kenal. Sebaiknya aku berjaga diluar jika ada perawat yang masuk, aku dapat memastikan apakah dia benar-benar perawat atau bukan. Jangan buka pintu balkon lagi ya," ucap Lee.


Ia kemudian keluar dan memanggil sang ratu lewat telepatinya, Lee mengirimkan pesan jika anak buah Boscha berada di rumah sakit. Bos tau betul waktu yang terbaik untuk menyerang.


Ditengah kedukaan, sang Ratu dan beberapa pengikutnya datang ke rumah sakit untuk menghentikan penyerangan.


Sementara itu di kediaman Yuan Ye, mereka semua sangat takut hingga tak berani tidur di kamar sendirian. Akhirnya semua berkumpul di ruang tengah, mengunci semua pintu dan jendela dan memutuskan untuk tidur di ruangan itu.


Doni mengambil salah satu liputan terkini di televisi. Ia menyalakan televisi setelah mendapat kabar dari rumahnya jika rumah sakit yang di tempati Kakek Ye juga diserang.


"Paman... tante.... lihat berita ini, para drakula itu menyerang rumah sakit tempat kakek dirawat!" Pekik Doni seraya mengguncang-guncangkan tubuh paman nya yang sudah terlelap tidur.


Yuan Ye terbangun dengan segera dan memakai kacamatanya plusnya untuk melihat berita televisi. Meski dengan sedikit mengantuk tetapi rasa khawatir menyelimutinya. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Liana.


Liana mengangkat ponselnya dengan segera karena gadis itu belum tidur juga, semua grup chatnya berisi berita teror drakula.


"Hallo, Ayah?" Jawab Liana dari ponsel.


"Bagaimana keadaanmu disana, aku lihat berita yang membuatku khawatir," ucap Yuan Ye.


"Ya Yah, berita itu benar. Aku takut disini, sementara ini pengawal Tuan D sedang berjaga didepan," ucap Liana dengan gemetaran.


"Lalu di mana Tuan D? Kenapa dia tidak menjagamu?" Tanya Yuan Ye.


"Entah Yah, mungkin dia sudah tidur," ucap Liana.


"Ayah juga tidak bisa kesana untuk saat ini. Saat perjalanan pulang tadi Ayah dan yang lainnya juga diserang drakula. Arin kakakmu terkena cakaran salah satu drakula. Sedangkan Ibumu terus saja mengoceh karena takut Arin menjadi drakula.

__ADS_1


Lian Ayah mengharapkan mu untuk menjaga Kakek dan Nenek disana ya," ucap Yuan Ye dengan sedikit cerita yang malah membuatnya tertawa.


"Haha dasar Ibu, dia terlalu paranoid. Iya Ayah aku akan selalu menjaga Kakek dan Nenek. Kakek belum sadar sedari operasi sedangkan Nenek dia masih tidur," balas Liana seraya menatap Neneknya dengan tersenyum.


Setelah percakapan yang lumayan lama, mereka akhirnya mengakhiri pembicaraan.


Liana membenarkan selimut Nenek yang kakinya tidak terselimuti. Kemudian ia pergi ke toilet yang berada didalam kamar itu. Perlahan Nenek membuka matanya setelah Liana masuk kedalam kamar mandi.


"Bayangan hitam itu, dan Lee siapa dia? Liana ada dalam bahaya! Drakula itu kembali. Jika saja tadi aku tidak terbangun dan mengusir bayangan hitam itu dengan segera. Mungkin saja Liana sudah terbawa olehnya. Kekuatan Lee tidak dapat menandinginya. Aku masih penasaran siapa Lee apakah dia drakula atau dia juga penyihir?" Batin Nenek yang sebenarnya sudah terbangun sejak tadi dan mengusir bayangan hitam itu.


Liana dan Lee berpikir jika Lee lah yang mengusir bayangan hitam itu. Nenek kemudian berdiri tegap, ia mengumpulkan semua energi yang telah lama terkubur. Kedua tangannya menyatu dan diangkat keatas.


