
Di Kediaman Yuan Ye, setelah Liana berhasil memberi kabar kepada Ayahnya jika malam itu drakula akan kembali menyerang. Tuan Ye menyembelih salah satu domba, hewan ternak miliknya dan menebarkan darah hewan itu mengelilingi halaman rumahnya. Ia melakukannya untuk menyamarkannya dari serangan drakula.
Selain itu Yuan Ye juga mematikan listrik yang ia miliki dan pergi keruang bawah tanah yang belum pernah ia gunakan saat itu. Padahal Yuan Ye tidak perlu melakukan itu karena Nyonya Mary telah memasang portal pelindung di rumah Yuan Ye, Liana dan rumah sekitarnya.
Arin yang baru saja pulang dan melihat rumahnya gelap gulita kemudian menyalakan lampu. Tak biasanya rumah sepi, ia pun memanggil Ayah, ibu dan kedua sepupunya seraya mengelilingi rumah mencari keberadaan mereka.
"Ayah, Ibu, kalian dimana?" Pekik Arin.
"Hello...anybody home?" seru Arin.
Portal yang dipasang Nyonya Mary terbuka karena Arin masuk ke dalam rumah. Dirinya yang hamil diluar nikah membuat sihir portal ghoib itu menjadi terputus.
Wanita itu juga tidak menutup kembali rumahnya, ditambah suara teriakannya yang menggema mengundang telinga drakula jahat untuk masuk kedalam.
Saat hendak menaiki tangga menuju kamarnya, ada satu drakula yang menghadangnya di anak tangga.
"Aaaa, siapa kau!" Jerit Arin dan berlari mundur.
Terlihat pakaian drakula yang berwarna terang itu telah basah terkena tetesan darah. Gigi taringnya keluar mengerikan. Mulutnya meneteskan sisa darah yang membuat Arin bergidik.
Raline yang mendengar teriakan ingin keluar menyelamatkan putrinya. Namun Yuan Ye mencegahnya dan berbisik, "Aku yakin Arin bisa menyelamatkan dirinya, tetaplah disini,"
"Tapi," bisik Raline yang kemudian Yuan Ye menutup mulutnya dengan satu jarinya serta membelalakkan matanya agar wanita itu tidak berbicara.
"Astaga, baru saja aku bertemu drakula sekarang aku bertemu dengan drakula lagi. Tapi kelihatannya yang ini lebih menyeramkan dan jahat," batin Arin.
Drakula itu melayang dan mendekat ke tubuh Arin. Arin terus berlari hingga dirinya terjatuh menabrak kaki kursi ruang makan. Dengan cepat ia berdiri namun drakula itu meraih pergelangan kakinya.
Arin terus menendang kakinya agar cengkeraman tangan drakula itu lepas. Arin melihat pisau yang berada di atas mangkok buah yang ada di meja makan itu. Ia lantas menarik taplak meja ruang makan hingga mangkok yang berisi buah dan pisau itu terjatuh. Segera mengambil pisau lalu menusuk-nusuk pergelangan tangan drakula itu.
Akhirnya drakula jahat itu melepas cengkeraman tangannya. Arin berlari lagi dan menuju gudang dimana perkakas tersimpan.
__ADS_1
Malam itu teror kembali melanda kota Bukares. Satu persatu Tuan D memusnahkan drakula jahat, ada yang beberapa menjadi setengah manusia. Dan Tuan D menjadikannya pengikut baru.
Setelah mengantar Arin pulang, Lee membantu Tuan D. Ia berada di depan Tuan D mengawalnya. Tak banyak luka yang ia terima. Tidak lebih sakit dari luka cinta yang ia rasakan.
"Cukup Lee, kau bisa saja musnah!" ucap Tuan D seraya membawa Lee ke tempat aman.
Pangeran drakula itu yang melarangnya untuk berhenti membantunya.
"Biarkan aku musnah Tuan, aku sudah tak punya hidup. Apa yang ingin rajut, dia sudah bersama yang lain," ucap Lee dengan sedih diwajahnya. Ia tampak seperti drakula yang tak memiliki tujuan.
"Jika kau ingin mati kenapa tak dari dulu, sia-sia aku menjadikanmu pengikut ku. Aku tak butuh pengikut yang lemah sepertimu," ucap Tuan D sengaja mengatai Lee agar ia bangkit berdiri.
"Aku tidak lemah, aku bisa melindungi mu Tuan. Akan ku tunjukkan kehebatan ku," ucap Lee yang kemudian pergi tetapi di tahan oleh Tuan D.
"Cukup, jika kau ingin melindungi ku. Pulanglah sekarang, dan kembali jika lukamu telah pulih," ucap Tuan D
Drakula membutuhkan beberapa jam untuk mengobati lukanya. Ia juga membutuhkan asupan darah, agar kekuatannya semakin menguat.
Tuan D lalu mengirimkan Lee ke tempatnya untuk istirahat. Tetapi bukannya mengirimkan Lee ke rumahnya, melainkan ia mengirimkan Lee ke tempat Arin.
Arin berhasil membuka gudang yang berisi barang-barang benda tajam pertukangan. Namun Drakula itu melayang dan berhasil menarik lengan Arin kedalam dekapannya.
Saat drakula jahat ingin menghisap darah wanita itu. Lee datang dari arah belakang dan menusukkan pedang tajam yang panjang lewat punggung drakula jahat itu dan menembus jantung hatinya..
"Aaaaargghh," pekik drakula jahat kesakitan dan jatuh ke pelukan Arin, wanita itu segera mendorong tubuh drakula itu hingga jatuh terlentang.
"Kau baik-baik saja? Apakah dia menggigit mu?" Tanya Lee tetapi ia langsung mendapat pelukan dari Arin.
Arin merasa senang karena Lee datang khusus untuk menolongnya. Bertambah besarlah kepalanya, padahal Lee ketempat itu karena Tuan D yang mengirimnya untuk menyelamatkan Arin.
Lee mengeluh kesakitan karena Arin menyentuh lukanya. Pakaian Lee sangat kotor dipenuhi oleh darahnya sendiri. Darah yang berwarna merah kehitaman. Bahkan warna merah itu sendiri hampir tak terlihat.
__ADS_1
"Kau terluka, apakah kau juga diserang drakula jahat itu?" Tanya Arin tetapi tak dijawab oleh Lee.
Pria itu terduduk lemah, seraya mengatur napasnya. Wajahnya semakin terlihat pucat dan seperti kehausan.
"Aku butuh darah," ucap Lee
"Da-darah," ucap Arin seraya memegangi lehernya.
"Aku tidak akan mengubahmu, jika ada darah hewan maka...," ucapan Lee terputus ketika ia melihat Arin mengambil pisau dan dengan nekat menyayat telapak tangannya.
"Hisap lah, jika kau hisap lewat ini aku tidak akan menjadi drakula kan?" Tanya Arin
Lee benar-benar tak habis pikir dengan perempuan didepannya ini. Dia menyayat telapak tangannya sendiri dan darah segar itu menetes membuat Lee tak bisa menahan godaannya. Namun jika ia menghisap darah wanita itu. Ia akan musnah tanpa persetujuan Tuannya.
"Aku tidak bisa meminum darahmu, Kau hanya akan menyakiti tanganmu," ucap Lee
Kemudian Lee merobek kemejanya dan membalutkan luka di tangan Arin. Wanita itu meringis kesakitan menahan lukanya.
"Kau tidak minum darah manusia?" Tanya Arin yang dijawab gelengan kepala oleh Lee.
Arin kemudian teringat jika ada darah yang hewan yang mengitari rumahnya. Ia pun mencari keberadaan hewan yang baru saja di sembelih itu. Benar saja dibelakang rumahnya masih ada hewan yang belum dibersihkan darahnya. Juga ada darah di mangkuk besar yang ditaruh di lantai. Arin segera mengambil mangkuk berisi darah itu dan memberikannya pada Lee.
"Ini minumlah, ada sisa darah hewan yang baru disembelih," ucap Arin menyodorkan mangkuk pada Lee.
Lee meraihnya dan segera meminumnya. Ia pun menatap Arin yang ternyata punya sisi kebaikan. Setelah meminumnya Lee membersihkan sisa darah di mulutnya dengan pakaiannya yang sudah kotor.
"Aku akan mengambil pakaian bersih untukmu, ukuran badanmu seperti Doni saudaraku, sebentar ya," ucap Arin
Lee menghentikan langkah Arin dan berucap, "Namaku Lee, terimakasih,"
Baru pertama kali ini Lee menyerahkan senyumannya dengan senang hati pada Arin. Wanita itu melunak dengan gampangnya.
__ADS_1