"Nenek sedang apa?" Pekik Liana yang mengagetkan Neneknya


"Haduh Liana bagaimana ini aku kan mau mengeluarkan kekuatanku," batin Nenek.


"Nenek mau ke toilet Lian, tetapi ada kamu didalam sehingga tadi nenek menarik urat sembari menunggumu, tidur di sofa sangat tidak nyaman," keluh Nenek Anie yang berbohong sedikit.


Di dalam toilet itu Nenek pun beraksi, sedikit lama karena sudah lama tidak menggunakannya bahkan Neneknya salah salah menyebut mantra.


"Haduuh apa ya mantranya, kenapa jadi pikun begini," ucap Neneknya.


Hampir setengah jam Nenek berada di dalam toilet, dan membuat Liana khawatir. Kemudian Liana mendekat di pintu dan berbicara padanya.


"Nek ... nenek? Nenek baik-baik saja kan?" Tanya Liana.


"Iya Nenek baik-baik saja, sudah jangan khawatirkan nenek. Nenek mau semedi dulu," ucap Neneknya yang berkata benar namun Liana menganggap arti semedi adalah buang air besar hingga ia terkekeh.


"Haha iya nek baiklah, selamat bersemedi hihi," ucap Liana kemudian duduk kembali di sofa memainkan ponselnya.

__ADS_1


Media sosial masih heboh dengan teror drakula di Bukares. Pacar Doni yang berada di luar kota pun sampai meneleponnya di pagi-pagi buta itu.


"Halo sayang, kamu aman kan disana?" Tanya pacar Doni.


"Iya Aku disini baik-baik saja tapi tadi sempat dikejar-kejar drakula," ucapnya.


"Hah trus darah kamu gak diisep kan?" Tanya pacarnya lagi.


"Enggak sayang, aku maunya kamu yang isep," ujarnya.


"Ih apaan sih, aku serius!?" ucap sang pacar.


"Sayang, umpannya nih, kalau aku jadi drakula kamu masih mau sama aku gak?" Tanya Doni tiba-tiba, pertanyaannya itu di dengar oleh Arin dan membuatnya tertawa.


Doni segera mengambil bantal dan melemparkannya ke wajah Arin dengan kesal.


"Jujur ya Don, Aku emang sayang sama kamu, Aku cinta, tapi kalau kamu jadi drakula, ya Aku gak mau lah sama kamu, aku akan cari cowok lain," jawab sang pacar dari seberang sana yang membuat hati Doni tersayat.


"Kamu jahat ya, padahal kalau kamu jadi drakula, aku rela loh kamu isep. Ternyata cinta kamu gak seutuhnya buatku," ucap Doni yang kemudian mematikan ponselnya.


Ia benar-benar kesal karena pacarnya akan memutuskannya jika Doni menjadi drakula. Padahal itu hanya sebuah perumpamaan.


"Ciee yang patah hati haha," goda Arin.


"Eh apa bedanya sama kamu, kamu bahkan sudah diputus haha," jawab Doni dengan tawa senangnya.


Arin kembali marah dan mereka kemudian saling melempar bantal. Sementara Dona asik dengan ponselnya sembari mendengar lagu dari headsetnya.


Yuan Ye duduk di meja makan dan fokus pada layar di laptopnya. Ia menyuruh anak buahnya untuk menyusun laporannya kembali dan mengiriminya dalam bentuk file berjaga-jaga jika rapatnya dilakukan secara online. Sedangkan Raline kedapur, membuatkan kopi untuk suaminya itu.

__ADS_1


"Bu maaf, persediaan makan kita sudah menipis. Jika teror ini semakin berkepanjangan apa tidak sebaiknya besok kita membelinya sebelum semuanya semakin parah," ucap asisten rumah tangganya dari dapur.


Tentu saja ia mempunyai pikiran seperti itu karena efek dari film yang pernah di tontonnya. Raline juga sedikit berfikir bagaimana jika itu benar-benar terjadi.


__ADS_2